Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 58


__ADS_3

"Aku duluan ya Sya, keburu Daddy nelpon lagi. Hati-hati, jangan deket-deket sama buaya lepas kandang, bahaya." Ucap Ica dengan maksud menyindir Brian, dan jelas saja Brian merasa tersindir.


"Siapa yang kamu bilang buaya lepas kandang? Aku bukan buaya."


"Bodo, aku duluan ya Sya. Bye.." Ica pun pergi dari kantin, menyisakan Risya dan Brian yang saling berhadapan.


"Napa Lu liatin gue segitu nya?" Tanya Risya ketus pada Brian.


"Gue penasaran, napa Ica mau temenan sama Lu, dari segi penampilan aja Lu jauh beda sama Ica."


"Gak usah mandang fisik ya, gue emang gendut dan culun, tapi seenggak nya gue tulus berteman! Gue gak tau kenapa Ica mau temenan sama gue, tanyain aja sendiri." Sewot Risya, dia selalu tersinggung jika ada yang menyinggung soal fisik nya.


"Gak gitu maksud gue Sya, gue cuma heran aja. Ica yang makan nya banyak aja badan nya masih bagus, lah Elu? Makan nya dikit tapi badan Lu.."


"Cukup, lebih baik Lu pergi. Ngerusak mood aja!" Usir Risya.


"Dengan senang hati, lagian buat apa gue disini. Ica aja dah pulang.." Brian dengan santai nya pergi tanpa menghiraukan ekspresi Risya yang terlihat sendu.


"Gendut itu bukan mau gue! Gue juga udah berusaha diet dan olahraga, tapi belom ada hasilnya."


....


Ica sedang dalam perjalanan menuju perusahaan Zen, gadis itu terus tersenyum sepanjang jalan saking bahagia nya.


Hari ini, entah ke berapa kali dia berkunjung ke perusahaan Daddy nya.


"Siang kak.." Sapa Ica pada receptionist yang sedang berjaga di meja pendaftaran.


"Siang Nona."


"Apa Daddy ada? Ohh maksud saya Tuan Zen ada?" Tanya Ica. Entah kenapa, receptionist itu malah terlihat gugup dan salah tingkah mendengar pertanyaan Ica.


"A-ada Nona.." Jawab nya,


"Makasih kak, kalau begitu Ica ke ruangan nya dulu." Ica pun melenggang pergi menjauh dari meja receptionist, lalu masuk ke dalam lift.


"Aduhh, gimana ini? Apa yang akan terjadi dengan tuan Zen sama Nona imut itu?" Gumam nya sambil menggigiti kuku jari nya.


Kebetulan Asisten Bimo lewat dan receptionist itu segera menghentikan nya, sebelum terlambat.


"Pak.."

__ADS_1


"Ada apa?"


"Gawat pak, Nona Ica datang dan di ruangan tuan Zen sedang ada.." Belum selesai perempuan penjaga meja pendaftaran itu bicara, Bimo sudah keburu berlari meninggalkan nya. Seolah dia tau akan terjadi sesuatu yang tak baik.


Ica baru saja keluar dari lift dan melangkah riang menuju ruangan Zen, dia memutar knop pintu dan membuka nya secara perlahan.


Mata nya membeliak saat melihat pemandangan yang tersaji di depan mata nya. Zen tengah memangku seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Rosa!


"Dad.." Panggil Ica lirih, sontak saja kedua orang itu melepaskan ciuman mereka. Rosa mneatap Ica dengan senyum puas nya, sedangkan Zen langsung berdiri dari duduk nya tanpa mempedulikan posisi Rosa, hingga membuat wanita itu terjatuh mencium ubin marmer.


"Baby.." Zen mendekat ke arah gadis nya, Ica menatap Zen dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Sekuat apapun dirinya, jika di suguhkan pemandangan yang menyesakan dada, wanita mana yang rela? Takkan ada wanita yang mau melihat hal semacam ini, termasuk Ica.


"Apa maksud semua ini Dad? Daddy tak menginginkan kehadiran ku lagi, karena Rosa sudah kembali?" Tanya Ica, air mata nya luruh begitu saja menuruni pipi mulus nya.


"Tidak begitu sayang, tolong jangan menangis. Aku mohon.." Zen mengusap air mata Ica dengan tangan nya, lalu meraih Ica kedalam pelukan nya.


"Daddy masih sangat membutuhkan mu, kehadiran mu sangat penting untuk Daddy, jangan pernah berfikir seperti itu lagi sayang!" Tegas Zen. Pria itu melerai pelukan nya dan mengecup singkat kening gadis nya.


"Lalu apa semua ini Dad? Aku butuh penjelasan!"


"Nanti Daddy jelaskan di rumah sayang, Daddy minta maaf." Ucap Zen, pria itu kembali memeluk Ica dengan mesra, tanpa peduli ada Rosa yang menyaksikan semua nya.


Tanpa Zen tau, Ica tersenyum penuh kebanggaan. Dia bahkan memberi kode dengan jempol yang dia balikan, pertanda lemah atau payah ke arah Rosa, membuat emosi wanita itu meradang.


Plak..


Suara tamparan menggema di ruangan Zen, pria itu menganga saat melihat sisi lain dari gadis nya.


"Berani sekali mencium Daddy di depan ku, ayo lakukan sekali lagi." Tantang Ica, sedangkan Rosa memegangi pipi nya yang memerah dengan cap lima jari yang tercetak jelas di pipi kanan nya.


"Zen, lihat gadis seperti apa yang kau pilih, dia tak lebih dari gadis tak bermoral." Teriak Wanita itu dengan berapi-api.


"Kau pantas mendapatkan nya, bahkan lebih." Jawab Zen.


Tak lama, Asisten Bimo datang membuka pintu dengan nafas yang tak beraturan, pria itu pasti habis berlari.


"Darimana saja kau Bim? Selalu menghilang saat aku butuhkan!"


"Maaf tuan, saya sedang makan siang tadi." Ucap Bimo.


"Bawa wanita ini keluar dari ruangan ku, aku muak melihat nya berakting."

__ADS_1


Bimo mengangguk dan bersiap menyeret wanita itu, tapi Ica membisikan sesuatu yang membuat Rosa kembali naik pitam.


"Jangan kau pikir aku hanya gadis lemah, aku bisa saja membongkar kedok asli mu sekarang juga." Bisik Ica. Wanita itu bersiap menampar Ica, tapi tangan gadis itu lebih gesit menangkis tangan Rosa.


Ica memelintir tangan Rosa ke belakang, hingga membuat wanita itu memekik kesakitan.


"Jangan berani menyentuh ku, atau kau tau akibat nya!" Ica menghempaskan tangan Rosa dan menepuk-nepuk tangan nya.


Zen masih menganga di tempat nya, dimana Ica yang biasa nya manis dan lembut itu? Ica terlihat seperti orang lain jika dia marah.


Bimo menyeret paksa wanita itu, sedangkan Ica sengaja memeluk Zen, menunjukan kalau dia yang memiliki Zen saat ini.


Tapi, setelah pintu tertutup dan wanita itu sudah pergi, Ica mendorong Zen cukup kuat hingga membuat pria itu terhuyung.


"Jadi Daddy menyuruh ku datang kesini untuk melihat kelakuan Daddy bersama mantan Daddy?" Tanya Ica datar.


"Tidak sayang, kedatangan wanita itu tiba-tiba bahkan Bimo pun sedang makan."


"Lalu, ciuman tadi?"


"Dia memaksa Daddy.."


"Daddy menikmatinya?" Tanya Ica lagi.


"Tidak sayang, demi apapun Daddy tak menikmati nya."


"Lalu?"


"Maafkan Daddy.."


"Ganti baju mu dan gosok bibir mu dengan sikat gigi, atau Daddy tak bisa mencium ku sebulan kedepan?"


"Iya sayang, Daddy gosok sekarang." Zen pergi dengan terburu-buru dan masuk ke kamar mandi.


"Pelakor sialan, ulat bulu, kecoa terbang! Mau main-main sama neng Ica ya," Gumam Ica lalu mendudukan pantatt nya di sofa.


Mereka tidak tau saja kalau Ica bisa bela diri, hanya saja dia akan menggunakan nya untuk menjaga diri dan tak menunjukan nya pada sembarang orang.


Kejadian beberapa bulan lalu, saat dia di kejar sekelompok berandalan dan di tolong Zen adalah buntut dari kejadian dua hari lalu, dimana Ica menghajar salah satu pria itu hingga babak belur, dan hasilnya pria itu dendam dan mengajak teman nya untuk melecehkan Ica.


Sebenarnya dia mampu menangani pria itu, tapi saat itu dia sedang tak enak badan, jadi lari adalah jalan terbaik dan dia di pertemukan dengan Zen.

__ADS_1


....


🌷🌷🌷


__ADS_2