Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 94


__ADS_3

Bimo membaringkan gadis nya di ranjang dengan perlahan, gadis itu melepaskan tangan nya dan membenarkan posisi nya.


Bimo melonggarkan dasi nya, lalu membuang nya bersama dengan jas dan kemeja nya.


Hani menelan ludah nya, tubuh Bimo begitu menggiurkan untuk di lewatkan, dia selalu di buat menjerit saat pria itu di atas nya.


Bimo merangkak menaiki ranjang dan menindih tubuh Hani yang masih di balut pakaian rumahan ala kadar nya, daster selutut kesayangan nya.


"Maaf kalau bau asam." Ucap Hani saat pria itu menatap nya penuh damba.


"Tak masalah, kamu selalu wangi untuk ku." Jawab Bimo, pria itu langsung memulai pemanasan dengan bermain-main di leher gadis nya, menciumi, menyesap nya hingga meninggalkan banyak bekas kemerahan menghiasi leher nya.


Tangan Bimo membuka kancing daster Hani, meraba dalam nya dan tak lama mengeluarkan buah kenyal nya.


Permainan nya berpindah ke dada, Bimo melakukan hal yang sama, membuat banyak tanda merah hampir memenuhi kedua buah nya.


"Eenngghhh.." Hani melenguhh pelan, dia sudah sangat bergairahh padahal permainan sesungguh nya belum di mulai.


Bimo bangkit dari tubuh Hani, menyibak daster gadis nya hingga ke dada, dia juga menurunkan segitiga nya, lalu membuka celana nya sendiri.


Wajah Hani memerah saat melihat senjata laras panjang yang siap bertempur, bahkan urat-urat nya terlihat menonjol.


"Masih malu melihat senjata ku, Honey?" Tanya Bimo, dia menangkap wajah gadis nya, mengecup singkat kening nya dengan lembut.


Bertambah merah saja wajah Hani di buat nya, rasa nya malu saja jika melihat nya sedekat ini, padahal biasa nya dia tak pernah begini.


Belum selesai dengan rasa malu nya, dia di buat memekik saat kepala pria itu tenggelam di bagian bawah tubuh nya.


"Aaahhhh.." Hani mendesaah hebat, Bimo selalu bisa membuat nya menjerit nikmat.


"Sudah, aku sudah tak tahan lagi. Lakukan lah cepat." Pinta Hani, nafas nya tersengal karena sensasi permainan lidah pria itu di inti nya.


"Sesuai permintaan mu sayang, tapi kalau sudah masuk, milik ku takkan bisa berhenti jika belum puas."


"Terserah kau saja, cepatlah." Pinta Hani lagi, miliknya masih berkedut menunggu penyatuan.


Bimo tersenyum simpul saat melihat wajah gadis nya, keringat membanjiri kening nya, padahal belum apa-apa, baru pemanasan.


Dia segera menyatukan milik nya dengan cepat, membuat gadis itu memekik pelan saat semua nya masuk sempurna.


"Kaget?" Tanya Bimo, gadis nya bergerak-gerak saat senjata nya tenggelam.


"I-iya, ini kan sudah seminggu sejak penyatuan terakhir." Jawab Hani dengan memalingkan wajah nya, karena wajah nya yang memerah seperti tomat.


Bimo mulai bergerak maju mundur perlahan, setelah datang bulan, inti gadis nya terasa semakin sempit. Bimo terus bergerak, mulut nya tak berhenti memuja inti sang gadis yang menjepit senjata nya.


"Kamu selalu bagus sayang.." Racau Bimo sambil terus bergerak memacu tubuh nya.


"Ini sangat nikmat, aku bisa melakukan nya sepanjang malam."


"Jangan, itu akan membuat inti ku sakit." Hani menolak keinginan Bimo yang ingin bercintaa semalaman.

__ADS_1


"Kita lihat nanti, apakah kau bisa menolak sentuhanku?" Bimo menyeringai nakal menatap gadis nya, hingga kepala nya menyuruk di ceruk leher Hani, menggigit leher itu dengan manja.


"Aaawwwshhh.." Hani melenguh, karena pria itu terus menggigiti leher nya, belum lagi milik nya yang terus keluar masuk di bawah nya, membuat Hani mendesaah terus sepanjang permainan.


....


Bimo meraih pelepasan nya, dia berguling ke samping, memeluk tubuh polos gadis nya dengan erat.


Dia kembali melancarkan serangan maut di bagian sensitif gadis nya, membuat Hani mau tak mau kembali bergairaah dan itu adalah kemenangan bagi Bimo, Hani memang tak bisa menolak sentuhan nya, meski pun dia bilang tak mau melakukan nya lagi.


Bimo benar-benar mewujudkan keinginan nya untuk bercintaa semalaman, hingga Hani baru bisa tidur jam 3 dini hari.


Bimo tersenyum dan membawa gadis nya ke dalam dekapan hangat nya, mereka tidur dengan saling berpelukan mesra.


...


Zen terbangun saat sinar matahari yang mengintip dari celah gordeng, membuat Zen harus membuka kedua mata nya.


"Daddy.."


"Ohh ya By, kenapa?" Tanya Zen, saat melihat gadis nya ternyata sudah terbangun lebih dulu.


"Laper.." Ica mengusap perut nya yang keroncongan.


"Tunggu sebentar, mau sarapan apa By?"


"Bubur ayam 4 porsi."


"Kenapa?" Tanya Ica heran, biasanya dia makan segitu kan?


"Yakin 4 porsi sayang?"


"Yakin Dad, laper banget soalnya."


"Iya, Daddy telepon Bimo dulu." Zen merogoh saku celana nya, mengambil ponsel dan membuka sandi ponsel nya.


Belum sempat pria itu menghubungi Assisten nya, Bimo keburu datang dengan menenteng satu paperbag berisi pakaian ganti nya dan Ica, juga dua kantong kresek, yang bisa di tebak isi nya bubur ayam.


"Tuan, ini pakaian ganti untuk tuan dan Nona. Ini untuk sarapan nya, saya beli di restoran langganan anda."


"Bubur ayam Cik? Berapa porsi?" Tanya Zen datar.


"4 porsi tuan."


"Wahh kok Asisten Daddy kayak bisa denger obrolan orang lain ya? Daddy belum pesen tapi udah keburu dateng dan porsi nya pas." Puji Ica, membuat Zen menatap tajam sang assisten dengan mata elang nya.


Bimo yang melihat tatapan tak biasa dari tuan muda nya itu menelan ludah nya kasar, dia takut ini semua akan berpengaruh pada bonus akhir bulan nya.


"Nona bisa saja, mungkin hanya kebetulan."


"Nyengir, keluar sana. Sebel liat muka Lu Bim." Celetuk Zen, mengusir Bimo hanya karena cemburu saat gadis nya memuji Bimo.

__ADS_1


"Baik tuan, apa tuan akan ke kantor hari ini?"


"Lihat saja nanti, cepetan keluar." Usir Zen lagi, membuat Bimo keluar dengan terburu-buru dan menutup pintu nya perlahan.


Ica tersenyum saat melihat wajah cemburu Zen, pria itu malah terlihat menggemaskan ketika sedang marah, berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan kalau Zen marah sangat menakutkan, tapi menurut Ica malah sebaliknya.


Zen mengambil kresek berisi bubur dan mulai menyuapi gadis nya, bahkan meniup nya dulu sebelum memberi nya pada Ica.


"Satu untuk Daddy, 3 untuk Ica. Deal Dad?"


"Kalau kamu gak kenyang, bisa makan punya Daddy."


"H-hah maksudnya? Terong ungu itu takkan membuat aku kenyang, hanya mual saja." Zen melongo, kenapa Ica mengarah ke arah sana? Yang di maksud Zen kan bubur milik nya, bukan milik nya yang lain.


"Maksud Daddy bubur nya sayang, bukan milik Daddy si terong ungu."


"Ohhh.." Jawab Ica membulatkan mulut nya, tapi tak lama dia malah tertawa, pikiran nya ternyata sangat mesumm, ini adalah pengaruh dari Zen. Pria itu yang membuat nya menjadi gadis mesoom.


"Kamu mesoom ya By."


"Ya kan Ica salah Dad, Ica kira milik Daddy yang itu."


"Sudahlah, lebih baik kamu makan dulu ya. Habis ini Daddy harus ke kantor, gapapa ya?" Tanya Zen melanjutkan acara menyuapi Ica.


"Gapapa Dad, ngantor aja. Tapi Ica pengen ada yang nemenin disini, Ica jenuh nanti."


"Telpon saja teman mu By, Hani atau Risya. Tapi jangan Brian atau Azwar, jangan undang mereka kesini kalau tak ada Daddy!" Tegas Zen.


"Iya Dad, Risya pasti kuliah. Jadi Ica sama Hani aja, tapi ponsel Ica hilang Dad."


"Pakai milik Daddy."


"Nanti kalau ada klien yang nelpon terus penting gimana?" Tanya Ica.


"Tak usah mengkhawatirkan hal yang tak perlu." Jawab Zen, sambil mengusap lembut kepala gadis nya.


"Ica gak punya nomor nya Dad."


"Ada kok, Daddy punya dari anak buah Daddy."


"Huhh Ica lupa kalau Daddy bisa apa saja."


"Pacar mu ini selain tampan, tapi juga berkuasa sayang." Bangga Zen.


"Baiklah, Daddy sangat tampan dan kaya."


"Gitu dong." Zen mencium pipi Ica yang masih lebam, hingga mengunyah saja harus pelan-pelan karena masih terasa sakit.


....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, gift nya juga, tap favorit ya🤭 jangan jadi pembaca gaib ya😂🤣


__ADS_2