Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 178


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh pasangan Ica dan Zen, resepsi pernikahan mereka. Memang sedikit melenceng dari target, rencana Zen meleset jauh karena dia tak bisa fokus kalau lemas karena muntah-muntah, jadi dia baru bisa melakukan nya setelah kehamilan sang istri menginjak usia 4 bulan, bahkan gaun yang sudah di pesan pun harus di batalkan karena perut Ica yang sudah membuncit juga berat tubuhnya yang setiap hari mengalami penambahan karena nafssu makan nya yang tak terkendali.


Pagi-pagi sekali, Ica sudah pergi ke gedung tempat di adakan resepsi. Saat ini dia tengah bersiap-siap di temani 4 orang perempuan yang akan menjadi bridesmaid nya. Siapa lagi kalau bukan Hani, Risya, Sintia dan juga Meisya. Meski awalnya Mei menolak karena merasa tak pantas, tapi akhirnya dia setuju setelah sedikit bujukan dari Ica dan Sintia.


Ica mengenakan gaun putih dengan make up yang sederhana namun tak mengurangi kecantikan yang Ica miliki.


"Duhh, gue degdegan nih. Gimana ya?"


"Jangan gugup, ntar Lu muntah-muntah lagi kayak wedding waktu itu." Ucap Risya, dia ingat benar saat Ica malah muntah-muntah beberapa menit sebelum pernikahan nya, ini lah dilema nya pernikahan disaat hamil muda.


"Iya nih, udah cantik gini masa mau muntah-muntah sih.."


"Minta air gula merah dong, Sya." Ucap Ica, membuat Risya segera mengambil secangkir air gula merah yang sudah dia siapkan tadi pagi. Beruntungnya dia mempunyai tumblr yang tahan panas, hingga membuat air gula itu masih hangat sampai sekarang.


Ica meminum nya dengan perlahan, rasanya sangat menyegarkan, mual nya pun seketika hilang.


"Okey, sekarang gue dah siap. Temenin terus ya," pinta Ica pada ke empat perempuan itu.


"Pasti dong, kita bakalan terus nemenin Lo sampai acara ini selesai."


"Thanks ya, kalian emang yang terbaik." Ucap Ica sambil tersenyum, kelima perempuan cantik itu berpelukan, tak terkecuali Meisya yang ikut berpelukan bersama yang lain. Meski Hani masih belum terlalu banyak bicara pada kakak tiri Ica itu, tapi perlahan dia bisa menerima kehadiran perempuan itu karena melihat perubahan baik yang dia tunjukan selama beberapa kali mereka bertemu, meski Meisya lebih cenderung menghindar dari Hani atau Risya.


"Sudah siap Dek? Ayo, semuanya sudah menunggu kamu di bawah." Itu suara Azwar yang kembali mendapat tugas membawa Ica dari kamar menuju tempat resepsi di adakan.


"Sudah kak." Jawab Ica, Azwar tersenyum manis. Adiknya nampak cantik dengan gaun itu, Zen benar-benar melakukan semua yang terbaik untuk istrinya.


"Melangkah pelan-pelan ya Dek, ingat kamu lagi hamil." Peringat Azwar, Ica mengangguk dan menggandeng tangan sang kakak. Dia berjalan pelan menuruni tangga dengan teman-temannya yang mengikuti di belakang Ica, memegangi ekor gaun yang cukup panjang.


Di ujung karpet, Zen sudah menanti sang istri dengan senyuman manis nya. Gaun yang dia pilih sangat cantik saat Ica yang memakai nya.


Ica berjalan pelan dengan Azwar, membuat semua perhatian tertuju kepada sang pengantin perempuan yang nampak begitu anggun. Kakek Arhan juga hadir disana, beberapa kali dia mengusap air mata yang menggenang di mata tua nya, dia sangat terharu saat melihat cucunya ternyata sudah sebesar ini dan sudah memiliki istri dan anak.


'Kalian melihatnya kan? Anak kalian sudah dewasa, dia sudah menjadi suami dan calon ayah saat ini. Andai kalian masih hidup, pasti kalian bangga melihat kesuksesan putra kalian.' Batin Kakek Arhan, air mata nya kembali menetes. Bimo yang melihat itu, segera mengulurkan selembar tissu ke arahnya.


Kakek Arhan menoleh, Bimo tersenyum manis saat pria tua itu menatapnya.

__ADS_1


"Ambilah Kek, masih banyak adegan mengandung bawang nanti."


"Kau ini bisa saja, masih tak berubah dari dulu Bim." Ucap Kakek Arhan sambil menepuk pelan bahu Bimo sambil terkekeh. Sikap Bimo masih sama seperti dulu, saat dia masih remaja dan bersekolah bersama Zen.


Azwar menyatukan tangan Ica dengan Zen, dia tersenyum lalu pergi dari hadapan sepasang suami istri itu.


"Berdansa denganku Bby?" Zen mengulurkan tangan nya di depan sang istri, meminta nya untuk berdansa bersama.


"Tentu saja." Jawab Ica, dia menerima uluran tangan Zen, dia meletakan salah satu tangan nya di pundak Zen, dan satunya lagi menggenggam erat tangan sang suami.


Alunan musik merdu mengiringi gerakan-gerakan romantis sepasang suami istri itu, semua yang hadir disana hanyut dengan suasana yang di ciptakan kedua insan yang saling mencintai itu, tak terkecuali Azwar dan Sintia, juga Meisya.


"Dia sudah bahagia sekarang.." gumam Meisya, dia tersenyum manis lalu mengusap air mata yang tanpa terasa jatuh begitu saja.


"Jangan menangis, adikmu sudah bersama orang yang tepat." Suara yang terdengar tak begitu asing, dialah Arian. Malaikat penolong bagi Meisya, pria itu ikut andil dalam masa penyembuhan pasca trauma setelah kejadian menyakitkan 2 bulan lalu.


"Ya, tentu saja. Ini air mata kebahagiaan," Jawab Meisya, pria itu mengusap air mata Meisya dengan tangan nya.


Hingga tibalah, acara yang paling di nantikan oleh semua tamu yang hadir, sesi perasmanan yang menyediakan berbagai macam makanan, dari kue tradisional hingga makanan barat tersedia disini. Zen mengeluarkan banyak uang untuk menyewa cathering terbaik.


"Eemm, ini enak asli.." celetuk Risya, pipi nya menggembung berisi kue coklat yang baru saja dia makan.


"Kenapa gak makan?" Tanya Risya saat melihat Hani hanya bengong saja.


"Gak nafssu gue, Sya. Bawaan bayi nih, jadi gak suka makan."


"Ya bagus dong, dengan begitu Lo gak bakal gendut kayak Ica tuh." Celetuk Brian meledek Hani.


"Haisshh, mood gue lagi gak bagus jadi sebaiknya Lo jangan cari gara-gara sebelum gue tampol pala Lo." Ucap Hani, lengkap dengan tatapan tajam nya.


Risya terkekeh, selain perubahan nafssu makan, Hani juga lebih sensian dari biasanya. Tapi Risya maklum, bawaan hamil setiap orang itu berbeda-beda. Seperti Ica dan Hani, walau keduanya berteman ngidam nya berbeda. Ica tetap dengan nafssu makan yang tetap dan Zen yang mengalami morning sickness parah, sedangkan Hani susah makan dan tetap mengalami morning sickness. Entah apa yang akan dia alami jika hamil nanti, mengingat itu tiba-tiba saja dia merasa ingin hamil juga.


Tapi dia masih kuliah dan restu dari kedua orang tua Brian yang masih belum dia dapatkan. Jangankan mendapat restu, bertemu saja dia belum pernah.


Tiba-tiba saja, Brian langsung menarik tangan Risya dan menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya begitu seseorang datang. Seorang wanita paruh baya dengan dandanan hebring datang dan menatap putra nya dengan sengit, dialah ibu nya Brian. Wanita yang dia benci saat ini, dia tau kedatangan nya bukan untuk niat baik, dari itu dia menyembunyikan Risya di belakang nya.

__ADS_1


"Apa kabar Nak?"


"Kau bisa melihatnya sendiri, kalau aku sakit aku takkan berada disini." Jawab Brian ketus, nada bicara nya sangat tak bersahabat.


"Kapan kau akan pulang Nak?"


"Ckkk, kau yang sudah membuat aku pergi jadi jangan harap aku akan kembali ke sarang nenek sihir itu lagi." Tegas Brian.


"Jangan sombong Nak, kau bisa apa tanpa campur tangan Ibu."


"Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan, aku sudah dewasa rasanya aku bisa hidup tanpamu." Jawab Brian lengkap dengan senyum smirk nya.


"Siapa perempuan di belakang mu? Ohh apa dia gadis yang membuatmu berani membangkang ibu? Kemarilah, jangan bersembunyi di balik punggung anakku!"


"Jangan membentak kekasihku!" Pekik Brian.


"Dia yang sudah membuatmu pergi dari rumah dan menolak perjodohan dengan Chloe."


"Itu pilihanku sendiri, dia tak bersalah apapun. Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan mu sendiri, pergilah aku muak melihat wajahmu itu!"


"Jangan lupa Brian, aku yang sudah melahirkan dan membesarkan mu hingga saat ini." Ucap ibu Brian dengan suara lantang.


"Bercerminlah di rumah, bibi yang membesarkan ku. Karena kau sibuk mengejar pria berondong di luar negeri, jangan bertindak seolah kau adalah korban disini, semua ini terjadi akibat perbuatan kotor mu di masalalu."


"Briann.."


"Cukup, pergilah biarkan aku hidup tenang bersama pilihanku, jangan salahkan aku jika aku membenci mu." Ucap Brian, lalu menarik tangan Risya menjauh dari perempuan berstatus ibunya itu.


Risya menatap punggung Brian, dia tak menyangka hubungan ibu dan anak itu semakin memburuk, bahkan Brian dengan terang-terangan mengatakan kalau dia membenci ibunya sendiri.


'Aku harus apa? Apa aku harus melepaskan mu Bri? Tapi rasanya aku tak rela melihat mu bersanding dengan wanita lain.'


......


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


haii readers semua, maaf author baru up lagi, terimakasih buat yang udah nunggu novel ini up lagi, kemaren author gak sempet nulis karena sibuk, saudara author baru aja meninggal, kalau berkenan minta doanya buat ketenangan saudara author, alfatihah 🤲🤲



__ADS_2