Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 180


__ADS_3

Masih di suasana resepsi pernikahan Ica dan Zen, sepasang suami istri itu sedang duduk di pelaminan. Zen mengusap lembut perut sang istri yang terbalut gaun dengan hiasan manik-manik, dia tersenyum manis. Tak sabar rasanya ingin merasakan sang bayi bergerak dan merespon usapan lembut nya.


"Bby, kamu lelah? Lapar?" Tanya Zen, mengingat istrinya selalu suka makan dimanapun dan kapanpun, di kondisi apapun yang penting makan, maka tak heran saat menimbang berat badan, cukup bertambah banyak nambahnya. Tapi Zen tak mau berkomentar apapun, selama istri nya sehat dan bayi di dalam rahim nya juga bertumbuh dengan baik.


"Bestiee.." Pekik Hani, dia membawa dua paperbag. Dengan antusias menaiki pelaminan, membuat Bimo langsung bergerak mengikuti Hani, bukan apa-apa, dia takut perempuan itu terjatuh saat menaiki tangga.


"Hati-hati sayang, ingat kamu lagi hamil." Peringat Bimo membuat Hani cemberut.


"Kenapa bestie?" Tanya Ica saat Hani mendekat.


"Ini boneka BT21 buat kamu, anggap aja hadiah dari aku ya." Hani mengulurkan paperbag kepada Ica, dan langsung di sambut dengan tak kalah antusias nya dengan Hani.


"Makasih bestie, aaaa suka." Ica bersorak kegirangan dan langsung memeluk Hani, kedua bumil itu saling berpelukan dengan suasana hati yang bahagia.


"Ohhh pantes aja beli 4 set, ternyata buat Ica 2 set. Nasib punya bumil yang ngidam nya samaan ya gini," Gumam Bimo sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa lucu dengan tingkah kedua ibu hamil itu. Kehamilan mereka hanya berbeda 2 minggu, Ica 17 minggu, sedangkan Hani 15 minggu.


Zen mendelik ke arah Bimo, membuat sang sekretaris buru-buru memalingkan wajah nya ke samping. Harusnya dia juga mempertimbangkan reaksi Zen juga, dia benar-benar tidak suka saat istrinya menyukai hal berbau boyband itu, tapi ya sudah terlanjur Hani memberikan nya pada Ica jadi bisa apa lagi? Tak mungkin di ambil balik kan?


"Udahan pelukannya, nanti juga ketemu lagi." Cetus Zen, membuat kedua bumil itu langsung melerai pelukan mereka.


"Iri aja Daddy, lihat nih Ica di kasih merchandise resmi sama Hani, Kalau minta sama Daddy pasti gak bakal di kasih." Sindir Ica lengkap dengan kerlingan mata nya, membuat Zen memalingkan wajah nya karena kesal.


"Yaudah, aku turun dulu ya. Ini perut berasa lapar sekarang, padahal dari tadi gak nafssu makan."


"Makan yang banyak ya bestie, biar anak kita sehat." Ucap Ica.


"Okey, papay." Hani melambaikan tangan nya dan langsung menuruni tangga, dengan Bimo yang memegangi tangan Hani, khawatir kalau perempuan itu terpeleset lalu jatuh, karena gaun nya menjuntai membuat nya terlihat kesusahan berjalan.

__ADS_1


"Ohh ya Dad, Ica mau makan bakso dong. Ambilin ya?" Zen mengangguk dan pergi dari pelaminan, meninggalkan Ica sendirian di pelaminan.


Meisya berdiri menyaksikan pelaminan megah di depan nya, tentunya bersama Arian yang setia berada di sampingnya sejak acara berlangsung. Kedua mata Meisya menyipit saat melihat seseorang yang nampak asing membuat nya curiga, tapi dia enggan membicarakan kecurigaan nya pada Arian.


"Kenapa Mei?" Tanya Arian saat melihat Meisya gelisah.


"Ti-tidak kak, memangnya aku kenapa? Aku terlihat aneh?"


"Tidak, hanya saja terlihat gelisah. Kau merasakan sesuatu?" Tanya Arian lagi, Meisya menggeleng. Tatapan mata nya fokus pada seseorang itu, hingga dia melihat nya sudah berada dekat dengan pelaminan.


Meisya melepaskan genggaman tangan Arian dan segera berlari saat melihat seseorang itu mulai menaiki tangga pelaminan, dia panik dan segera mengambil langkah berani.


"Selamat atas pernikahan kalian." Sapanya, ternyata dia adalah ibu tiri Ica, ibu kandung Meisya. Tapi Meisya tau bagaimana Ibunya, pasti tak memiliki niat yang baik pada Ica, kalau pada Zen itu tak mungkin.


"T-erimakasih Bu." Jawab Ica, dia tersenyum canggung saat melihat wajah keriput wanita itu.


"Bagaimana kehidupan mu setelah membuat aku menjadi gelandangan hmm?"


"Kudengar kau sedang hamil Ca? Hamil di luar nikah?" Sindir nya. Ica hanya menganggukan kepala nya, dia sengaja mengusap lembut perutnya yang sudah mulai membuncit. Meisya naik ke pelaminan dengan perlahan, sangat perlahan hingga kedua orang itu tak menyadari kehadiran nya, mata nya membulat sempurna saat melihat pisau nan tajam yang di sembunyikan wanita itu di balik tubuh nya, membuat Meisya semakin yakin ibunya akan melakukan hal buruk pada Ica.


"Apa dendamu sudah terbalaskan semuanya? Kau puas melihat aku sekarang?"


"Tentu saja, aku sangat puas melihatmu seperti ini Bu. Harusnya ibu berubah dan menata hidup dengan baik."


"Setelah kau membuat hidupku menderita? Tentu saja tidak, aku datang untuk membalas dendam!" Tegasnya dengan senyum miring, dia mengayunkan pisau tajam itu ke arah perut Ica, tapi Meisya langsung mendorong pelan tubuh Ica hingga membuatnya terjatuh dan dia yang tertusuk.


"Kak Mei.." Pekik Ica hingga membuat semua perhatian tertuju pada pelaminan, Meisya terjatuh dengan pisau yang masih tertancap di perut nya. Darah mengalir dari luka itu, membuat pakaian nya di penuhi darah.

__ADS_1


"Meisyaa.." Gumam ibunya, dia menutup mulutnya. Dia berencana menyakiti Ica, tapi malah Meisya yang terluka karena ulah nya.


Arian berlari menembus kerumunan, dia langsung memangku Meisya, wajah nya pucat dengan darah yang terus mengalir dari luka tusukan itu. Arian menarik pisau itu dengan berani dan melemparkannya, dia menatap ibu Meisya dengan tajam.


"Sayang, bangunlah. Meisya, bangun sayang aku mohon!" Ucap Arian sambil menepuk pelan pipi Meisya, tapi sia-sia saja karena Meisya tak bergerak sedikitpun, kesadaran nya sudah hilang.


"Ada apa ini?" Zen datang dengan wajah marahnya, dia melihat Arian yang memangku Meisya dengan luka yang menganga di perutnya.


"Tunggu apalagi Arian? Bawa Meisya ke rumah sakit sekarang juga!" Perintah Zen membuat Arian langsung menggendong Meisya dan berlari membawa nya keluar gedung.


"Tangkap wanita itu, seret dia ke penjara!" Perintah Zen lagi, membuat anak buah Zen segera melaksanakan perintah sang tuan dan menyeret wanita itu dengan kasar, tanpa peduli saat dia meronta meminta di lepaskan.


"Daddy, Kak Mei.." Ucap Ica, dia memeluk Zen dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.


"Kakak mu pasti baik-baik saja sayang, ada Arian yang menemani nya."


"Ini semua karena aku Dad, semuanya karena aku!" Ucap Ica, tangis nya meledak seketika. Azwar juga yang baru kembali dari toilet mengantar Sintia yang muntah-muntah seketika heran dengan apa yang terjadi.


"Ada apa ini?"


"Kak Mei kak, dia tertusuk." Jawab Ica sesenggukan.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, sekarang lebih baik kita kesana melihat keadaannya."


Semua orang pergi meninggalkan pesta, sedangkan resepsi di gedung akan di pantau oleh anak buah Zen yang berjaga. Dia merasa heran, bagaimana wanita biang onar itu bisa menyusup ke dalam acara nya. Sialan, lagi-lagi anak buah nya lengah.


......

__ADS_1


🌷🌷🌷


Meisyaaa😭😭😭😭


__ADS_2