
Zen mendelik saat melihat gadis nya sengaja menyibak rambut nya, menampakan leher putih nan mulus karena sudah beberapa hari ini dia tak melakukan apa-apa dengan Zen.
"Baby.."
"Apa Dad?" Tanya Ica santai.
"Tutupi leher mu."
"Loh memang nya kenapa Dad?"
"Jangan banyak tanya, By." Zen menatap gadis nya dengan tajam, hingga membuat nyali Ica menciut jika sudah di hadapkan dengan tatapan elang milik Daddy nya.
Ica memilih menundukan kepala nya sambil melanjutkan acara sarapan nya. Zen bangkit dari duduk nya, lalu berjalan entah kemana.
"Kayaknya Daddy marah deh? Harus nya aku tau resiko nya kalau jahilin Daddy." Ica menepuk-nepuk kepala nya, dia lupa kalau pria itu punya seribu satu macam cara untuk menghukum nya.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka di iringi suara langkah kaki yang mendekat.
Zen melingkarkan sebuah syal di leher gadis nya, membuat gadis itu terperanjat kaget karena Zen yang tiba-tiba.
"Apaan sih Dad? Panas gini pake syal."
"Bodo amat yang penting leher kamu gak di lihat orang!" Jawab Zen santai, Ica memberengut kesal, sedangkan Zen tersenyum jahil ke arah gadis nya, senang sekali membuat gadis itu kesal, ekspresi nya sangat lucu menurut nya.
"Ohh ya Dad, Ica terpilih buat kompetisi di alun-alun kota."
"Maksudnya?"
"Ica mau ikut kompetisi nyanyi, boleh ya?"
"Kapan sayang?"
"Sekitar satu mingguan lagi, boleh ya Dad, please!" Ica menangkupkan kedua tangan nya di dada sebagai permohonan pada Zen agar mengizinkan nya bernyanyi.
"Tidak!" Jawab Zen singkat, padat, jelas, tak bisa di bantah.
"Kenapa semua nya gak boleh sih Dad? Ica cuma mau nyalurin hobi aja, apa itu gak boleh?"
"Alasan nya hanya satu, kamu akan di lihat oleh banyak pria, By!"
__ADS_1
"Jangan egois Dad, selama ini apa pernah Ica punya keinginan yang langsung di kabulkan Daddy? Gak ada! Bahkan untuk bergaul pun Daddy yang mengatur! Sekali ini saja Dad, aku ingin berpartisipasi di lomba itu."
"Baiklah, tapi jangan menangis."
"Benaran Dad? Terimakasih.." Sorak Ica kegirangan karena Zen mengizinkan nya.
"Tapi ada syarat nya!"
"Apa syarat nya, Dad?"
"Pertama, kamu harus pakai baju yang tertutup. Kedua, jangan genit sama laki-laki. Ketiga, tidak boleh kelelahan."
"Baik Dad, Ica mengerti. Sekali lagi terimakasih, Daddy."
"Gak mau peluk?" Tanya Zen, kedua tangan nya merentang dan dengan senang hati Ica masuk ke dalam pelukan hangat pria itu.
"Jangan nakal ya Baby, Daddy pasti akan jagain kamu terus." Ucap Zen sambil mengelus puncak kepala gadis nya.
"Iya Daddy, Ica gak nakal kok. Btw, Ica boleh ke rumah Risya?"
"Boleh, tapi ganti dulu pakaian nya sayang."
"Apa yang salah dengan pakaian ini, Dad?"
"Daddy tak suka milik Daddy di lihat orang lain, itu kan?"
"Itu kamu sampai hafal sayang!"
"Karena Daddy sering mengatakan hal itu, baiklah Ica gak mau kemana-mana, bobo aja nemenin Daddy."
"Daddy mau lembur di ruang kerja, males ke kantor!"
"Harus nya gak boleh di biasain males ke kantor, kalau CEO nya aja gini, gimana pegawai nya?" Tanya Ica, lalu melerai pelukan nya.
"Ya mereka harus ngikutin peraturan, Daddy yang punya perusahaan jadi gak bakal ada yang berani marahin Daddy."
"Ica berani tuh, Daddy kan takut sama Ica." Kelakar Ica dengan gelak tawa nya.
"Iya deh, terserah gadis cantik nya Daddy aja."
__ADS_1
Ica menghentikan gelak tawa nya saat mendengar ucapan Zen, apa dia cantik?
Zen bangkit dari kursi nya dan menarik Ica untuk mengikuti nya.
Zen merapatkan jari jemari nya dengan milik gadis nya, menggenggam nya dengan mesra. Padahal ini di rumah bukan mall, membuat penjaga dan maid yang kaum jones meronta melihat kemesraan kedua nya, tapi bukan Zen jika dia peduli dengan masalah sepele.
Zen membawa gadis nya ke ruang kerja, tempat dimana dia tepar karena minum terlalu banyak kemarin malam.
"Ica tiduran ya.."
"Habis makan langsung tiduran, tunggu dua jam dulu biar makanan nya turun dulu."
"Terus Ica harus ngapain?"
"Olahraga, mau?"
"Olahraga apa Dad?" Tanya Ica. Zen menyeringai licik, dia akan mengerjai gadis nya.
Zen mendekat ke arah Ica dan menarik pinggang gadis itu hingga membuat tubuh mereka menempel tanpa jarak.
"Olahraga apa aja boleh, yang penting bisa bikin keringat." Bisik Zen membuat Ica paham ajakan apa yang pria itu katakan tadi.
"Bilang aja mau masuk sarang." Ketus Ica, membuat Zen gemas dan menggigit pipi kenyal gadis nya.
"Daddy ihh, sakitt.." Ringis Ica sambil mengusap pipi nya yang di gigit Zen.
"Salah kamu sendiri kok gemesin, yaudah ayo main dulu!" Ajak Zen.
"Katanya mau kerja, Dad?"
"Iya, ini juga kan kerja sayang." Jawab Zen santai, tangan nya mulai aktif merayap di tubuh gadis nya.
"Ini mah ngerjain bukan kerja, Daddy tampanku." Ica pun ikutan gemas melihat tingkah Zen yang berbeda 180 derajat jika sedang bersama nya.
"Ya Daddy gak bisa nolak godaan tubuh kamu sayang,"
"Lakukan saja kalau begitu." Zen tersenyum senang dan mulai menyerang bibir sang gadis dengan liar nya.
....
__ADS_1
🌷🌷🌷
Hai, ada yang kangen sama ini novel? Author mengpede😂 maaf kemaren gak up ya, karena disini mati lampu, batre hape author habis jadi gak bisa nulis. maafin ya🙏🙏