Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 200


__ADS_3

Setelah acara pertumpahan keringat semalam gagal total dan membuatnya tak bisa tidur nyenyak semalaman, apalagi sang istri yang tidur tanpa menggunakan pakaian sehelai pun, membuat senjata nya terus menegang semalaman penuh.


Pagi harinya, Zen terbangun dengan keringat yang membanjiri keningnya, dia menoleh pada istrinya yang masih terlelap dengan nyenyaknya, tapi dia sudah tak bisa menahan nya lagi, rasanya sesak dan sakit.


Zen membuka selimut Ica dan langsung menindih nya, melahap put*ing susu nya yang nampak menantang.


"Eemmmhh.." Ica melenguh dalam tidurnya, mungkin dia masih menyangka kalau ini mimpi.


Zen melanjutkan aktivitas nya menyusu di dada sang istri, sesekali dia bergerak tak karuan dan tak lama kemudian dia terbangun dari tidur nyenyak nya.


"Daddy..." Pekik Ica saat melihat suaminya itu tengah menyusu di dada nya dengan rakus.


"Apa Bby?"


"Pagi-pagi udah nyusu aja."


"Sarapan susu murni langsung dari sumbernya." Jawab Zen santai sambil terus melahap buah ceri kemerahan di puncak dada Ica.


"Gak ada airnya."


"Iya, tapi enak. Ayoo lanjutin yang semalam, kayanya mau main malah tidur." Ajak Zen tapi Ica malah mendelik.


"Suruh siapa nelpon nya lama, emang nya siapa sih orang yang nelpon malem-malem? Gak tau apa kamu tuh udah nikah."


"Anak buah kita Sayang, udah dong jangan merajuk. Lihat nih, dari semalem dia gak tidur pengen masuk sarang." Ucap Zen sambil menunjuk senjatanya yang sudah berdiri tegak.


"Yaudah, satu ronde aja."


"Makan dulu dong.." Pinta Zen sambil nyengir.


"Enggak mau, kamu bau!" tolak Ica, padahal sejak hamil dia hobi sekali memakan terong ungu milik sang suami.


"Jual mahal kamu ya, yaudah langsung main aja."


"Pelan-pelan." Pinta Ica, saat pria itu mulai menggesekan senjata nya di bibir lubang istrinya itu.


Baru saja dia akan menekan pinggulnya, pintu di ketuk dengan cepat, membuat Zen menoleh.


"Siapa sihh, ganggu aja!" Ketus Ica kesal, bagaimana gak kesal coba? Semalam gagal karena telepon, sekarang juga terancam gagal lagi karena orang di balik pintu yang entah siapa.


"Buka sana."


"Tapi Bby, masa gak jadi lagi sih?" Rengek Zen.


"Bukain aja dulu." Jawab Ica, dia memilih tidur miring membelakangi suaminya.

__ADS_1


Zen menyugar rambutnya frustasi, gagal sudah menyumbangkan benih yang sudah tertahan dari semalam.


"Siapa?" Tanya Zen, pria itu memakai bathrobe dan membuka pintu. Dia melihat Bi Arin yang datang dengan kepala tertunduk.


"Ada apa?"


"Maaf kalau bibi ganggu, Tuan."


"Sangat, sangat mengganggu!" tegas Zen membuat Bi Arin semakin menunduk.


"Katakan cepat, ada apa?"


"Ada Nyonya Soraya di bawah, Tuan."


"Soraya? Soraya Meidina?" Tanya Zen, Bi Arin menganggukan kepalanya.


"Biarkan saja dia menunggu, aku masih ingin bersenang-senang dengan istriku satu jam kedepan, jika bersedia silahkan menunggu, jika tak mau pergi saja."


Jebrettt..


Zen membanting pintu dengan kuat membuat Bi Arin terhenyak, baru kali ini dia melihat tuan nya sekesal itu. Memang nya apa yang membuatnya sekesal itu? Sudah pasti karena kesenangan nya terganggu.


Setelah mendapat jawaban dari Zen, Bi Arin langsung turun untuk menyampaikan jawaban dari tuan nya pada tamu yang datang tanpa di undang.


"Maaf Nyonya, Tuan Zen sedang tidak bisa di ganggu satu jam kedepan."


"Maaf Nyonya, kata Tuan jika bersedia menunggu silahkan, kalau tidak silahkan pergi." Jawab Bi Arin.


"Aissshhh, nyebelin amat tuh orang!" Ketus nya lalu kembali duduk di sofa dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.


Perempuan itu mengedarkan pandangan nya, barang-barang di mansion ini begitu berkelas dan terlihat sangat mewah.


'Nih orang kaya beneran atau boongan ya?' Batin Soraya.


Sedangkan di kamar, sepasang suami istri itu tengah bergulat di atas ranjang dengan timun besar nan panjang yang bergerak maju mundur di tempatnya. Desaahan dan lenguhann nikmat beberapa kali lolos dari bibir keduanya, keringat membasahi tubuh polos mereka, Ica mengusap nya dengan jarinya.


"Enak sekali sayang, aarrghgh.." Erang Zen bergerak lebih cepat hingga cairan hangat nan kental itu menyembur memenuhi inti sang istri, bahkan hingga meluber keluar.


"Hangat Dad, enak."


Zen tersenyum lalu mencium kening Ica, lalu kedua pipi dan terakhir bibir sang istri, mencium nya dalam-dalam dan melumaat nya.


"Terimakasih istriku Sayang, aku sangat puas."


"Iya Dad, ayo kita mandi. Katanya ada tamu kan?"

__ADS_1


"Satu jam yang lalu, mungkin saja dia sudah pergi." Jawab Zen sambil meremass gemas buah kenyal milik istrinya.


"Yaudah mandi aja, terus kita turun, lagipun aku laper."


"Iya bumilku." Jawab Zen lalu menggendong istrinya ke kamar mandi, keduanya pun mandi bersama dengan di selingi permainan kecil yang membuat hasraat keduanya kembali bangkit dan mengulang kembali permainan ronde kedua di kamar mandi.


"Sialan, lama banget. Emang nya tuh orang lagi ngapain sih?" Gumam Soraya, dia sungguh bosan menunggu. Katanya menunggu satu jam, tapi ini sudah hampir 2 jam tapi pria bernama Azzendra itu belum turun juga.


"Wahh, ada kepentingan apa hingga membuat anda mendatangi rumah saya?" Tanya Zen dari tangga.


"Tuan Zen, selamat siang."


"Ya Siang, ada keperluan apa?" tanya Zen datar, bahkan terkesan acuh dan cuek. Zen sudah bisa menebak kalau dia datang bukan untuk maksud dan tujuan yang baik.


Zen duduk berhadapan dengan menyilangkan kedua kaki nya. Tatapan mata nya tajam ke arah wanita di depan nya.


"Begini Tuan Zen, kedatangan saya kesini untuk meminta anda memecat Brian dari perusahaan anda." Ucap Soraya, membuat Zen terhenyak.


"Maksud anda? Saya harus memecat karyawan saya yang tak punya kesalahan apapun? Memang nya anda siapa seenaknya meminta saya memecat karyawan saya?" Soraya terdiam.


"Begini, bukankah Brian itu putra anda? Kenapa anda meminta saya memecat nya padahal anda adalah ibunya, apa alasan nya?" Tanya Zen.


"Saya ingin membuat nya kembali pulang ke rumah, dan menerima perjodohan yang sudah saya rencanakan."


"Bukankah Brian itu sudah dewasa, dia bisa mencari jodoh nya sendiri?" Tanya Zen lagi.


"Iya Tuan, tapi gadis miskin bernama Risya itu saya yakin dia bukan gadis yang tepat untuk Brian."


"Konyol. Bagaimana pria sebaik Brian punya Ibu berotak licik seperti dirimu? Memuakan, aku rasa keputusan Brian pergi dari rumah dan memilih Risya adalah pilihan yang sangat tepat!"


"Apa maksud anda?" Pekik Soraya.


"Berani sekali kau meninggikan suara mu di depan ku!"


"Maafkan saya Tuan." Ucap Soraya.


"Bagaimana Brian bisa betah tinggal di rumah dengan nenek sihir di dalam nya? Wahh, aku rasa matamu sudah buta karena salah menilai Risya hanya dari penampilan. Kau yakin gadis bernama Chloe itu lebih baik dari Risya?"


"Darimana anda tau, Chloe?" Tanya Soraya dengan kening yang mengernyit heran.


"Kau lupa siapa aku? Aku Azzendra Grew Nicholas, tak ada yang tidak aku ketahui. Bahkan borok mu saja aku tahu, Nyonya Soraya."


Soraya terdiam, dia sadar kalau pria di depan nya itu bukan orang sembarangan. Dia Azzendra, pria yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk tahu semuanya dalam satu hitungan detik.


......

__ADS_1


🌷🌷🌷


Cihh macem-macem πŸ™„


__ADS_2