Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 48


__ADS_3

Setelah puas mengghibah bersama Hani di mall, akhirnya Ica memutuskan pulang. hari juga sudah mulai malam, bisa bahaya jika Zen tau dia pulang malam. Padahal nyatanya pria itu selalu tau gerak-gerik Ica dari anak buah yang selalu memantau nya, entah dari jauh atau dari dekat.


Ica menaiki mobil jemputan nya, meski pun sebenarnya dia enggan pulang. Biasa nya jam segini dia baru keluar untuk bekerja di bar, ahhh mengingat semua itu dia jadi merindukan pekerjaan nya.


Ica melihat ke arah jalan, mata nya memicing saat tak sengaja melihat sosok yang dia kenal.


"Pak berhenti sebentar.." Pinta Ica, dan sang supir menurut.


"Saya keluar dulu, gak lama kok."


Ica membuka pintu mobil dan keluar, dia berjalan mendekat ke arah dua orang yang terlihat sedang memperdebatkan sesuatu.


"Risya.."


"Ehh Ca, darimana?" Tanya nya, menghentikan sejenak perdebatan nya.


"Habis dari mall, ini mau pulang tapi liat kamu disini, jadi aku berhenti dulu buat nyapa."


"Woahh, jadi anak culun ini sekarang punya teman dari kalangan atas ya? Wahh hebat sekali." Celetuk wanita yang berada di hadapan Risya sambil bertepuk tangan.


"Maksudnya? Sya, dia siapa?" Tanya Ica.


"Dia kakak aku Ca."


"Aku bukan kakak mu, lihat saja kita sangat jauh berbeda. Entah dari mana Mami mendapatkan benih anak seperti dirimu!" Cetus nya membuat Ica merinding, nyesel dah keluar dari mobil, harus nya dia gak perlu turun dan menyapa Risya tadi.


"Kak, bagaimana pun kita ini lahir dari rahim yang sama."


"Cihh, gak suka! Udahlah, gue pergi dulu. Lu jaga rumah, jangan keluyuran!" Perintah nya angkuh, lalu pergi dengan langkah sombong nya. Menyebalkan sekali, andai saja wanita itu bukan kakak teman nya, sudah dia tampar sejak tadi, mulut nya begitu pedas.


"Secantik apa sih dia? Menyebalkan sekali, kok kamu bisa sih punya kakak modelan gitu Sya?"


"Gak tau Ca, sejak kecelakaan dia menjadi wanita yang temprament, padahal dulu dia wanita yang lembut." Jelas Risya.


"Kecelakaan?"


"Ya, kecelakaan sekitar 3 tahun lalu. Dia mengalami kecelakaan mobil tunggal, sayang sekali padahal karir nya sedang di puncak saat itu." Jelas Risya sambil membereskan buku-bukunya yang berserakan.


"3 tahun? Kecelakaan mobil, di puncak karir? Apa kakak mu model?" tanya Ica.


"Iya, dari mana kamu tau Ca?"


"Ahh, e-enggak Sya, aku cuma nebak aja." Jawab Ica terlihat salah tingkah.


"Tapi tebakan mu benar Ca, jadi adik seorang model gak enak banget Ca, selalu di banding-bandingin cuma karena penampilan aku begini."

__ADS_1


"Udah lah Sya, kamu gak boleh insecure. Kamu cantik kok,"


"Cantik? Lihat pipi ku gembul gini, tangan aku juga bergelambir kebanyakan lemak."


"Mau ngubah penampilan?" Tanya Ica. Risya dengan cepat mengangguk.


"Aku bantu, besok kan weekend kita ke gym ya.."


"Katanya mau ngubah penampilan, ya harus olahraga dulu bakar lemak Sya, aku tunggu pokok nya. Sekarang udah malem, aku harus pulang takut Daddy ngamuk. Bye Sya.."


"Hati-hati di jalan Ca." Ica menganggukan kepala nya dan segera menaiki mobil nya.


"Kecelakaan mobil tiga tahun lalu, sebuah kebetulan juga kakak nya Risya mantan model fashion, lupakan! Mungkin hanya sebuah kebetulan." Gumam Ica dengan raut wajah khawatir nya.


....


Ica membaringkan tubuh nya di kasur, hari ini cukup melelahkan. Tapi yang lebih lelah adalah hati nya, entah apa tapi dia merasa khawatir yang tak beralasan.


Ica kembali berusaha menghubungi Zen, dan kali ini berhasil. Zen mengangkat telepon dari nya.


"Hallo By.."


"Daddy Ica kangen, Daddy kemana aja?" Bukan nya tersenyum senang, Ica malah menangis kejer saat Zen mengangkat telepon nya.


"Kamu nangis sayang? Daddy sibuk kemarin, maaf ya.."


"Iya Daddy salah, maaf ya sayang. Kalau Daddy pulang, mau oleh-oleh apa?"


"Daddy pulang sekarang?" Tanya Ica berbinar.


"Enggak yang, cuma Daddy bingung mau ngasih oleh-oleh apa buat kamu."


"Ica gak mau apa-apa, Ica mau nya Daddy cepet pulang aja. Gak usah beliin oleh-oleh gapapa," Ucap Ica.


"Iya sayang, ini Daddy lagi rapat. Gimana kuliah kamu?"


"Yahh, Ica ganggu dong. Kenapa ya setiap nelepon pasti Daddy lagi rapat?"


"Enggak kok sayang, ada asisten Bimo yang mewakili. Daddy tanya, gimana kuliah nya lancar?" Tanya Zen lagi, karena gadis nya belum menjawab.


"Lancar Dad, Ica juga udah punya temen baru nama nya Risya."


"Wahh, punya temen di kampus dong." Ucap Zen pura-pura tak tau, padahal sebelum gadis itu bercerita, dia sudah tau duluan.


"Iya Dad, jadinya kapan pulang? Ica kangen tidur di pelukan Daddy."

__ADS_1


"Kerjaan masih belum selesai sayang, paling dua hari lagi. Sabar ya, nanti Daddy kurung kamu di kamar." Ica memutar mata nya jengah, dia tau apa makna ucapan Zen.


"Terserah Daddy saja lah, Ica mau makan dulu, laper."


"Makan yang banyak sayang, biar gendutan."


"Iya Dad, Miss you.."


"Miss you too Baby.."


Setelah acara telpon-telponan selesai, Ica turun ke lantai bawah.


"Non, mau makan sekarang?"


"Iya Bi, tapi minum nya pengen susu stroberi, ada?" Tanya Ica pada Bi Arin, yang baru saja selesai memasak.


"Bibi cek dulu ya,"


Ica menyendok nasi dan sayur, juga ayam goreng kremes kesukaan nya.


"Non, ada nya susu coklat, mau?"


"Boleh deh Bi," Jawab Ica, gadis itu sibuk memakan makan malam nya dengan lahap, membuat Bi Arin tersenyum simpul melihat selera makan nona muda nya itu.


....


Di negara lain, Zen sedang menatap poto dirinya bersama Ica. Gadis itu selalu terlihat cantik, apapun kondisi dan penampilan nya. Bahkan saat bangun tidur pun gadis itu sudah cantik, menurut Zen yang sedang di mabuk cinta.


"Tak sabar melihat ekspresi mu besok.." Ucap Zen, pria itu mengusap poto di ponsel nya dengan senyum yang menghiasi wajah tampan nya, membuat asisten Bimo menatap Zen dengan tatapan heran.


"Kau kesurupan setan senyum sepertinya." Celetuk Bimo, membuat Zen menghentikan kegiatan nya.


"Diamlah atau aku kurangi gaji mu bulan ini 80%, mau?"


"Maaf tuan bucin.."


"Siapa yang kau katai bucin hah? Asisten menyebalkan!" Zen melempar Bimo dengan bantal, tapi pria itu dengan sigap menghindar.


"Maaf tuan, saya masih ingin hidup. Jadi saya keluar dulu.." Pamit Bimo lalu keluar dari kamar Zen.


"Menyebalkan sekali pria itu! Mengganggu saja."


....


🌷🌷🌷

__ADS_1



jangan lupa like,komen,vote, gift dan tap favorit❤️ happy reading🌻


__ADS_2