
Begitu mobil yang di tumpangi nya berhenti, Ica segera keluar.
"Pak, bisakah aku mulai kuliah nya besok saja? Mood ku sedang tidak baik.."
"Baik Nona, akan saya izinkan pada dosen anda." Jawab anak buah Zen dengan sopan.
Ica mengangguk sekilas dan pergi ke kamar nya, mengunci pintu nya. Gadis itu melompat ke atas ranjang, menenggelamkan wajah nya di atas kasur.
"Belum juga semalem Daddy pergi, Ica udah kangen Dad.." Gumam nya, gadis itu menangis dalam diam. Andai saja dia bisa melarang pria itu pergi, pasti saat ini dia takkan seperti ini, mengurung diri dengan kesedihan di dalam kamar.
"Daddy.." Panggil Ica, baru saja dia melepas kepergian pria itu, tapi baru beberapa jam saja dia sudah merindukan kehadiran nya, pelukan hangat nya, juga sikap menyebalkan nya.
....
Zen menatap lurus ke depan, baru saja dia landing di bandara internasional negara A.
Disini, dia juga terus teringat dengan wajah sendu gadis nya di bandara tadi. Kalau saja ini proyek kecil dan tidak seberapa, dia pasti takkan pergi. Dia juga tak mau meninggalkan gadis nya sendirian, kalau bisa dia ingin mengikut sertakan Ica dalam perjalanan bisnis nya, tapi sayang karena suatu alasan yang tak bisa di jelaskan membuat Zen harus mengurungkan niat nya memboyong sang gadis.
"Tuan, anda baik-baik saja? Saya perhatikan, sedari turun dari pesawat, Tuan sering melamun." Tanya Bimo.
"Tidak Bim, aku hanya teringat Ica. Sedang apa gadis ku di sana? Apa dia baik-baik saja, apa dia menangis?"
Bimo seketika bungkam, dia pun selalu teringat seseorang akhir-akhir ini, tapi dia bisa menyembunyikan nya.
"Apa kau tau artinya cinta, Bim?" Tanya Zen.
"Saya belum pernah mengalami yang nama nya jatuh cinta, tapi kata orang, kalau dada berdebar saat melihat dia tersenyum, atau jantung berdetak lebih cepat saat melihat nya, itu artinya tuan jatuh cinta." Jawab Bimo pelan, jika di luar kantor dia akan berbicara seperti seorang teman.
"Aku merasakan nya saat bersama Ica, tapi aku tak merasakan hal semacam itu saat masih bersama Rosa."
"Mungkin yang kau rasakan pada Rosa hanya sekedar obsesi untuk memiliki wanita itu, bukan cinta!" Celetuk Bimo.
"Benar, mungkin seperti itu. Aku masih mencoba melepas bayang-bayang Rosa Bim, tapi wajah wanita itu terus hadir.." Keluh Zen.
"Coba lepaskan dan fokus pada Ica, lakukan dengan cepat sebelum kau kehilangan dia. Bukan mustahil kalau wanita itu bisa pergi jika kau tak kunjung memberikan kepastian, mau bagaimana pun Ica wanita yang perlu di beri kejelasan tentang status kalian."
__ADS_1
"Maaf, mungkin ini pribadi. Tapi apakah kau sudah melakukan hubungan di luar batas? Emm, seperti hubungan badan?" Tanya Bimo.
"Aku sering melakukan nya, Bim. Kau tau sendiri bagaimana awal hubungan ku dengan Ica, hal itu adalah kesepakatan kita di awal." Jawab Zen.
"Kau meminta nya meminum semacam kontrasepsi?" Zen menganggukan kepala nya.
"Ternyata kau tak sebodoh itu, Zen.." Celetuk Bimo membuat Zen menoleh dengan delikan tajam nya.
"Siapa yang bodoh, berani sekali kau mengatai aku bodoh."
"Biasa nya orang yang sedang di mabuk cinta itu menjadi bodoh." Cetus Bimo membuat Zen kesal dan menjitak kepala Asisten nya itu.
"Sakitt.." Ringis Bimo. Zen tak peduli dan menyedekapkan tangan nya di dada.
"Jadi intinya gini Zen, Lu harus ngasih kepastian sama Ica. Lu udah ngerusak masa depan dia, ya walaupun dia sendiri setuju dan dengan sukarela ngasih mahkota nya sama Lu."
"Tapi, lu harus bisa tegas juga. Jangan terikat terus sama masa lalu yang udah terjadi, lagian nyesel juga kagak ada guna nya. Lu harus tanggung jawab sama Ica sekarang, jangan sampai gadis itu mikir Lu cuma butuh tubuh nya doang."
"Mau nyesel sampe kapan? Sampe belut berbulu pun semua nya gak bakal kembali kayak dulu lagi Zen, move on dan fokus sama masa depan. "
"Gue tau sakit nya kehilangan Zen, jangan sampai Lu kehilangan Ica juga."
"Gue ngerti Bim, thanks Lu selalu ngasih gue solusi yang terbaik." Ucap Zen.
"Gak masalah, lagian masalah kayak gini harus nya gak di bahas sama jomblo sih.."
"Gue lupa kalau asisten gue ini jomblo akut." Zen cengengesan sambil menepuk pundak Bimo.
...
Ica ketiduran karena lelah menangis seharian, dari pagi hingga sore dia menangis hingga sesenggukan karena di tinggal Zen pergi.
Ponsel nya terus berdering hingga membuat nya mau tak mau harus bangun dari tidur nya dan mengangkat panggilan telepon yang entah dari siapa.
"Hallo, siapa ya?" Tanya Ica dengan suara serak, tanpa melihat nama pemanggil.
__ADS_1
"Ini Daddy sayang, kamu baru bangun tidur?"
Wajah Ica seketika berbinar cerah, dia bangkit dari tidur nya.
"Iya Dad, Ica ketiduran jadi gak kuliah." Jawab Ica sambil cengengesan.
"Daddy tau, mood mu belum membaik karena kepergian Daddy kan? Anak buah Daddy melaporkan nya sayang, kamu tak bisa berbohong."
"Iya Dad, maaf.."
"Tak apa sayang, sudah makan?"
"Belum Dad, gak selera nanti aja." Jawab Ica manja.
"Makan yang bener, nanti Daddy pulang di bawain oleh-oleh."
"Iya Daddy, Ica kangen Dad.."
"Kamu doain pekerjaan Daddy cepet selesai ya, biar kita bisa sama-sama lagi, Daddy juga kangen sayang."
"Jangan lama-lama ya Dad,"
"Iya sayang, selesai proyek Daddy langsung pulang. Daddy baru sampai hotel, mau istirahat dulu. Nanti Daddy telpon lagi ya, jangan sedih."
"Iya Dad, Ica nanti mau ke mall beli tas buat kuliah besok. Daddy tidur yang nyenyak dan mimpiin Ica ya, Love you."
"Love you too my little angel." Balas Zen membuat Ica berteriak kegirangan karena Zen membalas ungkapan cinta nya.
Itu artinya ada kemajuan kan? Zen sudah mulai mencintai nya kan? Tapi bagaimana jika itu hanya untuk menghibur nya saja?
"Gapapa lah, yang penting Daddy bales ucapan cinta ku, uhhh seneng nya.." Pekik Ica, gadis itu melompat-lompat di atas ranjang saking senang nya.
....
🌷🌷🌷
__ADS_1