
Azwar dan Sintia berjalan bergandengan, pria itu berjalan gontai di belakang sang istri, jujur saja dia lemas setelah mendengar kenyataan pahit kehidupan sang adik.
Di luar ruangan, dia bertemu dengan Zen dan Arian yang saling diam-diaman, entah ada apa dengan kedua pria dewasa itu. Sepertinya mendebatkan sesuatu dan salah satu nya kalah berdebat.
"Kak.." Sapa Arian ramah, Azwar hanya menganggukan kepala nya.
"Kenapa diam-diaman?" Tanya Azwar membuat kedua nya kompak memalingkan pandangan, bisa di pastikan mereka sedang marahan. Lucu sekali, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang merajuk. Tapi bedanya kedua nya laki-laki berstatus atasan dan bawahan.
"Dia gelay bang." celetuk Zen membuat Arian mendelik.
"Idih, gelay apaan. Lu aja kali yang gelay, nyebelin." Ketus Arian dengan tatapan mata sebal nya. Membuat Sintia terkekeh melihat kedua pria di depan nya ini.
"Gelay.." Ledek Zen.
"Bucin!"
"Lu juga bucin Rian." Balas Zen tak mau kalah.
"Bodo, bukan urusan Lo!" Azwar menggelengkan kepala nya heran melihat interaksi kedua nya.
__ADS_1
"Gue masuk dulu, pen lihat keadaan Meisya dulu." Ucap Azwar. Dan lagi-lagi keduanya kompak menganggukan kepalanya, bahkan saat tak sengaja tatapan mereka bertemu pun, buru-buru keduanya memalingkan wajah.
"Lucu ya mereka, Yang."
"Seperti biasa, Tuan Zen memang penuh kejutan. Aku aja gak tau dia bisa bersikap seperti itu pada Arian. Nanti gak lama juga mereka akur lagi, udah biasa kok." Jawab Azwar, dia memang tau Arian dan Zen itu seperti kucing dan Anjingg yang tak pernah akur, paling akur sebentar nanti juga ada aja yang membuat keduanya berdebat karena perbedaan pendapat dan membuat mereka marahan, tapi besoknya akan akur lagi seperti biasa.
"Selamat pagi adik-adik kakak.." Sapa Azwar membuat kedua perempuan yang sedang mengobrol itu langsung menoleh bersamaan.
"Pagi juga Kak." Jawab kedua nya kompak.
"Bagaimana keadaan mu Mei?" Tanya Azwar, dia duduk di samping ranjang, berdekatan dengan kepala Meisya.
"Sabar Mei, ini semua cobaan. Ibu juga sudah mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya."
"Maksudnya Kak?" Tanya Meisya.
"Ibu di penjarakan oleh Tuan Zen, dan kamu tau sendiri, keputusan nya bersifat mutlak dan tak bisa di ganggu gugat. Hukuman penjara seumur hidup, rasanya setimpal dengan semua kejahatan nya selama ini."
Meisya menitikkan air mata nya, dia tak menyangka ibu kandungnya begitu tega menyakiti putri nya sendiri, setidaknya darah wanita itu mengalir di dalam tubuhnya, meski sasaran nya memang bukan dirinya tapi Ica, tapi bukankah ini tak pantas di lakukan oleh figur seorang Ibu?
__ADS_1
Nyatanya, sang Ibu hanya peduli dengan uang dan kekayaan, hingga rela mengorbankan apapun, termasuk masa depan anaknya sendiri. Bahkan dengan kejam nya, dia menjual kali pertama Meisya pada pria paruh baya kaya yang sanggup membayar keperawannan Meisya dengan harga yang fantastis, kejadian nya mirip seperti Ica yang di jual pada pria paruh baya yang memiliki 2 istri dengan harga 3M.
Bedanya, Ica terbebas dari sang ibu karena mempunyai Zen yang bisa membantunya, sedangkan dia tak bisa melakukannya, semua pria hanya membutuhkan tubuhnya saja untuk menyalurkan hasratt mereka, tapi tak peduli apapun. Sangat miris sekali hidup Meisya, di perbudak oleh ibunya sendiri. Beruntung saja dia masih di beri kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
"Kenapa bengong Mei? Kamu memikirkan Ibu? Sudahlah, dia tak pantas di pikirkan. Kakak tau dia ibu kita, tapi perbuatan nya sungguh membuat kakak malu."
"I-iya Kak, Meisya gak lagi mikirin Ibu kok. Mei cuma bersyukur, Mei masih hidup sampai saat ini, Mei merasakan kasih sayang yang sebelumnya gak pernah Mei dapat dari Ibu, malah Mei dapat dari kalian." Ucap Meisya, meski air mata nya terus mengalir, tapi dia tersenyum tulus.
"Kita adik kakak kan? Ya meski aku hanya adik tiri sih, tapi aku sayang kalian berdua."
"Jangan bicara seperti itu, kami juga menyayangi mu Ca. Meisya berani melakukan ini demi menyelamatkan mu, itu tandanya kakak mu ini juga menyayangimu. Kamu adik bungsu kami,"
"Terimakasih kak, Ica beruntung punya kalian berdua, ehh bertiga deh ya sama bumil." Sintia tersenyum di belakang Ica. Betapa menyenangkannya punya adik seperti Ica, sudah cantik, dia juga baik, ceria, ramah dan tak suka membeda-bedakan orang lain.
......
π·π·π·π·
Besok up lagi, jangan lupa vote nyaππ
__ADS_1