Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 129


__ADS_3

Pagi hari ini Risya benar-benar bersiap parah, dia menyalurkan semua kemampuan berhias diri nya, dari mulai memakai primer, cushion, eyeshadow tipis-tipis, tak lupa memakai eyeliner dan mascara agar mata nya nampak lebih cantik, juga blush on dan liptint sesuai saran dari Ica kemarin. Rambut nya yang biasa dia kepang 2, kini terurai indah. Dia mencatok nya sedikit agar lebih rapi.


Hari ini juga, dia akan berangkat sendiri tanpa menunggu Brian, dia akan membuat pria itu kaget dengan perubahan nya.


Risya pergi kuliah naik bus, penjaga di rumah nya hampir tak berkedip saat melihat Nona muda yang berubah 180%.


"Selamat pagi pak."


"Pagi Nona, mau ngampus?"


"Iya pak."


"Mau di antar atau ada yang jemput?" Tanya penjaga rumah itu.


"Tak usah pak, saya naik bus saja. Saya pergi dulu ya.." Risya berlari karena takut ketinggalan bus, untung saja bus nya belum ada.


.....


Di kampus, Brian mondar mandir tak jelas di kantin, dia menanti Risya yang belum datang juga, telepon tak di angkat dan pesan yang dia kirim juga masih ceklis satu.


"Napa sih Bri? Bisa diem gak? Pusing gue liat Lu mondar-mandir terus kaya strikaan." Celetuk Ica, gadis itu sibuk makan bekal yang dia bawa. Bekal istimewa yang Daddy nya siapkan, entah kenapa pria itu juga berubah menjadi sangat manis.


"Risya belum datang juga Ca, dia gak ada jawab telepon gue, pesan juga masih ceklis."


"Kali aja lagi di jalan, emang Lu sama Risya ada hubungan apa Bri?" Tanya Ica membuat Brian bungkam. Hubungan nya dengan Risya memang apa? Cuma sekedar teman kan?


"Cu-cuma temen."


"Kalo cuma temen, gue yakin Lu gak bakal sepanik ini. Biasa aja kalo dia emang temen dan gak istimewa. Jujur sama Gue, Lu naksir Risya kan?"


Brian duduk di samping Ica, apa dia harus jujur?


"Emmm, Gue ada rasa sih sama Risya. Tapi gue gak tau ini obsesi atau cinta beneran, gue takut dia kecewa kalo ini cuma obsesi doang." Jawab Brian pelan.


"Yakinin dulu hati Lu, Bri. Gue yakin sih itu cinta, soalnya semingguan ini Lu mepet sama Risya terus."


"Gue gak tau Ca, tapi saat bareng-bareng sama Risya bawaan nya nyaman terus, tapi gue jadi sensitif, liat dia pake baju ketat aja, sosis gue langsung bangun, belum lagi jantung gue berdetak lebih cepat gitu, padahal gue gak ada riwayat penyakit jantung, Ca." Jelas Brian.


"Hati Lu berdebar gak saat liat Risya?"


"Iya Ca, kok Lu tau?"


"Gue udah lebih duluan ngerasain tanda-tanda jatuh cinta Bri, gue ngerasain itu semua sama Daddy." Jawab Ica.


"Jadi, apa itu bisa disebut cinta?"


"Mana gue tau, kan itu hati Lu, pastiin perasaan Lu gimana sama Risya, jangan buat dia kecewa." Brian menganggukan kepala nya, hingga suara riuh mengganggu membuat kedua nya mengalihkan pandangan mereka ke belakang.


"Hai Ca," Risya datang lalu duduk berhadapan dengan sahabat nya, sedangkan Ica dan Brian masih melongo melihat gadis cantik yang duduk di depan nya.


"Kalian kenapa sih? Di sapa bukan nya jawab malah bengong."


"Lu Risya kan?"


"Lahh iya, Gue Risya. Emang napa?"


"Buseett cantik bener.." Heboh Brian, refleks Ica memukul lengan nya cukup keras, membuat pria itu meringis.


"Sakitt anjirr.."


"Lu heboh bener, kan gue udah bilang. Risya itu cantik, Lu nya aja yang telat nyadar."


"Menurut Lu gimana Ca, gue pantes gak sih berpenampilan gini? Rasa nya kok gak pede gitu."

__ADS_1


"Napa harus gak pede, Lu cantik. Gue jamin tuh cowok klepek-klepek sama Lu Sya." Ucap Ica sambil mengacungkan jempol nya ke arah Risya.


"Cowok? Lu punya cowok Sya?" Tanya Brian.


"Gak sih, masih gebetan mungkin."


"Siapa Sya? Anak kampus mana?" Tanya Brian mendesak.


"Anak kampus ini dong." Jawab Risya sambil tersenyum manis.


Brian terlihat berfikir, mata nya menatap nanar ke arah Risya yang nampak cantik dengan rambut panjang nya.


"Nape Lu liatin gue kek gitu, Bri?"


"Jadi Lu berubah karena tuh cowok?"


"Gak sih, gue emang mau berubah aja. Gue cape jadi cupu terus, kali-kali jadi cewek cantik biar orang-orang pada naksir ma gue."


"Gak bisa gitu dong Sya."


"Lah napa?"


"Soalnya gue.." Brian menutup mulut nya, takut keceplosan mungkin. Ica dan Risya bertatapan, Ica tersenyum begitu juga Risya.


....


Kelas selesai Ica pamit untuk pergi ke kantor Daddy nya, mobil jemputan nya sudah menunggu.


"Sya, gue anter Lu pulang ya?"


"Gak ahh, gue gak mau jadi korban modus Lu lagi."


"Ayolah Sya, gue mau ngomong serius."


"Tempat nya gak sesuai, gimana kalo ngomong nya di rumah Lo aja?"


"Itu mah mau nya Lu, gue gak mau jadi korban pelecehaan lagi ya."


"Pelecehann apaan? Lu lupa kalo Lu juga ikut menikmati?"


"Ya tetap aja Lu cowok kurang ajar."


"Cuma bibir doang Sya, belum ke bibir yang bawah."


"Ihh anjirr Lu makin lama makin mesoom."


"Gue mesumm sama Lo doang Risya, mau ya?"


"Yaudah lahh, hemat ongkos juga. Tapi gue pake rok." Jawab Risya akhirnya. Brian membuka jaket nya dan mengikat nya di pinggang Risya.


"Lain kali pake celana aja, jangan pake rok pendek."


"Emang nya kenapa?" tanya Risya.


"Biar gampang naik motor nya, itu paha Lu gak bakal keliatan kalo pake celana." Risya hanya ber oh ria.


Risya pun pulang di antar oleh Brian dengan motor sport nya.


....


Di kantor, Zen sedang pusing tujuh keliling. Pusing karena pekerjaan yang menumpuk, pusing juga karena jatah malam nya tak bisa dia salurkan, sarang nya masih banjir bandang.


"Permisi tuan."

__ADS_1


"Ya Bimo, kenapa?" Tanya Zen sambil memijat kening nya.


"Ini berkas-berkas pengajuan kerja sama dari AR Corp."


"Sudah kau cek dulu kan?"


"Sudah tuan." Zen segera menanda tangani berkas-berkas itu, tanpa membaca nya terlebih dahulu, dia sudah sangat percaya pada asisten nya.


"Bagaimana kelanjutan kasus 15 tahun lalu Bim?"


"Tuan dan Nyonya Ambarella sudah di tahan di kantor polisi, tapi mereka kekeh akan menuntut balik."


"Cihh, menuntut balik? Apa mereka masih merasa tidak bersalah apapun? Setelah membunuh tiga nyawa sekaligus?"


"Siapkan saja pengacara yang terbaik, dan jangan biarkan mereka menyewa pengacara untuk melawan ku. Kalau perlu ancam mereka."


"Saya mengerti tuan, kalau begitu saya permisi dulu."


"Pergilah Bim, terimakasih atas kerja keras mu."


"Sudah tugas saya tuan." Jawab Bimo sambil tersenyum, lalu keluar dari ruangan Zen.


Tak lama pintu terbuka lagi, kali ini Ica yang datang dengan binar cerah di wajah nya.


"Daddy ku sayang, selamat siang.."


"Bby, kamu sudah datang rupa nya. Kemari sayang, Daddy butuh vitamin." Ica mendekat dan duduk mengangkaang di pangkuan Zen.


"Masih datang bulan sayang?" Tanya Zen sambil meraba paha gadis nya.


"Masih Dad, sedikit lagi tinggal flek nya aja. Kenapa? Pengen ya?" Tanya Ica sambil mengusap lembut wajah Zen.


Zen menganggukan kepala nya, dia begitu merindukan lubang sempit yang selalu membuat nya ketagihan.


"Sabar ya Daddy, Ica juga kangen terong Daddy, tapi ya mau bagaimana lagi, Ica perempuan sehat yang selalu kedatangan tamu setiap bulan." Jawab Ica.


"Iya sayang, apa kamu masih meminum pil yang Daddy berikan?" Tanya Zen.


"Iya Dad, Ica selalu minum. Memang nya kenapa?"


"Sebentar lagi Daddy 30 tahun, usia yang pas untuk punya anak. Kamu siap kalau hamil?"


"Lalu, bagaimana dengan kuliah Ica?" Tanya Ica, dia tak keberatan kalau Zen meminta nya hamil, tapi bagaimana dengan pendidikan nya?


"Kamu bisa kuliah di rumah, Daddy akan menyewa dosen ke rumah. Kamu mau mengandung anak Daddy?"


"Iya Dad, Ica mau." Jawab Ica, membuat Zen tersenyum senang, dia mengecup mesra bibir Ica lalu memeluk nya, tanpa berubah posisi.


"Jadi, jangan minum pil itu lagi ya."


"Iya Dad, tapi kalo Ica hamil gimana? Kita kan belum menikah?" Kali ini Zen yang diam.


"Kenapa diam Dad? Apa Daddy tak mau menikah?"


"Jangan bahas itu sekarang sayang, Daddy ingin vitamin." Tanpa persetujuan, Zen membuka kancing dress Ica, mengeluarkan salah satu buah kenyal gadis itu dan menguluum puncak nya.


Ica mengusap kepala belakang Zen seperti biasa nya, meski hati nya bergejolak, kenapa Zen diam saja saat dia bertanya tentang pernikahan, apa pria itu punya masalah? atau dia memang tak mau menikahi nya?


Entahlah, itu hanya Zen yang tau. Dia sudah berusaha sebisa mungkin, tapi yang nama nya wanita tetap butuh kepastian, mungkin nanti dia akan tanya lagi pada Zen, sekarang bukan waktu yang tepat. Dia tau keadaan Daddy nya sedang tidak baik-baik saja, kalau dia terlalu menuntut, khawatir saja dia akan terbebani.


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan hadiah nya, komentar dan like😘


__ADS_2