Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 132


__ADS_3

Pagi ini, Zen pergi tanpa bicara sepatah kata pun pada Ica, membuat gadis itu merasa bersalah. Semalam, dia kembali menanyakan kenapa alasan Zen tak mau menikahi nya, tapi seperti saat di kantor pria itu hanya diam, tak menjawab apa-apa. Dan pagi ini dia pergi tanpa berpamitan pada Ica.


"Daddy.." Panggil Ica, gadis itu baru saja terbangun dari tidur nya. Biasa nya Zen akan menyambut nya dengan kecupan mesra, tapi pagi ini pria itu tak mengecup nya, bahkan pemilik raga kekar itu pun tak terlihat di ruangan itu.


Ica buru-buru bangun, dia menguncir rambut nya asal, lalu keluar dari kamar dengan masih memakai piyama pendek nya.


"Selamat pagi Nona." Sapa Bi Arin.


"Pagi Bi, bibi lihat Daddy?" Tanya Ica langsung.


"Tuan muda sudah pergi bersama Asisten Bimo, Nona. Ada apa?"


"Daddy tak berpamitan, apa dia marah ya? Apa aku terlalu menuntut?" Gumam Ica, hati nya terasa sesak. Tiba-tiba saja air mata nya mengalir deras.


"Nona, apa Nona baik-baik saja? Kenapa menangis?"


Ica menghambur memeluk Bi Arin, wanita paruh baya yang Ica anggap sebagai ibu di mansion ini.


"Bibi, seperti nya Daddy marah ya?"


"Tentu tidak Nona, memang nya apa yang membuat Tuan muda marah pada Nona?"


"Apa aku terlalu menuntut Bi? Aku hanya tanya pada Daddy, apa alasan nya tak mau menikahi ku. Tapi dia meminta aku untuk mengandung anak nya, katakan Bi, apa aku salah?"


"Aku tak mau anak ku lahir tanpa status yang jelas, aku tak mau hamil di luar nikah Bi." Ucap Ica sesenggukan. Gadis itu menangis di pelukan Bi Arin.


"Mungkin Tuan hanya belum menyiapkan jawaban Nona,"


"Tapi Daddy mendiamkan Ica Bi, itu artinya dia marah kan?" Tanya Ica lagi.


"Mendiamkan bukan berarti marah Nona, jangan berfikiran yang tidak-tidak, sebaiknya Nona cepat bersiap, hari ini Nona ada kelas kan?"


"Tapi Ica gak mood buat ngampus.."


"Tuan pasti marah kalau Nona bolos kuliah," Nasehat Bi Arin sambil mengusap lembut rambut Ica.


"Yaudah deh, tapi buatin bekel ya Bi. Ica pengen nasi bakar, ayam goreng serundeng sama sambel bawang."


"Bibi udah siapin kok, tinggal nyambel doang. Bersiap ya, semangat."


"Makasih Bibi." Ica mengecup singkat pipi kanan Bi Arin, wanita paruh baya itu sudah terbiasa dengan kelakuan Nona muda nya itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.


Singkat nya, Ica pun berangkat kuliah di antar supir seperti biasa. Dengan mood yang anjlok, Ica keluar dari mobil dengan langkah pelan nya. Seperti biasa dia akan pergi ke kantin untuk sekedar makan, dan kedua sahabat nya selalu menunggu kedatangan nya di kantin.


"Hai Ca.." Sapa Risya dengan ceria.


"Hai Sya." Balas Ica dengan malas, membuat Risya dan Brian saling melemparkan tatapan heran, ada apa dengan Ica? Gadis yang biasa nya cerewet banyak omong, kini terlihat lebih pendiam. Pasti terjadi sesuatu.


"Lu kenapa Ca?" Tanya Risya.


"Bad mood, Daddy diemin gue guyss.." Jawab Ica sambil menunduk.

__ADS_1


"Lah kenapa?"


"Jadi gini, dia kan minta gue berhenti minum pil KB, dia pengen gue hamil anak nya. Tapi pas gue tanyain kapan nikahin gue, dia malah diam." Jelas Ica.


"Terus?"


"Tadi malem dia tidur di ruang kerja, pas pagi dia ngantor juga gak pamit sama gue." Jawab Ica.


"Gue gak punya solusi sihh, soalnya gue aja berguru nya dari Lu kan?"


"Gapapa Sya, udah pada makan? Makan yuk." Ajak Ica sambil mengeluarkan kotak bekal nya dari dalam tas.


"Belum, kita juga baru dateng." Jawab Risya, kedua nya pun duduk. Tapi kali ini posisi duduk nya agak berbeda, jika biasa nya Brian akan duduk di samping Ica, hari ini Brian memilih duduk di samping Risya.


"Kok bekal kalian sama? Wadah nya juga."


"Eemmm, ini cuma kebetulan. Iya gak sih Sya?"


"Iya mungkin." Jawab Risya berpura-pura cuek, mereka berdua sepakat untuk tak memberitahu Ica tentang hubungan mereka dulu.


Meski bad mood, tapi Ica tetap makan dengan lahap. Itu yang membuat Zen tak khawatir, meski pun marah tapi nafsuu makan gadis itu takkan pernah berkurang, justru bertambah jika dia sedang kesal.


.....


"Bagaimana Bim? Sudah bagus?" Tanya Zen, kedua pria itu tak ke kantor tapi ke suatu tempat.


"Bagus tuan, tinggal tambahkan bunga biru kesukaan Nona muda." Jawab Bimo.


"Tolong tambahkan bunga berwarna biru disana." Pinta Zen pada orang yang sedang sibuk berlalu lalang, mengerjakan tugas mereka masing-masing.


"Bagaimana dengan Hani, Bim? Dia bisa melakukan nya?"


"Bisa tuan, Nona Risya dan Brian juga sudah saya hubungi dan mereka semua sepakat akan melakukan nya bersama." Jawab Bimo.


"Bagus, aku tak sabar melihat ekspresi gadis ku." Gumam Zen, pria itu tersenyum smirk.


"Tuan, bagaimana dengan Rosa dan Jack? Apa kita habisi saja?"


"Mereka masih hidup, Bim? Bagaimana dengan Albert."


"Rosa masih tuan, sedangkan Jack kemarin sudah mulai batuk darah." Jawab Bimo.


"Kita kesana sekarang."


Bimo mengangguk dan pergi ke parkiran, mengemudikan mobil nya ke markas tempat Zen mengurung Rosa dan Jack, serta Albert.


Tak lama, kedua nya sampai di sebuah bangunan tua. Dari luar nya terlihat seperti tak ada kehidupan, tapi siapa yang tau kalau tempat itu adalah tempat Zen menyimpan senjata dan para penghianat.


"Selamat datang tuan Zen, tuan Bimo."


"Bagaimana Rosa?"

__ADS_1


"Wanita itu sudah mulai berhalusinasi, Jack mulai batuk darah, dan Albert masih belum bereaksi." Jawab salah satu anak buah Zen yang berjaga.


Zen melangkahkan kaki nya ke sebuah ruangan, baru anyir merebak membuat mual. Buru-buru Bimo memberikan masker dan Zen segera memakai nya.


Dia melihat Rosa yang tampak kurus kering, baju nya lusuh, rambut nya gimbal.


"Rosa.." Panggil Zen.


"Kau masih ingat dengan tempat ini? Kemana saja kau, aku sudah tak tahan. Bisakah aku mendapat keringanan?"


"Aku kesini justru untuk mengeksekusi dirimu." Jawab Zen dengan senyum smirk nya. Rosa terlihat biasa saja, tak menunjukan ekspresi apapun, mungkin dia sudah pasrah.


"Setidak nya itu lebih baik," Jawab Rosa pelan.


"Kau sudah pasrah?"


"Melawan aku tak bisa, jika memang itu yang terbaik, aku tak punya apa-apa lagi selain pasrah." Jawab Rosa.


"Ada pesan terakhir, sepatah atau dua patah kata?" Tanya Zen.


"Jaga adik ku, dia masih kecil untuk menghadapi dunia yang menyakitkan ini. Ibu juga hidup takkan lama lagi, karena operasi nya gagal. Jadi aku minta tolong jaga dia."


"Marisya Santika, itu nama adik mu kan? Tenang saja, dia berteman baik dengan gadis ku." Jawab Zen.


"Baguslah kalau kau sudah tau, setidaknya kau tak perlu repot-repot mencari adik ku."


"Jadi kau siap?"


"Lakukan saja, aku tak apa-apa. Ohh ya, aku minta maaf padamu dan Ica."


"Aku yakin gadis ku sudah memaafkan mu, karena dia gadis yang baik." Jawab Zen.


"Kau sendiri?"


"Tentu nya kau tau sendiri, aku pria yang kau hianati selama bertahun-tahun. Takkan semudah itu aku memaafkan semua kesalahan mu, Ros. Tapi seiring berjalannya waktu, mungkin aku bisa memaafkan mu, setelah kematian mu nanti."


"Ahhh ya, aku lupa siapa kau. Terimakasih untuk semua nya Zen."


"Sama-sama." Jawab Zen, pria itu pun pergi di ikuti Bimo. Dia memang tak pernah mengotori tangan nya dengan membunuh para penghianat, dia mempercayakan semua nya pada anak buah nya. Dia menyewa pembunuh bayaran dengan harga tinggi secara khusus untuk mengeksekusi para penghianat.


.....


Sore hari, Ica sudah bersiap pulang. Dia membawa tas nya, tapi tiba-tiba seseorang menutup mulut nya dengan sapu tangan yang sudah di bubuhi obat bius, pandangan nya kabur, hingga dia tak sadarkan diri.


Orang itu mengangkat tubuh Ica dan memasukan nya ke dalam mobil, mobil pun melaju entah kemana.


.....


🌷🌷🌷🌷


Selamat pagi, masih nunggu novel ini? Terimakasih buat yang masih nunggu😘 jangan lupa tinggalkan jejak, dengan like,komen,vote, gift/hadiah💜

__ADS_1


__ADS_2