
Warning, baca nya sore ya🤭 ini udah di up malem tapi baru lolos😙
Ica langsung ke kamar, gadis itu membuka sweater yang tadi membungkus tubuh nya, menyisakan tangtop ketat dan celana hotpants. Selain ingin menjelaskan kenapa telat menjemput, seperti nya Zen juga akan marah besar karena saat ngobrol judes dengan Brian, gadis itu memakai celana yang sama.
Pintu terbuka, Zen masuk lalu mengunci pintu. Dia mendekati Ica yang sedang duduk di sisi ranjang sambil memainkan ponsel nya.
"By.." Panggil Zen, tapi gadis itu hanya melirik sekilas lalu fokus lagi ke ponsel, membuat Zen gemas dan merebut paksa ponsel Ica.
"Apa sih Dad? Kembaliin ponsel Ica!" Ketus Ica.
"Dengerin Daddy bicara dulu sayang."
"Ya Ica akan dengerin setelah selesai mengupload poto di media sosial." Jawab Ica, membuat Zen penasaran, sedang apa Ica dengan ponsel nya.
Zen melihat Ica sedang menulis caption tapi belum selesai, keburu dia rebut.
"Siniin dulu.." Pinta Ica, Zen pun memberikan ponsel itu dan duduk di samping Ica.
"By.."
"Hemmm..." Ica hanya berdehem sebagai jawaban.
"Maaf telat menjemput mu sayang."
"Kalau emang gak bisa, harus nya nyuruh siapa gitu buat jemput? Atau memang fasilitas itu sudah tidak tersedia, biarkan Ica naik kendaraan umum. Untung aja tadi ada Brian yang nganter, kalau nggak sekarang aku pasti masih di kampus nunggu Daddy." Jelas Ica panjang lebar.
"Maaf sayang, Daddy sibuk kerja tadi."
"Aku tau kok Daddy orang penting yang selalu sibuk, berbeda dengan aku."
"Jangan begitu sayang, kamu penting buat Daddy."
"Sudahlah, lebih baik Daddy mandi sana."
"Maafin Daddy, By."
Ica melengos pergi dari hadapan Zen dan membuat rasa bersalah yang hinggap di hati Zen semakin terasa. Dia tau gadis nya pasti kecewa, dia tak bisa menyalahkan ke kesalan gadis nya, tapi dia tak bisa di diamkan.
Zen mengejar Ica yang baru saja akan memutar anak kunci, pria itu memeluk nya dari belakang.
"By, kamu boleh marah. Silahkan marahi Daddy sepuas kamu, Daddy tau Daddy salah. Tapi jangan diam gini sayang, Daddy gak bisa!"
"Sudahlah Dad, lagian aku sudah pulang dengan baik-baik saja. Mandi, Ica siapin baju nya." Jawab Ica.
"Tapi kamu apa-apaan By, kok pake celana gitu di depan pria lain?"
"Lupa, sudah mandi sana." Ica mendorong tubuh Zen dan memaksa nya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada aja cara nya buat aku luluh, Dad." Gumam Ica sambil tersenyum, tadinya dia memang marah dan kesal karena Zen tak menepati janji nya, tapi setelah melihat tatapan nya membuat Ica tak tega.
Ica memilih piyama berwarna hitam untuk Zen, pria itu memang penyuka warna hitam, jadi sebagian besar pakaian nya berwarna hitam.
__ADS_1
Baru saja Ica menutup pintu lemari, sepasang tangan kekar memeluk nya dari belakang, bahkan tetesan air terasa membasahi pundak nya.
Zen mengecup basah tengkuk leher gadis nya, membuat gadis itu merinding.
"Daddy.." Rengek Ica.
"Iya sayang, kenapa?"
"Rambut Daddy basah tuh, netes-netes ke baju Ica."
"Buka aja baju nya By, mudah kan?"
"Isshh, itu mah mau nya Daddy kan? Ayo ngaku!"
"Ya kan Daddy normal sayang, mana tahan kalau liat tubuh kamu. Pasti Daddy sangat tergoda, makanya Daddy basahin biar kamu buka."
"Rencana yang sangat mesoom." Ica berbalik dan pemandangan tubuh Zen tersaji di depan mata nya, perut roti sobek favorit nya begitu menggoda untuk di sentuh.
Zen mengungkung Ica di depan lemari, membuat gadis itu berusaha kabur, tapi dia tak bisa karena Zen sudah lebih waspada.
"Mau kemana By? Tak semudah itu kamu lari setelah buat Daddy cemburu."
"Cemburu kenapa Dad?" Tanya Ica, dia mana tau alasan pria ini cemburu.
"Karena kamu boncengan motor sama pria berambut mangkok itu, juga kamu pakai celana minim di depan pria itu."
Ica menelan ludah nya kasar, di pastikan nasib nya akan sangat miris nanti, pasti di hajar habis-habisan oleh Zen karena keteledoran nya malah memakai celana pendek di depan Brian.
"Terima hukuman mu, sayang." Bisik Zen, membuat darah gadis itu berdesir hebat, apalagi saat lidah pria itu terjulur menjilat belakang telinga nya.
Ica baru sadar saat tangan pria itu mengelus inti nya dengan lembut.
"Daddy.."
"Ini hukuman untuk gadis nakal seperti mu." Zen menyeringai nakal menatap gadis nya yang mulai ketar ketir, belum lagi dia baru sadar kalau celana dankain segitiga milik nya sudah teronggok mengenaskan di lantai, bertambah syok saja Ica di buat nya.
Zen mulai mengikis jarak membuat Ica makin terpojok di sisi lemari, dengan sekali tarik handuk yang sedari tadi menutupi senjata nya jatuh begitu saja.
"Daddy, masih sore.."
"Ini kan hukuman, jadi kamu tak bisa menolak!" Tegas Zen membuat Ica pasrah saja.
Zen memulai dengan adu bibir, meski awalnya tak mau, tapi Ica tak bisa menolak sentuhan Zen, dia menyukai sentuhan pria itu.
Tanpa mengulur waktu, Zen segera menyatukan diri, membuat inti gadis nya berkedut hebat karena belum sepenuh nya basah.
Ica menggigit bibir Zen, membuat Zen melepaskan tautan bibir nya, tapi tidak dengan tautan sesuatu di bawah.
"Kenapa di gigit, By?"
"Daddy ini suka seenak nya ya sama Ica? Milik Ica belum basah udah maen masuk aja!" Ketus Ica, dia kesal karena Zen tak memikirkan milik nya.
__ADS_1
"Maaf sayang, Daddy suka sempit nya."
"Sakit."
"Iya maaf, By." Ica memalingkan wajah nya ke samping, tapi Zen dengan cepat meraih dagu gadis nya dan membuat nya menatap ke arah nya. Zen kembali menyatukan bibir nya dengan bibir Ica sambil bergerak memompaa sesuatu di bawah keluar masuk pada tempatnya.
Akhirnya Ica terbawa suasana dan mengalungkan tangan nya di leher Zen. Sesekali bibir mereka terlepas karena Zen bermain-main di leher jenjang gadis nya, belum hilang tanda yang waktu itu dia buat, sekarang dia tambah.
Zen melepaskan penyatuan nya dan membalik tubuh Ica, meletakan tangan nya di sisi lemari untuk tempat nya berpegangan. Zen menghajar Ica dari belakang, membuat tubuh gadis itu terguncang hebat karena hentakan dari belakang tubuh nya.
"Daddy.."
"Sebentar lagi sayang, tahan.."
Akhirnya setelah beberapa menit di pacu dengan kecepatan tinggi, Zen mengeluarkan cairan hangat nan kental di dalam inti gadis nya.
"Terimakasih sayang." Zen memeluk Ica dan mendaratkan kecupan mesra di kening sang gadis.
"Lemes Dad, gendong." Pinta Ica sambil merentangkan tangan nya. Zen tersenyum simpul dan menuruti permintaan gadis nya, dia menggendong tubuh mungil Ica dengan keadaan tanpa pakaian sehelai pun.
"Istirahat dulu ya, By. Daddy pakai baju dulu.." Ica mengangguk lemah dan membiarkan pria itu pergi lagi ke kamar mandi.
Zen mengelap lantai dengan tisu, tadi beberapa tetes cairan yang di tumpahkan meluber hingga menetes di lantai.
Dia segera memakai pakaian nya dan menghampiri gadis nya.
"Celana Ica mana Dad?"
"Celana apa sayang?"
"Celana Ica sama segitiga yang tadi Daddy buka."
"Buat apa gitu?"
"Ya di pake Dad, masa Ica tidur gak pake celana? Yang ada Daddy keenakan bisa masuk semau nya."
"Itu tau, gak usah pake celana. Bobo aja ya sayang."
"Enak aja, Ica belom makan!" Ketus Ica membuat Zen tergelak, jika masalah makanan gadis nya paling depan.
"Nanti biar bi Arin yang anter kesini ya, By."
"Terserah, Ica mau tidur dulu ngantuk, capek juga."
"Yaudah bobo dulu, mau Daddy peluk?"
Tentu saja Ica langsung berbalik dan memeluk tubuh Zen dengan erat.
....
🌷🌷🌷
__ADS_1
senyum nyaaa😪😪💜