
Ica kembali ke ruangan make up bersama Zen, dia melihat kedua teman nya sedang makan.
"Makan gak bagi-bagi." Ketus Ica lalu duduk di depan Hani, begitupun dengan Zen yang memilih duduk di samping gadis nya.
"Aku kira masih lama, jadi gak aku pesenin nanti keburu dingin."
"Pesenin sana.."
"Emoh ahh, tinggal panggil kang bakso nya aja kok."
"Berapa porsi beb?" Tanya Hani.
"Daddy mau?"
"Boleh, tapi jangan pedes."
"3 ya beb.."
"Lho kok tiga?" Tanya Hani dengan kening yang berkerut.
"Iya lah, aku dua mangkok Daddy satu. Salah?"
"Astaga aku lupa, sahabat ku memang doyan makan."
"Jan nyindir, Lu juga sama kali."
Hani hanya nyengir kuda, dia segera pergi memesan bakso.
"Pengumuman nya jam berapa Sya?"
"Jam 4 Beb, bentar lagi. Gak sabar pengen tau siapa yang menang, semoga aja kamu menang ya Ca."
"Makasih Sya, semoga aja. Nanti kalau aku menang, aku traktir kalian berdua."
"Wihh, aku denger kata traktir nya lho.." Celetuk Hani yang datang di ikuti abang-abang penjual bakso dengan baki di tangan nya.
"Makasih bang,"
"Sama-sama Neng."
Ica mulai memakan bakso dengan kuah bening, di depan Zen dia mana berani makan makanan pedas, bisa di amuk habis-habisan nanti.
"Tumben gak pake cabe, Ca." Celetuk Risya membuat Ica mendelik.
"Memang nya Ica kalau makan bakso suka pakai cabe?" Tanya Zen.
"Dikit Dad."
"Dikit apaan, sampe di tuang dari mangkok nya kok ngomong dikit." Cetus Risya membuat Ica kesal karena sudah pasti hukuman sudah menanti nya.
"Baby, nakal ya.."
"Ya maaf Dad, Ica gak bisa makan tanpa pedes."
"Sekarang kok bisa?" Tanya Zen membuat Ica nyengir.
__ADS_1
"Soalnya ada Daddy.."
"Baguslah, makan bakso nya di bening aja. Awas kalo makan pedes lagi, Daddy hukum."
"Iya Dad." Jawab Ica lesu, hukuman yang di maksud Zen pun dia sangat mengerti, apalagi kalau bukan hukuman di ranjang.
....
Waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba, Ica, Hani dan Risya duduk bersampingan, mereka menantikan pengumuman siapa pemenang utama dari lomba menyanyi ini.
"Degdegan parah sampe mules." Celetuk Ica mencoba mencairkan suasana yang tegang.
"Iya bener, kenapa ya kalo gugup suka mules?" Tanya Hani.
"Aku kalo gugup malah laper.." Cetus Risya membuat mereka tertawa.
MC naik ke panggung dengan membawa secarik kertas, mungkin berisi nama-nama juara yang akan dia panggil.
"Baiklah, tanpa mengulur waktu lagi. Mari kita umumkan dari juara ketiga dulu."
"Kira-kira siapa? Selamat kepada perwakilan universitas Bina bangsa."
"Silahkan naik ke panggung."'MC mempersilahkan juara ketiga untuk naik ke panggung, karena masih ada juara pertama dan kedua yang belum di umumkan.
"Untuk juara kedua, perhitungan nilai cukup seri, hanya selisih 6 suara saja. Tanpa menunggu lagi, mari kita umumkan juara kedua. Perwakilan dari universitas Antara Bakti, selamat." Mereka bertepuk tangan riuh, termasuk para penonton dari perwakilan kampus tersebut.
"Kayak nya aku gak menang beb, nyesek gini." Keluh Ica.
"Belum beb, masih ada juara pertama yang masih jadi misteri."
"Gak ada yang gak mungkin Lho beb,"
Kedua sahabat itu memegang tangan Ica erat, apalagi saat suara MC mulai terdengar lagi.
"Yang di tunggu-tunggu, juara pertama lomba pertama ini adalah..."
"Selamat kepada perwakilan Universitas Internasional, Nona Wenthrisca Liu. Selamat, silahkan naik ke atas panggung untuk penerimaan hadiah."
Ica melotot begitu mendengar nama nya yang di sebut, sedang kedua sahabat nya sudah berteriak heboh karena bahagia.
"A-aku?" Tunjuk Ica pada dirinya sendiri.
"Iya bestie, selamat.." Teriak Hani heboh, membuat Ica tersenyum ceria. Rasa nya tak percaya dia menjadi juara di lomba ini.
Ica pun naik ke panggung dengan kaki yang terasa bergetar, ini pertama kali nya dia menjadi pusat perhatian banyak orang.
Ica menerima hadiah uang dengan sertifikat dan beberapa buket bunga.
"Selamat Nona dan terimakasih atas partisipasinya."
"Sama-sama kak."
Ica pun turun, tentu nya di bawah panggung dia sudah di sambut sang Daddy yang bersiap memeluk nya.
Ica mendekat dan langsung menghambur memeluk Zen dengan erat.
__ADS_1
"Selamat atas kemenangan mu sayang, selamat."
"Terimakasih Daddy tampan ku." Kalau saja ini bukan tempat umum, Zen pasti sudah memakan habis bibir mungil itu saking gemas nya.
Zen hanya mengecup singkat kening Ica, dan mengusap dengan sayang kepala gadis nya.
"Daddy, rasanya Ica kayak mimpi bisa jadi juara."
"Karena suara kamu memang sangat bagus sayang, Daddy saja sampai terbawa suasana."
"Daddy gemas ingin mencium mu sayang, ayo ke mobil." Zen menarik tangan Ica ke parkiran.
"Tapi, Risya sama Hani?"
"Mereka udah pulang duluan." Bohong Zen.
"Seriusan?"
"Daddy pasti tipu kan?"
"Ngapain Daddy tipu sayang, nggak kok. Ayolah.."
"Issshhh Daddy ini, gak dimana-mana pasti nyosor, tadi kan di toilet udah Dad."
"Memang nya kenapa, bibir kamu milik Daddy kan?"
"Iya sih, tapi gak disini juga Dad."
"Cepatlah.." Zen kembali menarik tangan Ica, memasuki kawasan parkiran. Untung nya tempat itu sepi, jadi Zen segera melancarkan aksi nya dengan mencium Ica di luar mobil.
"Dad.."
Zen terus mencium Ica dengan beringas, membuat Ica kewalahan, belum lagi dia khawatir ada yang memergoki nya dan itu pasti akan menjadi berita yang viral sekampus.
Ica berusaha mendorong dada bidang Zen dengan sekuat tenaga, hingga membuat Zen akhirnya melepaskan ciuman nya.
"Jangan begini Dad, ini merugikan untuk ku. Bagaimana jika ada orang yang memotret kita dalam posisi tadi, bisa kacau isi kampus nanti."
"Maafin Daddy sayang."
"Terserah lah.." Ica merajuk dan dia masuk ke dalam mobil meninggalkan Zen di luar.
Tapi, lagi-lagi Brian melihat semua nya. Dia kembali menelan pil pahit setelah melihat gadis pujaan nya bercumbu dengan pria lain di depan mata nya sendiri.
"Sesek banget dada gue.." Gumam nya sambil memegangi dada nya yang terasa sesak.
...
🌷🌷🌷
Udah di ingetin tapi ngeyel, jadi nya gini. yang sabar ya abang Bri, nanti author cariin jodoh buat mu😙
abang Bri, visual nya Song Won-seok😙
__ADS_1