Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 167


__ADS_3

Pagi harinya, Hani terbangun lebih dulu. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk segera memulai aktivitas nya, dia langsung pergi ke luar kamar, sedangkan Bimo dia belum menyadari kalau Hani sudah tak ada dalam dekapan nya lagi, dia tertidur sangat nyenyak, mungkin karena lelah setelah kemarin membantu persiapan pernikahan Azwar.


Tak lama, bel pintu terdengar. Hani buru-buru membuka pintu dengan perlahan, ternyata Ica dan Risya yang datang. Mereka mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan.


"Lu udah ngasih obat itu kan, Han?" Tanya Ica, Hani mengangguk mengiyakan.


"Oke berarti kita cuma punya waktu 3 jam lagi, sebelum laki Lu bangun. Cus mulai, tapi gue tugas bungkus hadiah nya aja, soalnya Daddy larang gue kelelahan."


"Daddy Lo tau?" Tanya Hani, Ica menganggukan kepala nya.


"Berabe kalau dia gak tau, pasti banyak nanya nanti. Dia lagi muter balik buat jemput Brian,"


"Emang si gulali kemana?"


"Kerja, ayoo cepat kita mulai." Ajak Risya, kedua wanita itu setuju dan langsung mengerjakan kejutan untuk Bimo.


Tak lama, Brian dan Zen datang dengan menenteng beberapa kresek kecil berisi balon warna warni dan juga bunga plastik untuk dekorasi.


"Bby, jangan kelelahan sayang."


"Iya Daddy, nggak kok cuma bungkusin kotak doang." Jawab Ica sambil tersenyum, Zen mengangguk dan melanjutkan pekerjaan nya, menyulap ruang tamu menjadi tempat kejutan yang pastinya akan membuat Bimo terkejut.


Singkat nya, 3 jam sudah berlalu. Semua nya sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Bimo, lampu ruangan sengaja di matikan agar suasana lebih mendukung.


Jam di dinding menunjukkan pukul 10 siang, tapi Bimo masih belum turun juga.


"Coba di cek, kali aja tepar." Celetuk Brian membuat Risya refleks mencubit lengan kekasih nya itu.


"Kalo ngomong di saring dulu sayang." ucap Risya pelan, membuat Brian cengengesan.


"Oke, gue ke atas dulu bentar." Pamit Hani, dia berjalan pelan menaiki tangga menuju kamar nya, dia membuka pintu perlahan. Ternyata Bimo sudah tak ada lagi di ranjang nya, Hani celingukan mencari pria nya itu.


"Sayang.." Panggil Hani, hening tak ada jawaban. Hingga suara aneh dari kamar mandi membuat Hani tau kalau pria nya sedang di dalam, tapi yang terdengar adalah suara seseorang yang sedang muntah-muntah, ada apa dengan Bimo?


"Yang.."


"Iya sa-yang.." Jawab Bimo, wajah pria itu memucat. Dia memegangi perut nya yang terasa di aduk-aduk.


"Kamu kenapa?" Tanya Hani, dia mendekat dan memeriksa suhu tubuh Bimo.


huekk... huekk..


Hani memijat tengkuk Bimo agar pria itu merasa lebih baik, juga mengusapkan minyak kayu putih.


"Kayaknya kamu masuk angin deh, Yang."

__ADS_1


"Iya mungkin, perut aku gak enak banget dari kemarin tapi mual nya kok sekarang." Keluh Bimo, dia memeluk Hani dan menduselkan wajah nya di leher Hani, menghirup aroma menenangkan dari wanita itu adalah obat yang paling ampuh, terbukti rasa mual nya mereda.


"Makan dulu yuk?" Tawar Hani, padahal dia khawatir orang-orang di bawah terlalu lama.


"Iya yang, lemes banget."


"Yaudah, aku bantuin ya." Jawab Hani, dia membantu pria itu berjalan. Memang muntah-muntah membuat tubuh terasa lemas.


Perlahan, Hani membawa Bimo membawa Bimo menuruni tangga. Suasana hening dan nampak gelap, membuat Bimo mengernyit.


"Sayang, kenapa gelap? Buka jendela nya, biar terang gitu suasana nya."


"Iya nanti sayangku." Jawab Bimo, dia tersenyum samar tak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Bimo saat tau kalau dia hamil.


Bimo berjalan sempoyongan membuat Hani cukup kesulitan, hingga Bimo memekik heboh karena menendang sesuatu yang bulat, hingga refleks naik ke atas tubuh Hani. Saat itu juga lampu-lampu di nyalakan dan..


"Surprisee..." Teriak 4 orang bersamaan, membuat Bimo terkejut setengah mati.


"Aaaa, kenapa kalian disini sepagi ini?" Tanya Bimo.


"Pagi? Makanya jangan begadang terus, ini sudah jam 11 siang." Cetus Zen membuat Bimo membulatkan mata nya.


"Nape melotot? Lihat noh jam di dinding." Tunjuk Brian, membuat Bimo refleks melihat jam yang menempel di dinding. Benar saja, bahkan sebentar lagi tepat jam 12 siang. Kenapa dia bisa tidur selama itu? Biasanya, walaupun weekend dia takkan bangun sesiang ini, ada yang aneh.


"Eemm, sayang bisa turun gak? Kamu berat lho ini, aku limbung sebentar lagi." Ucap Hani, membuat semua nya kompak terkekeh saat menyadari posisi Bimo.


Bimo cengengesan dan turun dari tubuh Hani, membuat perempuan itu bernafas lega, tubuh nya kembali terasa ringan seperti biasa.


"Cewek Lo yang undang kita semua kesini, katanya hari ini anniversary kalian pacaran yang ke setahun kan?" Sontak Bimo menoleh ke arah Hani yang sudah tersenyum manis, sedangkan Bimo menepuk wajah nya.


'Lupa gue, ini anniv tahun pertama. Sialan!' batin Bimo, dia malah lupa tanggal jadian nya sendiri. Kira-kira bagaimana reaksi Hani saat tahu Bimo melupakan hari jadian mereka?


"Hahaha, gue dah tebak pasti Lo lupa sama tanggal jadian Lo sendiri kan? Wahh parah sih." Celetuk Brian membuat Hani melirik Bimo, tapi pria itu hanya menunduk dan sesekali menggaruk tengkuknya.


"Beneran? Kamu lupa ini hari apa, Yang?" Bimo menatap Hani dan menganggukan kepala nya pelan.


"Gapapa sih, lagian ini juga gak terlalu penting buat kamu. Aku bikin ini cuma mau mastiin aja, ayo kesana." Ajak Hani, dia menggandeng tangan Bimo ke ruang tengah.


"Ini hadiah buat kamu, maaf kalau kecil tapi aku memang mampu nya cuma ngasih ini." Hani memberikan kotak persegi panjang dengan bungkus dan pita berwarna merah. Persis seperti milik Ica hari itu, hanya saja berbeda bungkus nya.


"Ayo buka dong." Ucap Ica, dia gemes sendiri melihat Bimo yang hanya memandangi kotak itu.


Bimo menarik pita itu, lalu membuka kotak itu dengan perlahan, perasaan nya tiba-tiba berdebar tak karuan.


Bimo mengambil secarik kertas dengan berwarna merah muda dan berisi tulisan rapih.

__ADS_1


"Hii Dad, i'm here." Gumam Bimo membaca tulisan di kertas itu pelan, lalu dengan cepat melihat benda panjang yang dia tau ini testpack, tapi ada 2 garis merah yang terlihat jangan jelas. Bimo mematung, antara percaya atau tidak, tapi ini benar-benar nyata.


Bimo menatap Hani, sedangkan perempuan itu hanya tersenyum manis melihat wajah Bimo yang mendadak pias.


"Maksudnya, kamu hamil yang?" Tanya Bimo, dahi nya berkeringat.


"Iya sayang."


"K-apan?" Tanya Bimo, Hani pun menjelaskan semua nya dari awal, Bimo mendengarkan dengan serius dan puncaknya dia memeluk Hani dengan eratnya.


"Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau mengandung anak ku. Seminggu lagi kita menikah ya, aku berjanji akan lebih giat bekerja untuk menafkahi anak kita, dia takkan kekurangan apapun. Begitu juga dirimu sayang.." Bimo meneteskan air mata nya, entah kenapa hati nya bahagia tapi di satu sisi ada rasa sesak yang menjalar di hatinya.


"Dia mewek yang.." Celetuk Brian pada Risya, membuat perempuan itu gemas dan kembali mencubit lengan Brian. Pria itu sangat suka mengacaukan situasi, waktu lamaran Ica juga dia yang merusak suasana menjadi gagal romantis, kali ini juga sama.


"Bisa diem gak Lu, Bri? Atau gue lakban tuh mulut?" Ucap Zen, membuat Brian refleks diam dengan menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Selamat ya Bim, nanti anakmu akan seumuran anak ku. Nanti dia akan bermain seperti kita dulu."


"Terimakasih tuan Zen." Jawab Bimo, dia mengelap ingus nya dengan piyama tidur nya.


"Jorok nya ampun, iuhhh..." Celetuk Brian lagi, mulut nya memang frontal, kalau bicara tanpa saringan.


semua orang menatap Brian dengan tatapan tajam, membuat pria itu nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu sembunyi di belakang tubuh Risya.


"Kang rusak suasana, jadi lo kapan mau kawin sama Risya?" Tanya Ica membuat Brian menoleh.


"Entar kalo hamil juga." Lagi-lagi dia mendapat hadiah geplakan di tangan nya, dari siapa lagi kalau bukan dari Risya.


"Oke, buat rayain kehamilan Hani sama anniversary yang setahun, kalian gue traktir deh ya.."


"Nahh ini nih, ini yang gue suka kalau punya temen orang kaya. Gue suka yang gratisan, ayo bang." Brian yang paling antusias di antara yang lain.


"Lu juga orang kaya kali Bri."


"Mantan, gue mantan orang kaya. Dah di usir gue, gelandangan kalo gak numpang hidup sama Risya." Jawab nya membuat semua orang refleks tertawa .


"Gulali kere!"


"Heehh, tertawa di atas penderitaan orang lain itu gak baik. Gak boleh!" Ucap Brian, tapi dia sendiri malah tertawa. Seperti nya hal ini bukanlah masalah besar bagi Brian, dia sudah lama merasa terkekang dengan hidup bersama orang tua nya, dan sekarang dia merasa bebas. Meski hidup harus numpang di rumah Risya,


.....


🌷🌷🌷


Gulali kere πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2