
Masih di restoran..
Risya baru saja keluar dari kamar mandi, tapi ada seorang gadis yang nampak manis terlihat sedang menunggu seseorang. Risya tak peduli dan dia berniat untuk segera keluar dari tempat itu dan kembali pada Brian dan teman-temannya. Tapi siapa sangka, gadis itu malah menghalangi jalan nya.
"Permisi kak, maaf anda menghalangi jalan." Ucap Risya sopan.
"Ohh sorry, btw gue mau nanya. Lo pacar nya Brian?" Tanya nya, tatapan mata nya melihat penampilan Risya dari atas hingga bawah.
"Iya, memang nya kenapa?"
"Gue saranin, Lo jauhin Brian karena di milik gue!" Tegas nya, lengkap dengan tatapan tajam nya. Risya terhenyak, memang nya ada hubungan apa antara Brian dan gadis ini?
"Memang nya apa hubungan kalian?" Tanya Risya. Gadis itu tertawa jahat.
"Aku gadis yang di pilih orang tua Brian untuk mendampingi nya. Lihat aku, penampilan ku bak model, lalu kau? Ckk, terlihat seperti gelandangan!" Gadis itu menghina penampilan Risya yang memang nampak sederhana, dia memang tak suka memakai barang-barang mewah, meskipun dia punya di rumah.
"Penampilan tak bisa mencerminkan sikap, untuk apa berpakaian mewah, branded nan mahal kalau kelakuan mu seperti wanita murahan!" Suara pria yang tak asing terdengar, Brian menatap gadis itu penuh kebencian.
"B-brian.."
"Aku sudah bilang, aku tak menyukaimu meskipun kau bertelanjaang bulat di depanku! Aku mencintai Risya apa adanya dan akan selalu begitu, lalu hakmu melarang Risya berdekatan denganku apa? Dia pacarku, jadi wajar saja kalau kami berdekatan. Jangan menggangguku! Kau belum tau siapa aku sebenarnya, jadi pergilah dari hadapanku, aku muak melihat wajah mu!" Tegas Brian, dia menarik tangan Risya menjauh dari bilik kamar mandi itu.
"Briaann.." Teriak nya membuat suasana restoran itu menjadi gaduh, para pengunjung menjadikan ketiga orang itu pusat perhatian, tak terkecuali Zen dan Bimo.
"Apalagi Chloe?"
"Apa bagus nya gadis itu di banding aku? Aku lebih cantik, kaya, dan terlebih orang tua kita berteman baik. Aku yakin ibumu takkan merestui hubungan mu dengan gadis yang penampilan nya saja seperti gelandangan!" Pekik nya, gadis bernama Chloe itu kelakuan nya sangat jauh dari wajah nya yang nampak manis.
"Aku memang menyukai gadis sederhana tapi kualitas nya mahal, lalu apa yang bisa kau banggakan dari dirimu? Bahkan kau tak pantas di bandingkan dengan Risya!" Tegas Brian, sedangkan Risya hanya memilih diam. Biasanya dia akan bicara, melawan orang-orang yang mengatai nya, tapi kali ini dia akan melihat sejauh mana Brian membela nya.
"Cihhh, karena dia masih perawaan lalu aku tidak kau menilaiku begitu, Brian?"
"Kau mengaku aib mu sendiri, cukup Chloe. Sampai kapanpun aku takkan menyukaimu, atau meninggalkan kekasih ku demi dirimu. Aku masih cukup pintar, aku tidak akan pernah membuang berlian demi seonggok kotoran!" Jawab Brian, dia pergi meninggalkan Chloe yang sedang di landa api kemarahan, tangan nya terkepal kuat. Dada nya naik turun karena emosi, wajah nya juga memerah. Hati nya bergemuruh hebat saat melihat Brian menggandeng tangan Risya dengan mesra.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, gadis bernama Chloe itu berlari dan menjambak rambut panjang Risya. Tentu saja Risya mendongak karena rambut nya di jambak dari belakang. Ica dan Hani yang sedari tadi menonton pun kali ini tak bisa lagi menahan nya, mereka harus bertindak, jiwa barbar mereka tiba-tiba saja menjadi.
Dengan sekali hentakan saja, Ica mampu membuat gadis itu limbung, terjatuh ke lantai. Hani memelintir tangan nya dan menginjak punggung gadis itu, tentu saja dia meraung kesakitan dan meronta meminta di lepaskan.
"Jangan berani macam-macam dengan teman kami atau kau tau akibatnya, bocah!" Ucap Hani. Dia melepaskan pelintiran tangan nya, gadis itu bangkit dan dia masih belum kapok dan mencoba menyakiti Risya lagi.
plakk...
Gadis itu tepar tak sadarkan diri hanya karena satu tamparan yang mendarat di pipi mulus nya, Ica yang melakukan nya mengusap tangan nya.
"Lemah, baru di tampar sekali aja udah pingsan!" Cibir Ica. Sedangkan para pria hanya bengong melihat kedua istri bar-bar nya itu beraksi. Bukannya mereka tak mau membantu, tapi ini adalah pertarungan antara kaum wanita saja.
"Dad, telepon anak buah Daddy dan bawa dia kerumah sakit, kalau perlu borgol tangan nya. Gadis ini seperti nya kesurupan, aku takut dia akan mengamuk di rumah sakit nanti." Zen mengangguk dan tak perlu di telpon, hanya butuh satu jentikan jari saja anak buah nya langsung datang.
"Cihh, wanita gila." Gumam Hani berdecih, saat anak buah Zen membawa nya.
"Kamu baik-baik saja Sya?" Tanya Risya yang sedari tadi diam saja.
"Kepala ku sakit, Bumil."
"Tak apa-apa Ca, aku baik-baik saja."
"Heh, Risya! Pintarlah sedikit dan lawan, Sya! Kalau kau diam, dia malah menjadi." Ucap Hani.
"Kalau di lawan, dia akan semakin merasa menang Han. Jadi aku diamkan saja, lagipula Brian seperti nya memang tak menyukai gadis itu." Jawab Risya lagi.
"Kau harus belajar ilmu bela diri, untung saja ada kami. Kalau kau sendirian bagaimana? Mininal untuk melindungi dirimu sendiri." Saran Ica.
"Sudahlah, kita makan lagi atau pulang?" Tanya Bimo. Refleks saja semua orang menatap Bimo dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
"A-aku pulang saja, tiba-tiba saja aku tak enak badan." Ucap Risya.
"Sya.."
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir. Tapi aku ingin pulang saja, istirahat."
"Yasudah pulanglah, hati-hati di jalan. Naik apa?"
"Naik taksi saja." Jawab Brian, dia merangkul pundak Risya.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami." Peringat Zen.
"Tentu saja, tapi aku yakin aku akan baik-baik saja, lagipun ada Brian bersamaku. Aku duluan ya, papay."
"Hati-hati Sya." Pekik Ica, karena sepasang kekasih itu sudah pergi menjauh.
Setelah kepergian Brian dan Risya, ke empat orang itu merasa gadis itu pasti takkan membiarkan hubungan Risya dan Brian aman sentosa, pasti dia akan terus melakukan hal semacam ini lagi atau bahkan lebih parah.
"Gimana ini? Kita gak bisa diam aja kan, Risya temen kita. Gue marah banget saat tadi dia jambak rambut Risya." Ucap Hani.
"Sama gue juga Han, gue juga marah. Tapi menurut gue, dia gak bakal nyerah gitu aja. Pasti nanti dia akan kembali menyakiti Risya dan gue gak mau itu terjadi."
"Daddy akan menyuruh anak buah Daddy untuk mengikuti Risya setiap hari."
"Anak buah Daddy kebanyakan ceroboh, Ica juga di jaga tapi tetap kecolongan kan!" Ketus Ica membuat Zen nyengir.
"Itukan ulah penghianat sayang, Daddy jamin sekarang mereka bekerja lebih baik lagi."
"Lakuin aja, kita gak bisa nunggu gadis itu nyakitin Risya lagi, kita harus antisipasi semua ini dari awal." Ucap Bimo.
"Gue setuju, jadi apapun caranya kita harus lindungin Risya."
Mereka pun sepakat akan melindungi Risya dari ulah gadis yang sangat terobsesi dengan Brian itu secara sembunyi-sembunyi, karena kalau Risya tau, sudah pasti gadis itu akan menolak. Risya terlalu baik untuk di sakiti.
....
π·π·π·π·
__ADS_1
Jangan ngamok gara-gara ada pelakor lagi ya, ada temen nya Risya yang bakal lindungin diaππ
jangan lupa hadiah, vote, like,komen, favorit juga ya, terimakasih πππ