
Uhukk.. uhukk..
Zen menepuk-nepuk pundak Brian, setelah mendingan dia menatap tajam ke tiga pria itu.
"Pake kompakan segala, gue kaget!" Ketus nya.
"Yang bener Risya hamil, Bri?" Bimo masih dengan ketidakpercayaan nya.
"Iya lah, benih gue tuh benih unggulan." Bangga Brian membuat ketiga nya kompak mencebikkan bibir mereka.
"Terus udah berapa bulan?" Kali ini Zen yang bertanya.
"4 minggu, berarti sebulanan lah ya." Jawab Brian santai.
"Tau gak Bang-"
"Enggaklah, kan Lu belom ngomong." Celetuk Bimo memotong ucapan Brian.
"Ya makanya jangan motong kalo orang lagi ngomong." Ucap Zen yang gemas dengan kelakuan sang asisten, sedari tadi terus saja ngomong tanpa di minta. Mana motong orang yang lagi bicara, kan gak sopan menurutnya.
"Risya hamil kembar."
"Whatt??" Lagi-lagi, ketiga nya kompakan membuat Brian langsung menutup wajah nya dengan piring bekas cemilan nya.
"Wahh, empat istri-istri kita hamil kembar ya. Mana jaraknya deketan." Ucap Bimo, gantian dia yang paling banyak bicara sekarang.
"Iya nih, kok bisa ya? Apa karena mereka semua temenan?" Azwar juga merasa heran, kenapa empat wanita itu kompak hamil kembar dengan jarak yang berdekatan.
__ADS_1
"Kayaknya gitu, Ica pasti kaget kalau tau Risya hamil kembar juga."
"Jadi, Risya dah bunting kan? Kapan Lu berdua mau married?" Tanya Bimo.
"Nah iya tuh, cepetan keburu perut nya melendung." Celetuk Azwar.
"G-gue masih belom ada duit nya sekarang Bang, masih nabung."
"Gak usah mikirin duit Lu, besok nikah aja. Gue yang ngatur!" Sang sultan angkat bicara, siapa lagi kalau bukan Zen.
Brian menoleh menatap wajah Zen yang tampak serius, tak ada gurat bercanda dalam wajahnya.
"Bang, udah cukuplah. Gue gak mau berhutang budi terlalu banyak, gue malu."
"Apa kita ngeledekin Lu? Nggak Brian, jadi buat apa malu? Kita abang mu, kau adik bungsu kami disini."
"Udah, turutin apa kata abang Lu, Bri. Besok nikah ya?" Kali ini Bimo yang bicara sambil menepuk pelan punggung Brian.
Entah kenapa, hatinya merasa terharu. Dia mendapatkan kasih sayang dari orang lain, tapi orang tua nya sendiri malah menyia-nyiakan nya dan menganggap nya seperti tak pernah hadir dalam hidup mereka.
Mata nya berkaca-kaca dan tak lama kemudian dia menangis pilu, sakit saja rasanya saat ini.
"Udah gak usah nangis, kita bakalan selalu ada buat Lu, Bri."
"Makasih ya Bang, makasih banyak." Ucap Brian menangis sesenggukan, membuat Ketiga nya bangkit dari kursi mereka masing-masing dan memeluk Brian.
Pengunjung cafe menatap aneh ke kerumunan pria yang nampak tampan, tapi mereka memeluk pria lain? Membuat pengunjung lain beropini yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Dihh, cakep-cakep tapi kok peluk sesama jenis." Celetuk nya, membuat ke empat pria itu langsung menoleh dan seketika mereka terkejut. Ternyata mereka menjadi pusat perhatian karena berpelukan di tempat umum.
Kompak, ke empatnya langsung melerai pelukan mereka dan anehnya lagi sampai berdehem untuk mencairkan suasana canggung pun mereka bisa kompakan lagi.
"Kenapa kita terus kompakan sih, kan aneh!" Ucap Bimo.
"Lahh, Elu yang sedari tadi ngikutin gue!" jawab Zen tak mau kalah.
"Elu!"
"Ngegas Lo!"
"Lo juga!"
Azwar dan Brian saling melempar tatapan mereka lalu kompak menggelengkan kepala mereka, heran dengan tingkah bos dan asisten itu.
"Ini napa malah berantem?" Tanya Brian membuat kedua pria yang sedang berdebat itu langsung diam.
"Kenapa cuma berdebat, ayo saling jambak sekalian." Ucap Azwar.
Lagi-lagi keduanya kompak cengengesan, dua pria yang lain juga kompak menggeleng. Entah ada apa dengan ke empat pria itu, kenapa bisa barengan terus?
.....
🌷🌷🌷🌷
Pendek banget dahh😪 tapi lumayan bisa nemenin kalian gabut🤭
__ADS_1