
Zen duduk dengan laptop yang menyala di depan nya, dia sedang berkutat dengan berbagai pekerjaan, karena assisten nya meminta cuti, jadi dia bekerja sendirian selama 2 hari ke depan.
Tak lama, Ica datang dengan nampan berisi secangkir kopi dan sepiring cemilan buatan nya.
"Dad, minum dulu." Tawar Ica sambil meletakan nampan itu di meja. Zen mendongak dan tersenyum menatap sang istri yang heran nya, semakin hari dia semakin cantik.
"Iya Bby, terimakasih. Kenapa belum tidur, Sayang?" Tanya Zen, karena sudah cukup malam tapi istrinya itu ternyata belum tidur, biasanya dia sudah membuat pulau liur di bantal jam segini.
"Ica udah coba tidur, tapi gak ngantuk juga. Mungkin karena gak di peluk Daddy, jadi Ica nungguin Daddy aja tidurnya."
"Yaudah, Ayo Daddy kelonin dulu." Ajak Zen bersiap bangkit dari kursi kebesaran nya.
"Nggak ahh Dad, nanti pas Ica tidur Daddy keluar, Ica mau nya bobo sambil di peluk Daddy."
"Kamu ini, kalau begitu tunggu sebentar ya Sayang, hanya sedikit lagi." Jawab Zen, Ica mengangguk dan memilih membaca buku sambil menunggu suaminya selesai bekerja.
Tapi tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang nya, dia berbaring di sofa dan tak lama kemudian dia tertidur nyenyak. Padahal tadi dia sudah bersiap tidur di kamar, tapi rasa kantuk itu tak juga datang, dia sudah berbaring telentang, miring kanan kiri, tapi tetap saja mata nya tak kunjung terpejam juga.
Sekitar setengah jam berlalu, Zen akhirnya selesai dengan pekerjaan nya, dia mematikan laptop nya dan membereskan berkas-berkas yang sudah selesai, dia beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah sang istri.
"Bby ayo kita tidur, Daddy sudah selesai." Ajak Zen tapi Ica tak merespon. Pria itu keheranan lalu membuka buku yang sedari tadi menutupi wajah istrinya, dan ya benar saja istrinya itu ketiduran.
"Menggemaskan nya istriku, maaf membuatmu menunggu Sayang." Ucap Zen lalu mengusap lembut kepala sang istri, lalu menggendongnya ala bridal style ke kamar.
__ADS_1
"Nona kenapa, Tuan?" Tanya Bi Arin dengan nada khawatirnya.
"Dia hanya ketiduran Bi." Jawab Zen lalu kembali melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
Zen menutup pintu dengan lututnya, lalu membaringkan tubuh sang istri di kasur. Zen baru saja akan mematikan lampu, karena semenjak hamil dia ingin lampunya di matikan. Tangan Zen di pegang oleh Ica yang kemudian bangun dan duduk.
"Bby.."
"Hhmmm.." Jawab Ica dengan deheman. Mata nya masih terpejam.
"Kenapa bangun sayang? Tidur aja,"
"Daddy mau kemana?" Balik tanya Ica.
"Ica pengen Dadd.." Rengek Ica, berhubungan badan sebelum tidur seperti sudah sebuah kebiasaan yang harus di lakukan setiap malam, mana selalu minta ronde tambahan.
"Daddy capek sayang, libur satu malam ya?"
"Gak mau, Ica gak mau tidur sebelum lubang Ica di masukin Daddy." Jawab Ica ketus.
"Ya ampun sayang, iya ayo main satu ronde." Pasrah Zen, kalau sudah begini mau tak mau harus mengalah saja daripada bumil itu merajuk bisa berabe urusan nya.
Ica tersenyum lalu dengan semangat dia membuka daster nya, juga membukakan pakaian Zen, lalu mengusap lembut senjatanya yang mulai menegang.
__ADS_1
"Uhhh..." Lenguhh Zen saat tangan Ica memijit-mijit senjata nya, kedua mata nya tertutup menikmati sentuhan sang istri.
"Aaahhh sayang.." Erang Zen saat senjata nya di kulumm nikmat oleh Ica.
"Sekarang ya Dad?" tanya Ica, Zen segera mengangguk dan Ica pun naik ke pangkuan sang suami. Ica bersiap memasukkan senjata sang suami ke dalam lubang miliknya, tapi suara dering ponsel mengganggu fokus nya untuk menikmati penyatuan bersama sang suami.
"Sebentar ya Bby, takutnya klien penting."
"1 menit, lebih dari 1 menit aku tidur!" Ketus Ica lalu turun dari pangkuan Zen dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.
Zen mengangkat telepon itu, entah dari siapa tapi pria itu nampak terlibat dengan pembicaraan serius, berkali-kali dahi nya berkerut tapi nada suaranya masih datar, entah apa yang mereka bicarakan, Ica sama sekali tak berniat menguping, dia hanya ingin bercintaa dengan suaminya, tapi sepertinya ini akan lama.
Ica bosan menunggu, dia memilih tidur saja. Tak apa tak jadi menyatu dengan sang suami malam ini, tapi nanti pagi dia takkan membiarkan suaminya itu pergi bekerja sebelum berkeringat bersama dengan bergulat di ranjang.
Dalam sekejap mata saja, Ica sudah larut dalam tidur nyenyak nya. Zen yang baru saja selesai bicara dengan anak buah nya di telepon seketika mendengus. Dia frustasi karena nafssu nya belum tersalurkan malah sang istri sudah tidur karena dia terlalu lama bicara mungkin.
"Aduhh, ini nih gak bakal nyenyak tidur!" gumam Zen sambil menggeleng. Dia menatap nanar senjata nya yang masih mengacungg, dia mengusap kepalanya dengan lembut.
"Sabar ya, kita batal masuk ke lubang kesukaan mu, yang punya sarang merajuk. Bobo aja ya? Besok pagi kita happy lagi." Gumam Zen lagi, dia berbicara dengan senjata nya yang masih berdiri tegak menantang. Tanpa banyak bicara lagi, Zen memasukan senjatanya itu ke dalam boxer dan memilih tidur sambil memeluk istrinya.
.....
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Bobo aja dulu, Daddy sih nelpon nya lama🤣 jangan lupa vote!