Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 75


__ADS_3

Hari ini Ica pergi ke kampus siang, karena tak ada materi apapun, dia hanya di jadwalkan untuk latihan bernyanyi. Selain seni budaya, Ica juga mengambil jurusan bahasa asing, Korea adalah pilihan bahasa nya.


"Haii Ca.." Sapa Brian, pria itu juga hadir karena ada latihan untuk tampil di acara yang sama dengan Ica sebagai pengisi saja, bukan kategori lomba.


"Hai Bri.." Jawab Ica tanpa menoleh sedikit pun ke arah Brian, dia sibuk membulak balik halaman sebuah buku di tangan nya.


"Lagi baca apa sih?"


"Ngapalin lirik, pergi sana ganggu aja. Gue gak konsen, bau tubuh Lu bikin gue mual tau gak?" Ketus Ica sambil menutup lubang hidung nya dengan tangan.


"Jangan julid Lu, gue pake parfum mahal kok."


"Cihh pamer! Gue gak pake parfum biasa aja tuh."


"Tapi tubuh Lu wangi, Ca. Bikin gue kangen terus." Celetuk Brian sambil cengengesan.


"Gak takut sama Daddy gue? Daddy kayak singa kalau lagi marah."


"Gak tuh, bukti nya gue masih hidup sampe sekarang." Jawab Brian santai.


"Ckk, ngeyel banget jadi orang!"


"Harus dong, demi dapetin Lu gue rela deh di kejar Daddy Lu."


"Saingan Lu berat, Bri. Hati gue dah milik orang lain, dan kalau Lu tau. Gue yakin Lu pasti gak nyangka!"


"Hati Lu bertaut sama siapa sih, Ca? Seganteng apa pria itu sampe Lu ngabai in gue?"


"Sebaiknya Lu gak perlu tau, gue duluan Bri." Ica pergi dari depan Brian dengan tergesa setelah ponsel dalam tas nya bergetar.


"Secinta apapun Lo sama pria itu, gue yakin bisa buat Lo nyaman," Gumam Brian.


Sebenarnya, dia pun merasa aneh. Pria yang Ica panggil Daddy itu terlihat masih sangat muda, Ica malah pantas jadi adik atau kekasih pria itu.


"Woyy Bri, bengong aja sini mulai latihan." Panggil teman Brian, membuat remaja itu menghentikan lamunan nya sejenak.


....


Ica keluar dari kawasan kampus, Gadis itu sudah melihat sebuah mobil mewah berwarna biru tua terparkir rapi di depan gerbang.


Ica mengetuk kaca mobil dan sang supir yang tengah tertidur karena lelah menunggu pun beringsut bangun dan membenarkan posisi nya.


"Mari Non, Tuan Zen memerintahkan saya untuk membawa anda ke kantor."


"Baik pak, terimakasih." Jawab Ica dengan senyuman manis nya, membuat siapa pun meleleh. Kalau saja gadis itu bukan milik tuan muda, pasti dia akan jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi sayang dia telat bertemu dengan gadis manis nan mungil itu.


Sang supir melajukan mobil nya menjauhi kampus, bertepatan itu Azwar datang dengan sejuta harapan kalau dia bisa bertemu Ica disini.


Kebetulan Brian juga telah selesai dengan latihan nya dan keluar gedung kampus menuju parkiran.


Tapi baru saja akan keluar gerbang, seseorang menghentikan laju motor nya.


"Ada apa bang?" tanya Brian langsung.


"Maaf, apa benar Ica kuliah disini?"

__ADS_1


"Ica yang mana? Disini yang kuliah nama nya Ica banyak bang." Jawab Brian seadanya.


"Nama nya Wenthrisca Liu, cuman panggilan nya Ica."


"Ohh si Markica ya? Dia temen sekelas gue bang, baru aja balik. Napa dah?" Tanya Brian lagi.


"Seriusan? Punya nomor ponsel nya, atau alamat rumah nya?"


"Abang siapa nya Ica?"


"Kakak tiri nya."


"Perasaan kakak tiri nya Ica perempuan." Gumam Brian tapi masih terdengar oleh Azwar.


"Itu adik saya,"


"Ohh gitu ya, lain kali bilangin ke adek nya gak usah gangguin Ica lagi ya."


"Lho emang nya kenapa?"


"Tanya aja sama orang nya langsung, gue gak bisa sembarang nomor atau alamat rumah orang. Gue permisi bang." Brian menutup kaca helm full face nya, melajukan motor nya meninggalkan Azwar yang mematung.


"Apa yang terjadi pada mu Ica? Maaf, ini pasti salah kakak karena gak bisa jagain kamu, Ca." Gumam Azwar, dia menendang batu dengan kasar. Baru saja dia senang karena informasi yang dia terima bukan lah kebohongan, Ica benar-benar kuliah di kampus elit ini.


Tadi pagi, dia pergi ke bekas rumah nya dulu. Dia sedikit memaksa salah satu penjaga untuk mengatakan bagaimana keadaan dan gadis itu tinggal, dia bahkan melupakan adik dan juga ibu kandung nya, yang dia ingat hanya gadis bernama Ica.


....


Di kantor, Zen tengah pusing tujuh keliling saat mendengar nenek lampir bicara. Ya ibu nya Rosa datang dan memohon agar Zen menerima kembali anak nya.


"Anda jangan pura-pura tak tau seperti apa kelakuan putri anda, jangan menutupi apapun karena saya sudah tau semua nya! Saya tau rahasia borok nya Rosa, termasuk anda juga!" Tegas Zen.


"Ibu gak mau tau, pokok nya Rosa harus kembali sama kamu, titik. Kalau perlu besok kalian bertunangan."


"Hello, anda siapa? Anda tidak berhak mengatur hidup saya!"


"Zen!"


"Apa? Saya tepat berada di depan mu, jadi tak usah berteriak!"


"Beru Rosa satu kesempatan lagi, Ibu mohon."


"Maaf tapi saya tak berminat, meski pun anak ibu itu telanjangg di depan saya!" Jawab Zen, wajah nya kembali datar.


"Kenapa kau jadi begini Zen? Kemana hati mu lembut mu itu, dulu kau tak begini."


"Kenapa? Kenapa kau bilang? Sebenarnya anda ini bod*h atau pura-pura bod*h? Siapa yang memulai? Saya hanya ikut dalam drama yang putri anda buat!"


"Zen.."


"Cukup, sebaiknya anda pergi. Saya tak ingin marah-marah sekarang, jadi pergilah." Usir Zen. Tapi bukan ibu nya Rosa jika tak tau malu dan tebal muka, persis seperti anak nya.


"Zen.."


"Tak ada kesempatan apapun, aku membenci penghianatan dan aku tak sudi berbagi milik ku dengan orang lain, apapun itu!" Jawab Zen, sebelum wanita baya itu sempat mengeluarkan suara nya.

__ADS_1


"T-tapi..."


Zen menekan tombol interkom dan dua penjaga berseragam serba hitam pun datang dan langsung menyeret wanita itu keluar dari ruangan Zen.


"Ckkk wanita ular itu menyuruh ibu nya untuk membujuk ku? Tak semudah itu!" Gumam Zen.


Ceklek..


Pintu terbuka, Ica masuk dan segera menghambur memeluk Zen.


"Baby.."


"Ya Dad, Daddy kangen sama Ica? Kok nyuruh supir nganter kesini?"


"Daddy memang selalu merindukan mu sayang, selalu."


"Daddy gombal.." Ica menepuk lengan Zen dengan manja.


"Duduk disini sayang." Pinta Zen, lalu merapatkan paha nya, hingga sang gadis nyaman duduk di pangkuan nya.


Zen melingkarkan tangan nya di pinggang ramping gadis nya erat, bahkan terlalu erat hingga membuat Ica sesak.


"Dad ke kencengan meluk nya, Ica sesek."


"Maaf By, mood Daddy sedang tak baik."


"Kenapa? Karena kerjaan?" Tanya Ica sambil mengusap kepala belakang Zen.


"Ibu nya Ros kesini, By.."


"Untuk? Mengemis?" Zen menganggukan kepala nya.


"Ica sih gak bisa ngomong apa-apa, keputusan ada di tangan Daddy. Tinggal pilih, Rosa atau Ica, itu saja Dad. Simpel.."


"Maksudnya? Tentu saja Daddy memilih kamus sayang!"


"Kalau begitu, bersikap lah tegas. Kalau tidak bisa menolak secara baik-baik, Daddy bisa meneror mereka agar berhenti mendekati Daddy."


"Ide yang bagus, kamu memang pintar sayang!"


"Loh, Daddy setuju? Ini kan rencana konyol."


"Coba aja dulu, Daddy akan buat mereka takut. Kalau memang tak mempan, baru pikirkan cara lain."


"Terserah Daddy, Ica ngikut aja!"


"Dukung Daddy terus ya By,"


"Iya Dad.." Jawab Ica, pria itu mendongak dan tersenyum ke arah gadis nya.


Ica juga tersenyum, mereka menyatukan kening dengan mata yang saling menatap, juga posisi Ica yang masih berada di atas pangkuan Zen.


....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Ibu nya si Rosa muncul Noh, jan marah-marah, besok penjelasan nya ya😊😁


__ADS_2