Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 188


__ADS_3

Setelah selesai merajuk dengan Arian, akhirnya Zen memilih masuk ke dalam ruangan, masih dengan wajah datar nya.


"Bby.."


"Iya Dadd, lho kok wajah nya di tekuk gitu, kenapa?" Tanya Ica saat melihat wajah sang suami.


"Gaduh sama Arian dia, Ca." Bukan Zen yang menjawab, tapi Azwar. Membuat pria itu mendelik pada sang kakak ipar.


"Beneran? Gaduh kenapa?" Bukannya menjawab, Zen malah mendengus kasar dan memilih duduk di sofa.


Azwar melirik sang adik yang masih terlihat heran, jelas heranlah, tadi keduanya masih akur-akur saja, tapi sekarang? Kenapa bisa berubah secepat itu, kan buat penasaran, memang nya masalah apa yang membuat kedua pria dewasa itu bergaduh?


"Ca, samperin dulu suaminya." Ucap Sintia, membuat Ica buru-buru mendekat ke arah suaminya. Lalu duduk di sampingnya, Zen langsung mendusel di ceruk leher nya, tanpa peduli kalau di ruangan ini bukan hanya ada mereka saja. Pasangan suami istri bebas ye kan? Mungkin itulah pikir Zen.


"Kenapa Daddy bertengkar sama Arian?"


"Dia yang mulai Bby." Jawab Zen manja.


"Ica gak yakin sih kalo dia yang mulai, soalnya Ica tau bener Daddy gimana."


"Ihh Bby kok malah belain si Arian sih?" Ketus Zen.


"Aku gak belain siapapun disini, tapi biasanya Daddy yang menyulut api perdebatan, kalau kalah ngomong Daddy ngambek, kan biasanya gitu." Tepat sasaran, Zen memang seperti itu, jika sudah kalah bicara dia akan mengalihkan pembicaraan nya ke gaji yang di potong, dengan begitu perdebatan akan berhenti seketika, karena bawahan takut tidak di gaji atau gaji mereka di potong. Padahal, meski begitu Zen tak pernah benar-benar memotong gaji mereka. Itu hanya sebagai gertakan agar lawan debatnya diam seketika, untung saja Zen baik dan royal terhadap anak buah nya, ya meski lebih banyak menyebalkan nya daripada baiknya.


"Baby.." Rengek Zen, membuat Ica terkekeh geli melihat sang suami yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Ihhh gemes deh, ini calon bapak kok gemesin banget gini sih." Ucap Ica sambil menguyel-uyel pipi sang suami saking gemasnya.


"Sakit Bby.."


"Udah, baikan sana. Gak baik marahan lama, mau bagaimana pun Arian itu calon kakak ipar kamu juga."


"Gak mau, dia yang mulai duluan kok, kenapa aku yang harus ngajakin dia baikan." Tolak Zen, membuat Ica cukup kesal menangani suaminya yang doyan membuat keributan ini. Padahal dulu, Zen tidak bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Dia terlihat cool, datar dengan tatapan tajam nya, tapi setelah menikah dan tau seperti apa kelakuan nya, penilaian Ica terhadap suaminya di patahkan secara langsung. Zen yang sekarang, sangat menyebalkan dan biang debat, kalau kalah dia akan merajuk.

__ADS_1


"Apa salahnya mengalah Daddy? Lagian Arian kan anak buah Daddy juga."


"Ya masa bos harus minta maaf sama anak buah, kan gak lucu Bby." kekeuh Zen, padahal apa susahnya minta maaf?


"Terserah Daddy ajalah, di bilangin kagak bisa." Akhirnya Ica memilih mengalah saja, toh marahan nya juga gak bakalan lama, paling nanti sore juga akur lagi. Hal seperti ini sudah biasa terjadi di mansion, jadi Ica tak heran lagi. Meski ya dia sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa Zen yang dulu dan Zen yang sekarang seperti dua orang yang berbeda.


"Pulang yuk Bby, Kakek udah nanyain nih kapan kita pulang." Ajak Zen.


"Yaudah, ayo pulang Dad."


"Kak, aku pulang dulu ya. Besok pagi kesini lagi," pamit Ica pada Meisya, perempuan itu mengangguk dan membiarkan pasangan itu pergi.


Di rumah, Brian sedang berkutat dengan alat masak. Dia ingin memasak untuk makan malam, Risya belum pulang jadi dia ingin memberikan kejutan untuk sang pujaan hati. Kemarin, Brian gajian dari kantor. Dia menyisakan sedikit untuk kebutuhan nya dan ongkos pulang pergi naik bus ke kantor, Risya juga tak keberatan bahkan gadis itu selalu bilang dulu kalau mau beli apa-apa dari uang gaji nya.


Pintu terbuka, Risya pulang dari kampus dengan wajah kusutnya, ada mata pelajaran tambahan yang membuatnya pulang terlambat. Dia lapar, tapi seketika aroma lezat menguar memenuhi indra penciuman nya, dia berjalan masuk dan melihat Brian dengan celemek berwarna pink di depan tubuhnya sedang mengaduk masakan di panci.


"Sayang, kok kamu masak?"


"Ya bukan gak boleh sayang, tapi itu kan tugas aku, maaf ya aku pulang nya telat. Ada pelajaran tambahan tadi," Ucap Risya, dia merasa bersalah pada Brian. Harusnya dia yang memasak untuknya, tapi sekarang malah terbalik gara-gara dia pulang terlambat.


"Malah bengong Sayang, kenapa?"


"Gapapa Sayang, kamu masak apa?" Tanya Risya, dia memeluk Brian dari belakang dengan mesra.


"Masak udang saus pedas kesukaanmu, Sayang." Jawab Brian sambil mengusap lembut tautan tangan Risya di pinggang nya.


"Sayang.."


"Iya, kenapa?" Tanya Brian sambil terus mengaduk makanan yang sebentar lagi matang.


"Eeemm, a-aku.." Brian merasa ada yang tak beres, dia menghentikan kegiatan nya dan mematikan kompor, lalu berbalik menatap wajah kekasih nya.


"Kamu kenapa cantik? Ada masalah?" Tanya Brian, dia membingkai wajah cantik Risya dengan kedua tangan nya. Tatapan mata nya lekat menatap wajah Risya yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Chloe datang ke kampus tadi." Jawab Risya pelan, membuat Brian tercengang.


"Kamu gak di apa-apain sama jal*ng itu kan, Sayang?" Risya diam, berarti ada yang wanita itu lakukan padanya.


Brian menyibak rambut panjang yang menutupi pipi kanan Risya, lebam bekas tamparan. Hati Brian mencelos melihat keadaan sang kekasih, dia sendiri tak pernah memukul Risya, dia sangat menjaganya, tapi kenapa orang lain berani melakukan hal semacam ini padanya?


Brian memeluk Risya dalam dekapan hangat nya, tanpa sadar pria itu menitikkan air mata nya. Kenapa berat sekali ujian yang harus mereka lalui agar bisa bersama?


"Sebaiknya kamu pulang saja ke rumah, Sayang. Ikuti kata-kata ibumu,"


"Apa yang kamu katakan ini, Sayang? Tidak, aku tidak akan pernah pergi, apalagi meninggalkan mu, tidak sayang." Jawab Brian, dia melerai pelukan nya dan kembali membingkai wajah Risya.


"Tapi semua ini terjadi karena aku, Sayang. Aku gak bisa biarin masalah ini berlarut-larut,"


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, apapun alasan nya. Mengertilah, hanya kamu perempuan yang aku cintai."


"Kalau begitu terimakasih, sudah mencintai aku." Jawab Risya, dia memeluk Brian. Dia sangat bahagia karena Brian tetap mempertahankan nya, tapi di lain sisi dia juga merasa tak enak hati karena Brian pergi dari rumah karena memilih nya dan menolak perjodohan yang di lakukan ibunya.


"Katakan, apa lagi yang dia lakukan padamu, Sayang?"


"Dia hanya mengatai aku pelakor, lalu menampar ku, itu saja sayang." Jawab Risya jujur, dia memang sudah berjanji pada Brian apapun yang terjadi harus mengatakan padanya. Terkesan Risya seperti tukang adu, tapi mau bagaimana lagi, hatinya juga tersinggung. Belum lagi teman-teman satu kampus berkumpul tadi dan melihat semuanya, termasuk perkataan wanita bernama Chloe yang mengaku sebagai tunangan Brian.


'Wanita itu sudah melampaui batas, lihat saja! Aku takkan diam, setelah kau berani menyakiti Risyaku!' Batin Brian, dia memeluk kembali tubuh Risya, menyandarkan kepalanya di dada bidang nya.


Sangat sakit melihat orang yang paling kita cintai di sakiti orang lain, padahal kita saja tak pernah menyakiti nya. Tentu saja itu membuat Brian murka, apalagi setelah melihat cap lima jari di pipi Risya.


.....


🌷🌷🌷🌷


Gak ada habisnya bikin ulah itu si Chloe, maksa banget🙄🙄


Masih ada vote gak? sumbangin ke sini yook🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2