
Azwar ke dalam kontrakan nya, rapih bersih karena dia selalu beberes dulu sebelum berangkat bekerja, hingga saat pulang dia hanya tinggal beristirahat dari semua aktivitas dan mengulang semua nya esok hari.
Azwar membaringkan tubuh lelah nya di kasur busa lusuh tanpa ranjang, dia menatap langit-langit kamar nya dengan sendu.
Dia masih berfikir, harus bagaimana lagi dia menghadapi kerakusan dan keserakahan ibu nya? Mungkin sekarang lebih ke egois, tapi semua sifat nya sudah ada dari dulu.
Sudah di buat miskin hampir jadi gelandangan oleh Zen, tetap saja ibu nya itu egois. Bukan Zen atau Ica yang bersalah disini, tapi murni kesalahan ibu nya sendiri. Bukti nya Zen baik padanya, meski sempat terjadi kesalah pahaman, tapi sekarang pria itu memberi nya pekerjaan yang di impikan oleh banyak orang.
Zen hanya arogan dan menunjukan kuasa nya pada orang yang benar-benar mengusik hidup nya, dia tak suka milik nya di sentuh atau di sakiti orang lain.
Azwar bangkit dari rebahan nya, perut nya terasa keroncongan karena belum di isi sejak pulang bekerja tadi.
"Makan sendiri, sepi sunyi. Tapi setidaknya suasana ini lebih baik dari pada harus di iringi ocehan-ocehan penuh obsesi dari Ibu." Gumam Azwar sambil membuka bungkusan makanan yang tadi dia beli.
.....
Di mansion, Zen sedang bermanja dengan Ica. Tapi gadis itu mood nya sedang buruk seperti nya, dia tak merespon sentuhan Zen.
"Baby, kenapa? Kamu marah sama Daddy? Tapi Daddy salah apa?"
"Pengen itu." Tunjuk Ica pada kulkas yang tertutup.
"Mau makan kulkas? Memang nya kamu kuat?"
"Isshhh Daddy, makanan di dalam nya bukan kulkas nya, ya kali Ica makan kulkas." Ketus Ica membuat Zen terkekeh.
"Kamu ini sedang datang bulan Baby, gak baik makan es krim."
"Kalau cuma satu atau dua, gapapa kali Dad." Kekeh Ica, sedari tadi pagi dia ingin makan es krim tapi Zen selalu mengawasi nya lewat anak buah nya yang berjaga di setiap penjuru mansion, meskipun pria itu pergi ngantor.
"Yang lain aja Bby."
"Daddy.." Ica merengek manja sambil mengayunkan lengan Zen.
"Okey, satu saja Bby." Jawab Zen akhirnya, dia memang tak terlalu bisa menolak keinginan gadis nya, meski dia tak tau apa efek dari memakan es krim di hari pertama datang bulan.
Ica berjalan mengambil es krim dengan ceria, dia memakan nya dengan lahap hingga habis satu cup tanpa perlu banyak waktu, hanya beberapa detik saja.
Ica merengut, dia masih ingin makan es krim satu cup saja sangat kurang untuk nya. Tapi Daddy nya akan marah. Lalu, saat pria itu sibuk dengan ponsel nya, Ica pikir dia punya kesempatan untuk kembali mengambil es krim di dalam kulkas.
Ica melangkah pelan, bahkan sampai berjinjit demi melakukan niat nakal nya, berusaha tak diketahui oleh Zen, tapi Ica lupa kalau Zen mempunyai mata elang. Jadi dengan mudah di menciduk Ica.
__ADS_1
"Hayo lho, mau ambil es krim lagi? Tadi Daddy bilang apa? Satu cup saja cukup, tak ada acara nambah!" Tegas Zen.
Ica melemas, dia masih ingin makan es krim, tapi daripada membuat Zen marah, lebih baik dia menurut saja.
Saat tidak sedang datang bulan, pria itu akan bilang jangan makan es krim banyak-banyak nanti sakit gigi, seperti orang tua yang menasehati anak nya saja. Saat datang bulan pun dia tak bisa makan es krim dengan bebas karena Zen selalu mengatakan ya baik memakan es krim saat datang bulan. Itu membuat nya kesal karena tak bisa puas memakan makanan favorit nya. Ehh tapi, es krim itu makanan atau minuman sih?
"Tidur, sudah malam besok kamu kuliah." Perintah Zen, Ica langsung menurut dan berbaring di samping Zen dengan memunggungi pria itu.
"Kamu lupa cara tidur mu Bby?"
"Apa sih Dad? Yang penting kan tidur." Ketus Ica membuat Zen gemas, dia tau benar gadis nya sedang merajuk.
Zen tersenyum jahil, di atas kepala nya seperti ada lampu bohlam yang menyala. Dia berbaring di belakang Ica, menyusup kan tangan nya ke dalam kaos yang di pakai Ica, merayap kan tangan nya dengan perlahan.
Zen terkekeh pelan saat melihat tubuh gadis nya meliuk-liuk, mungkin kegelian.
"Daddy, geli." Rengek Ica lalu berbalik, kini posisi mereka berhadapan.
"Nah kan gini enak tidur nya, gak di kasih pantatt. Untung kalo gak kentut, gimana kalo kentut? Mana kentut kamu itu aroma nya bisa bikin klenger."
"Ohh jadi begitu ya Dad? Bagus, Ica gak bakal kasih Daddy jatah setelah selesai datang bulan nanti." Sinis Ica.
Ica hanya mendelikan mata nya sebal dengan perkataan Daddy nya, kalau saja dia berani, ingin sekali memukul wajah tampan yang menyebalkan itu, tapi dia terlanjur cinta jadi tak melakukan nya, meski itu membuat tangan nya gatal.
"Lagian kentut kamu itu kan aromaterapi yang memabukan saat malam hari, Bby."
"Ini kok malah bahas kentut sih? Gak ada pembahasan lain yang lebih bermutu gitu?" Ketus Ica.
"Besok ada meeting di kantor, kamu datang ya."
"Buat?"
"Daddy ingin memperkenalkan mu secara khusus sebagai kekasih Daddy." Jawab Zen membuat Ica terkejut setengah mati.
"Daddy yakin?"
"Yakin, tentu saja. Pilihan Daddy takkan pernah salah, kamu wanita yang Daddy pilih." Jawab Zen lagi membuat Ica terharu, dia menabrak dada bidang Zen saking bahagia nya.
"Terimakasih sudah memilih Ica, Ica sangat beruntung bertemu Daddy malam itu."
"Daddy juga sangat beruntung karena sudah menolong mu hari itu." Mereka saling berpelukan mesra, hingga akhirnya tertidur dengan posisi yang tak berubah.
__ADS_1
.....
Pagi hari, Ica terlihat sudah bersiap. Meski agenda pertama nya adalah ngampus, tapi dia menyiapkan pakaian yang bagus untuk hadir di meeting itu nanti siang.
"Bby.." Panggil Zen dengan suara serak khas bangun tidur nya.
"Iya Dad, kenapa?" Ica menghampiri Zen yang masih mengusap mata nya pelan, kebiasaan pria itu jika tidur selalu tak menggunakan baju, alias bertelanjangg dada.
"Sudah cantik, mau kemana?"
"Mau ngampus, terus nanti siang ke kantor Daddy. Daddy lupa?" Tanya Ica.
"Nggak sayang, tapi jangan berdandan terlalu cantik, nanti orang-orang tak berkedip melihat mu." Celetuk Zen membuat Ica tertawa lirih.
"Iya iya, Ica hanya akan berdandan cantik di depan Daddy saja. Ayok bangun, Ica mau rapikan kasur nya." Pinta Ica, membuat pria itu bangun dengan malas.
....
"Azwar, kenapa disini?" Tanya Zen saat melihat Azwar berjalan lesu sambil mendorong motor butut nya yang mogok.
"Mogok tuan," Jawab Azwar, keringat bercucuran di kening nya, bahkan hingga menetes ke arah mata nya.
"Di depan ada bengkel, tinggalkan saja motor butut mu itu di sana."
"Lalu saya berangkat kerja naik apa?" Tanya Azwar.
"Ikut dengan ku."
"H-hah? Tak mungkin saya mengotori mobil anda dengan tubuh kotor saya ini, Tuan Zen."
"Tak usah banyak omong, cepatlah." Perintah Zen lagi, membuat Azwar tak punya pilihan lain selain menuruti perintah Zen. Bos sekaligus adik ipar nya itu.
....
🌷🌷🌷🌷
Maaf nih, karena bingung visual bang Azwar. Jadi author memutuskan ganti visual nya.
Won Song Seok yang awal nya jadi visual abang Brian, Author ganti jadi visual bang Azwar. Karena setelah dipikir-pikir gak sesuai sama sebutan gulali nya, jadi maaf ya kalau gak suka dengan keputusan author🙏
__ADS_1