Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 218


__ADS_3

Waktu terasa sangat cepat berlalu, tak terasa sudah berbulan-bulan berlalu, hari ini terjadi kepanikan di mansion Zen, dimana sang istri sudah mengalami pecah ketuban. Pria itu panik bukan main karena ini adalah pengalaman pertama nya, dia panik sampai ngompol di celana, sedangkan istrinya masih bisa tertawa melihat suami nya berdiri dengan tubuh gemetar dan air yang mengucur dari celana nya.


"Dad, kenapa malah ngompol disitu, bau tau. Sana, panggi olehl Bi Arin." Zen masih gemetar di dekat pintu kamar mandi.


"Daddy, ayolah ini cuma melahirkan bayi."


Barulah Zen bergerak dan mengambil ponsel nya, dia menelpon Bi Arin dari kamar nya saking tak sanggup nya, tubuh nya terus saja gemetaran.


"Bi, tolong ke kamar sekarang ya." ucap Zen, lalu mematikan sambungan telepon itu setelah mendapat jawaban dari Bi Arin. Tak butuh waktu lama, wanita paruh baya itu masuk dengan wajah tenang nya, dia pikir ada apa tuan muda nya memanggil lewat telepon meminta nya ke kamar.


Tapi seketika raut wajahnya berubah panik saat melihat Ica berdiri dengan tangan memegang sisi meja nakas, air masih mengalir deras ke kaki nya, di sertai darah yang membuat nya panik. Sedangkan Zen masih berdiri terpaku di dekat pintu kamar mandi.


"Nona.."


"Bibi, aku udah pecah ketuban tapi Daddy malah bengong."


"Kita ke rumah sakit sekarang Nona." Ucap Bi Arin, dia mengambil beberapa peralatan bayi untuk di bawa ke rumah sakit.


"Tuan, sadarlah. Nona akan melahirkan, ayo bersiap kita ke rumah sakit sekarang juga."


"Bi, lihat deh celana nya Daddy basah, dia ngompol saking panik nya." Cetus Ica membuat Zen malu, wajah nya memerah karena malu. Dia pun langsung masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


"Ya ampun calon hot daddy ngompol di celana, pantesan dari tadi bau pesing." Ucap Bi Arin sambil menggelengkan kepala nya.


"Nona masih bisa berjalan? Mari Bibi gantikan pakaian nya, pakai pantyliner dulu nya biar gak basah pas di perjalanan nanti." Ica mengangguk dan membiarkan Bi Arin menggantikan pakaian nya, dia juga masih bisa memakai pembalut dan celana sendiri, rasanya memang belum terlalu mulas.


Tak lama, Zen sudah keluar dari kamar mandi dan tanpa kata-kata dia langsung menggendong sang istri ala bridal style keluar kamar di ikuti Bi Arin yang membawa tas besar berisi peralatan bayi.


Kakek Arhan yang baru pulang jogging mengernyitkan dahi nya, dia heran mau kemana pasangan bucin plus kepala pelayan itu.


"Kalian mau kemana?"


"Ica mau lahiran Kek, sudah pecah ketuban." jawab Zen.


"Tunggu sebentar, kakek ikut ke rumah sakit." ucap nya lalu berlari ke kamar untuk mengganti pakaian nya.


Bi Arin pergi ke bagian belakang, dia menemui maid yang lain.


"Kamu bersihkan kamar tuan muda ya? Saya harus ikut ke rumah sakit."

__ADS_1


"Baik Bi, semoga lahiran Nona Ica lancar ya."


"Minta doanya ya."


"Tentu saja Bi, kami akan mendoakan keselamatan Nona Ica." Jawab yang lain mereka berkumpul dan memanjatkan doa untuk kelancaran bersalin sang Nona. Ica memang dekat dengan semua maid di mansion, kepribadian nya yang ramah dan mudah akrab membuatnya sangat di sukai. Ica sering membuat acara jamuan untuk para maid yang sudah bekerja keras, dia juga royal pada para maid.


"Saya pergi dulu, jangan lupa bersihkan kamar tuan muda."


"Iya Bi, hati-hati di jalan." Bi Arin menganggukan kepalanya dan pergi menjauh.


"Semoga Nona Ica lahiran dengan lancar ya."


"Tentu saja, dia orang yang baik." Jawab yang lain.


Setelah drama pagi hari itu, akhirnya mobil itu sampai di rumah sakit. Ica langsung di tangani oleh dokter kandungan terbaik di rumah sakit itu.


"Masih pembukaan 6, tunggu sampai pembukaan 10 ya Tuan." Ucap Dokter setelah mengukur pembukaan dengan tangan nya.


"Apa itu masih lama, Dok? Jangan biarkan istriku kesakitan!" Padahal Ica tak menunjukan ekspresi apapun, dia tenang setenang air mengalir. Tapi berbeda dengan Zen yang nampak begitu khawatir, bahkan keringat terus membanjiri kening nya.


"Daddy.."


Bi Arin masuk, dia memberikan air gula merah pada Ica lalu mengusap kepala nya.


"Mulas teratur?" Ica mengangguk.


"Mari, kita jalan-jalan agar cepat pembukaan."


"Bibi, Ica sudah kesakitan masa di ajak jalan-jalan!"


"Tak apa Dad, itu salah satu cara agar mempercepat pembukaan jalan lahir." Ucap Ica membuat Zen bungkam seketika.


Ica masih bisa berjalan-jalan di papah oleh Bi Arin, dengan telaten dia mengusap keringat di kening Ica dan membantu nya meminum air gula merah agar membuat nya lebih bertenaga nanti.


"Bibi.." Ica meringis, Bi Arin paham dan langsung mendudukan Ica di sisi ranjang. Dia menekan tombol interkom dan tak lama dokter datang dengan tas besar berisi alat-alat yang akan di gunakan selama proses persalinan.


"Pembukaan nya sudah penuh, silahkan berbaring Nyonya." Ica menurut dan berbaring di bantu oleh Bi Arin.


"Siapa yang akan menemani proses lahiran?"

__ADS_1


"S-saya dok." Jawab Zen, Bi Arin mengulumm senyum. Pria datar itu ternyata bisa panik dan gugup juga ternyata, kalau saja bukan dalam keadaan darurat seperti ini, dia pasti sudah tertawa terbahak-bahak.


"Berjuang Nona, saya menunggu di luar ya. Ada Tuan Zen yang akan memberik dukungan, semangat." Ucap Bi Arin. Ica tersenyum manis lalu menganggukan kepala nya, Bi Arin pun keluar dari ruangan yang terasa mencekam itu.


Zen memegang tangan Ica dengan kuat, seakan menyalurkan kekuatan pada sang istri yang sebentar lagi akan melahirkan buah cinta mereka yang pertama dan kedua.


"Bersiap Nyonya, jika mulas langsung ngeden ya."


Mulas itu semakin terasa, Ica mendorong dengan sekuat tenaga, sedangkan Zen wajah nya langsung berubah pias saat melihat wajah sang istri yang terlihat sangat kesakitan.


"Bby, kamu bisa sayang. Kamu wanita yang kuat, kamu bisa melakukan nya Sayang." Ucap Zen memberi semangat.


Sedangkan di luar, Kakek Arhan dan Bi Arin mondar mandir. Sudah setengah jam berlalu tapi belum terdengar suara tangisan bayi, hingga derap langkah terdengar mendekat. Rupanya Azwar dan Sintia yang datang.


"Bagaimana keadaan Ica, Kek?"


"Masih belum Nak, sudah setengah jam sejak dokter masuk, tapi belum terdengar suara tangis bayi." Jawab Kakek Arhan membuat Azwar dan Sintia merasa cemas.


Tak lama, Bimo dan Hani juga datang. Raut wajah mereka tak jauh berbeda dengan Azwar dan Sintia.


"Bagiamana?"


"Masih belum!" Jawab Azwar membuat Hani merasa lemas seketika.


Sudah satu jam, tapi masih belum terdengar apapun. Tapi tak lama kemudian, tangisan bayi menggema bersahutan dari dalam, ke enam orang itu kompak mengusap dada merasa lega karena Ica sudah berhasil melahirkan buah cinta nya dengan Zen.


Perawat keluar dari ruangan bersalin dengan pakaian steril yang membalut tubuhnya.


"Selamat Tuan dan Nyonya, cucu anda kembar perempuan dan laki-laki, lahir dengan selamat tanpa satu kurang apapun, sehat, ibunya juga sehat, saat ini sedang di jahit luka bekas jalan lahirnya."


"Aaahh syukurlah." Ucap kakek Arhan. Dia sangat lega setelah mengetahui kabar cucu dan menantu nya yang baik-baik saja dan proses melahirkan itu sudah di lalui dengan lancar tanpa hambatan.


.....


🌷🌷🌷🌷


yeee, baby twins sudah lahir.


kangen sama author gak? maaf dua hari ini gak up, author nya baru siuman😊

__ADS_1


__ADS_2