Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 112


__ADS_3

Ica masih berkutat dengan buku dan alat tulis, dia sedang menulis materi untuk di pelajari di rumah.


"Duhh pegel banget ini tangan, berasa keriting." Keluh Ica setelah selesai menulis berlembar-lembar kertas berisi materi untuk esok hari.


"Makanya minta Si Daddy beliin laptop kali Ca, biar gak pegel nulis. Bawa nya gampang, gak ribet juga." Cetus Brian.


"Iya ya, kok gue gak kepikiran buat minta laptop?"


"Seperti nya Lo lupa kalo Daddy Lo itu sultan tingkat tertinggi, beli laptop satu mah kagak ada apa-apa nya, dia mampu beli sama pabrik nya sekaligus." Celetuk Brian.


"Ya gak gitu konsep nya Bri, gue nya yang lupa. Kenapa gak minta laptop ya?"


"Bucin tuh, kalo gak bucin pasti dah minta dari awal masuk kuliah." Ica mendelik sebal ke arah Brian, dia suka sekali bicara tanpa saringan tapi dengan gaya santai nya.


"Bucan bucin, gue gak bucin, cuma Daddy yang bucin." Ketus Ica.


Brian terkekeh melihat ekspresi kesal Ica, dia memang suka melihat Ica marah, menurut nya dia semakin menggemaskan ketika marah, jadi dia sering menggoda nya.


Tak jarang dia mendapat bonus geplakan, pukulan atau tendangan dari Ica, tapi entahlah menurut nya semua tentang Ica selalu menarik.


"Gila kali ya Sya? Dia senyam-senyum gak jelas."


"Enak aja bilang gue gila, kagak kali." Kali ini Brian yang bicara ketus, membuat kedua gadis itu kompak tertawa.


"Btw, setelah habis kelas Lu mau kemana Ca?" Tanya Risya.


"Ke kantor Daddy, dia nyuruh gue kesana."


"Di kantor Lu suka ngapain Ca?" Tanya Risya lagi.


"Ya tergantung situasi dan kondisi, kalau aman ya kalian tau lah? Kalau gak aman ya bobo aja."


"Pernah di apain Daddy di kantor Ca?" Tanya Risya.


"Gak usah tau, Lu jomblo." Sindir Brian.


"Gue nanya sama Ica kali bukan sama Lo, lagian Lo kan jomblo juga."


"Make nanya pernah di apain, kalo Lu sama pacar Lu berduaan satu ruangan ngapain?" Balik tanya Brian dengan sewot, sedangkan Ica menjadi pihak penyimak saja.


"Jangan di bayangin, pokok nya adegan 21+. Lu belum cukup umur kan?"


"Enak aja, tahun ini gue 22 tahun kali." Jawab Risya.


"Tapi jomblo." Celetuk Brian lagi.


"Awas Lu ya.."


"Sakit anjirr." Brian meringis saat tas Risya mendarat sempurna di kepala nya..


"Rasain, seneng banget ngatain gue jomblo, padahal Lu sendiri jomblo abadi."


"Hati-hati, biasa nya dari saling ledek gini nanti nya jadi suka lho."


"Ihh ogah, amit-amit dahh.."


"Siapa juga yang mau sama Lo, kayak gak ada cewek laen aja." Ketus Brian.


"Aduhh, bisa gak sih sehari aja kalian ini akur? Pusing gue liat plus denger nya."


"Kagak." Jawab kedua nya barengan.

__ADS_1


"Tuhh kan barengan, kalian itu cocok sebenarnya, cuma gengsi aja."


"Ca.." Rengek Risya, membuat Ica tergelak.


"Napa sih gak coba pendekatan dulu gitu, kalian cocok kok. Sama-sama jomblo ini."


"Ica.." Kali ini rengekan Brian yang terdengar menggelikan bagi Ica.


"Ihh geli, ampun!"


Hingga obrolan ketiga nya pun harus terhenti saat ponsel Ica berdering.


"Diem dulu ya, mau angkat telpon dulu."


Ica tersenyum saat melihat siapa yang menelpon nya.


"Hallo Dad.."


"Sudah selesai kelas nya sayang? Daddy kirim supir buat jemput kamu ya?"


"Udah kok Dad, ini Ica lagi beres-beres aja." Jawab Ica.


"Yaudah By, Daddy tutup dulu. Cepetan kesini ya, Daddy butuh vitamin."


"Vitamin lagi Dad? Kan tadi pagi udah, kok sering minta vitamin?" Tanya Ica dengan dahi yang berkerut.


"Daddy lagi banyak masalah By, jadi cepet kesini ya, Daddy butuh kamu."


"Ohh oke Dad."


Zen pun menutup panggilan nya, membuat Ica buru-buru berkemas.


"Daddy Lo kenapa Ca?" Tanya Brian.


"Vitamin apa?" Tanya Risya dan Brian kompakan.


"Kan gue dah bilang, kalian pacaran aja. Ngomong aja banyak barengan nya."


"Jawab dulu kali, kita kan nanya."


"Vitamin bibir, kalian ngerti kan?"


"Ohhh.." Jawab kedua nya, barengan lagi.


"Barengan aja terus, tapi gengsi. Udah ya, gue pulang duluan, papay." Ica berlari keluar kelas meninggalkan kedua teman nya.


"Vitamin bibir tuh apa Bri?"


"Lu gak tau? Terus tadi kenapa bilang Oh?"


"Ya malu kalo keliatan katrok di depan Ica." Jawab Risya.


"Ciuman, Lu pernah ciuman belom?" Goda Brian membuat wajah Risya memerah.


"Nape malah blushing? Gue curiga sih, Lo belom pernah ya?"


"Diem lah Bri, mana ada cowok yang mau sama gue. Gue jelek, item, dekil." Jawab Risya pelan.


"Berubah yok? Lu pasti cantik kalo kurusan dikit lagi aja." Saran Brian.


"Gue udah coba, Ica juga udah bantuin gue diet Bri, tapi gak berhasil."

__ADS_1


"Udah nyoba olahraga?" Risya menggelengkan kepala nya.


"Waktu itu Ica ngajakin ke gym, tapi gue halangan."


"Yaudah, hari minggu gue temenin Lu nge gym, oke?"


"T-api.."


"Sya, cowok jaman sekarang nyari nya yang good looking. Lo gak mau gitu jadi pujaan para cowok?"


"Mau sih, tapi.."


"Kalo Lo mau berubah ya harus punya niat Sya, jangan maju mundur cantik, soalnya bukan lagi. Jalan maju mundur kayak di televisi gak bakal buat Lo cantik."


"Iya-iya, bawel amat."


"Gapapa kali, pulang bareng?"


"Boleh, kebetulan uang jajan gue udah menipis."


"Ciihh pantesan nyari tebengan mulu."


"Kan biar gratis Bri."


"Serah Lu dah, yook pulang."


Kedua nya pun pulang bersama, Brian sudah terbiasa mengantar Risya pulang dulu sebelum dia pulang ke mansion.


....


Di kantor, Ica sedang duduk di pangkuan Daddy nya. Kedua tangan nya menggelayut manja di leher kokoh Zen.


"Bagaimana kuliah nya By?"


"Lancar Dad, tapi lihat tangan Ica." Ica menunjukan bulatan kecil di jari nya, tanda kalau dia sudah bekerja keras menulis berlembar-lembar materi.


"Kenapa tangan mu sayang?"


"Gara-gara nulis banyak Dad." Jawab Ica.


"Aahhh Daddy lupa membelikan mu laptop,"


"Beliin dong Dad."


"Iya sayang, nanti Daddy belikan. Tapi sebelum itu Daddy ingin vitamin."


"Boleh, tapi kunci dulu pintu nya." Pinta Ica, Zen menurut dan menekan tombol remot yang ada di meja nya, membuat pintu terkunci otomatis.


Zen mulai mencium bibir Ica, menyesap nya lembut, tangan nya juga aktif merayap ke dalam pakaian gadis nya, menggapai buah pepaya yang ranum untuk di petik.


"Emmm, Dad.." Lenguhh Ica di sela ciuman mereka.


"Daddy ingin masuk, boleh?"


"Lakukan saja apapun sesuka Daddy." Jawab Ica pelan.


Zen tersenyum nakal, dia menggendong gadis nya ke dalam kamar rahasia yang ada di ruangan direktur.


.....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Vitamin nya nanti di up lagi, sekalian update keadaan meisya kali ya? apa Rosa sama Jack? Atau Albert?πŸ˜‚



__ADS_2