
Zen tertidur sambil duduk, tangan nya terus menggenggam tangan gadis nya, tak melepaskan nya sedetik pun.
Ica terbangun dari pingsan nya, dia menatap langit-langit kamar, dia belum menyadari kalau pria yang seharian ini dia tangisi ada di samping nya.
Air mata Ica luruh, dia menyangka Zen tak pulang. Padahal pria itu tertidur di samping nya.
"Bahkan sudah semalam ini, Daddy gak pulang." Gumam Ica, terdengar oleh Zen yang ternyata sudah bangun dari tidur nya.
"By.." Panggil Zen lembut, membuat Ica menoleh dan buru-buru menghapus air mata nya.
"Daddy? Sejak kapan disini?"
"Dari tadi sayang, Daddy tidur disini." Jawab Zen membuat dahi Ica berkerut, dia bahkan tak menyadari kalau Zen ada disini sedari tadi.
"Daddy minta maaf sayang, Iya Daddy salah. Maaf ya By."
Ica tak bisa menahan air mata nya, tangis nya meledak membuat Zen khawatir dan segera memeluk gadis nya. Mengusap bahu nya yang terguncang karena isakan nya.
"Ha-rus nya Daddy dengerin Ica dulu, Daddy gak boleh egois. Ica gak mungkin hianatin Daddy."
"Iya sayang, sekali lagi Daddy minta maaf sayang." Ucap Zen sambil terus memeluk tubuh Ica, menenangkan gadis nya yang masih menangis.
"Daddy jahat udah nyuekin aku dari kemaren." Tangan mungil Ica terus memukuli dada bidang Zen.
"Cukup sayang, Daddy minta maaf, Daddy menyesal."
"Janji ya gak gitu lagi Dad? Ica ngerasa sendiri kalau Daddy diamin Ica, cuma Daddy yang Ica punya sekarang, cuma Daddy yang baik sama Ica."
Zen memilih diam sambil terus mengusap punggung sang gadis dengan lembut.
"Ica capek Dad.."
"Tidur ya?"
"Pengen di peluk Daddy, semalam Daddy gak peluk Ica."
"Iya sayang, Daddy ganti baju dulu."
"Jangan lama." Rengek Ica dengan ekspresi lucu nya, membuat Zen gemas.
"Sebentar sayang, hanya berganti pakaian."
"Ica tunggu, Dad." Zen mengangguk mengiyakan dan pergi ke ruang ganti.
...
Setelah selesai mengganti pakaian nya, Zen segera keluar dan langsung memeluk gadis nya.
"Tubuh Daddy bau asem."
"Daddy gak mandi, tadi habis pulang kerja Daddy panik soalnya kamu tiduran di lantai, tau nya pingsan, jadi lupa mandi. Gapapa ya By?"
"Iya Dad, asem nya seger kok."
"Kamu sudah makan sayang? Kata Bi Arin seharian kamu gak keluar kamar."
"Mood Ica hancur gara-gara Daddy."
"Biasa nya kan kalo kamu kesel pasti makan banyak."
"Ngeledek Dad?"
"Nggak kok sayang, Daddy malah suka kamu yang doyan makan."
__ADS_1
"Lagi gak mau aja Dad, besok setelah kuliah Ica mau ke mall sama Hani ya Dad? Boleh gak?"
"Nggak boleh sayang,"
"Lho kok gitu Dad?"
"Pasti kamu pengen ketemu cowok yang kemaren kan?"
"Daddy aku udah bilang dia kakak aku."
"Kakak atau bukan, dia tetap laki-laki, dan aku tetap cemburu melihat kamu memeluk nya erat kemarin."
"Ya ampun Daddy.."
"Lagian dia hanya kakak tiri kan? Gak menutup kemungkinan kalau dia suka sama kamu, By. Dan Daddy harus waspada sebelum itu terjadi."
"Tapi Dad, kak Azwar baik sama Ica."
"Terus kamu mau nya gimana sayang? Boleh ketemu tapi harus sama Daddy!" Tegas Zen.
"Baiklah, terserah Daddy saja."
"Gadis pintar, uang hadiah mu sudah di pakai apa By?"
"Ica udah janji mau traktir Hani sama Risya kalo menang."
"Yaudah, kamu boleh pergi sayang. Tapi dengan pengamanan ketat, ingat itu!"
"Baik Daddy tampan ku," Ica mencium singkat pipi kanan Zen. Tapi Zen tak puas jika hanya dengan ciuman singkat, maka nya dia menarik dagu gadis nya dan mencium bibir nya dengan rakus.
....
"Kau mempermainkan aku, Jack!" Teriak Rosa setelah sesi bercint* mereka baru saja selesai.
"Aku tak peduli, setiap perbuatan pasti ada resiko nya! Kau harus berani mengambil resiko nya, apapun itu Jack." Tegas Rosa.
"Baiklah, secepat nya kita akan melakukan rencana kita. Bagaimana kalau kamu belanja dulu biar lebih tenang?"
"Baiklah, minta uang nya." Jack memberi Rosa uang dengan jumlah yang banyak, membuat amarah wanita itu meluap entah kemana karena sogokan uang dari Jack.
"Secepatnya lakukan rencana itu, aku tau kelemahan Zen!"
"Bagus, kita bisa memulai nya dengan kelemahan Zen." Jawab Jack dengan seringaian jahat di bibir nya.
"Aku pergi belanja dulu, terimakasih uang dan permainan mu."
Jack berdecak kesal, uang nya habis di poroti oleh wanita matre sekelas Rosania, meski dia mendapat kepuasan, tapi tetap saja wanita itu menuntut kesepakatan mereka di awal, yaitu membuat Zen hancur!
....
Seperti rencana kemarin, saat ini Ica, Hani dan Risya sedang makan di mall, dengan Ica yang mentraktir mereka berdua.
Karena bergaul dengan dua gadis barbar, Akhirnya selera makan Risya pun ketularan Ica dan Hani.
"Gimana Lu sama Daddy kemaren Ca? Gue liat dia marah banget kemaren."
"Iya dia marah Sya, dia nyuekin gue. Tapi sekarang udah baikan kok."
"Emang nya ada apa Ca? Kok gue gak tau." Tanya Hani.
"Kemaren ada kak Azwar nemuin gue di kampus, gue kangen dong sama dia, yaudah gue peluk Han, ehh malah Daddy datang. Jadi nya salah paham, Daddy ngira gue hianatin dia."
"Kalau gue jadi Daddy Lo juga pasti bakal salah paham sih, Ca. Apalagi kalian kan lagi pelukan gitu."
__ADS_1
"Iya Han, gue mati-matian jelasin sama Daddy tapi dia tetep nyuekin gue. Tapi tadi malem dia udah minta maaf dan hubungan kita baik-baik aja sekarang."
"Yaudah deh syukur kalo udah baikan."
Tanpa sepengetahuan siapapun, ada seseorang yang diam-diam memperhatikan Ica dari jauh.
"Target di temukan!"
"Bagus, terus ikuti dia kemana pun. Begitu ada kesempatan langsung saja."
"Baik saya mengerti."
Setelah nya pria itu pergi menjauh dari meja Ica, entah kemana.
"Eehh gue kebelet, gue ke toilet dulu ya?"
"Jangan lama-lama ya." Ucap Hani, sedangkan Risya hanya menganggukan kepala nya, setuju dengan Hani.
"Cuma buang air kecil doang bestie, masa lama."
Ica pun pergi ke toilet dengan terburu dan masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Setelah selesai menunaikan hajat nya, Ica pun keluar dari bilik toilet, tapi seorang pria yang sedari tadi mengawasi nya segera membekap mulut Ica dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius.
Pria itu segera menggendong Ica di bantu dua orang lain, dan memasukan Ica ke dalam mobil.
"Si Ica ke toilet tapi udah hampir sejam kok belum balik ya Sya?"
"Iya Han, kemana ya? Kita cek yuk, kali aja ada orang iseng yang ngunciin Ica di kamar mandi." Celetuk Risya lalu mengikuti Hani yang sudah berjalan lebih dulu.
Sesampai nya di toilet wanita, Risya dan Hani celingukan mencari Sahabat nya, tapi nihil tak ada tanda-tanda keberadaan Ica.
"Gak ada, kemana ya? Gak mungkin dia pulang duluan kan Han?" Tanya Risya.
"Gak mungkin lah dodol, kan tas nya Lu pegang." Celetuk Hani, membuat Risya baru sadar kalau tas Ica dia yang pegang.
"Terus kemana dong?"
"Cari aja dulu Sya."
Mereka berdua celingukan mencari Ica, tapi setelah mencari beberapa lama, tak ada tanda-tanda keberadaan Ica.
Hingga tak sengaja mata Hani melihat sebelah sepatu yang tadi Ica pakai.
"Itu kan milik Ica, Sya?" Tunjuk Hani, Risya segera mengambil nya.
"Iya, ini milik Ica. Jangan-jangan Ica di culik Han?"
"Untuk lebih pastinya, kita cek cctv aja ya."
"Ini toilet woyy, mana ada cctv di toilet."
"Terus itu apa hah? Gantungan baju?" Tunjuk Hani pada kamera pengawas yang berada tepat di atas mereka.
"Ehh iya deng, yaudah yuk cepetan."
Mereka berdua pun segera pergi ke pusat bantuan untuk memeriksa rekaman cctv.
....
🌷🌷🌷
Gak kebayang gimana marah nya Daddy kalo tau gadis nya di culik ya😪
__ADS_1