
"Lho, kenapa Daddy disini By?" Tanya Zen membuat dahi Ica berkerut heran.
"Kan Daddy sendiri yang masuk kesini, sudah hampir satu jam. Ica cuma khawatir Daddy kenapa-napa, ehh malah tidur."
"Satu jam?" Tanya Zen lagi.
"Iya Dad, satu jam. Lihat aja tangan Daddy itu sampe keriput, udah yuk pake baju, gak baik berendam terlalu lama, ini udah malam."
Zen bangkit dari bath up dengan tangan yang menggaruk kepala nya, apa benar satu jam tidur di kamar mandi dan sialnya, malah dapet mimpi yang indah?
Andai saja semua itu bukan mimpi, Zen pasti akan sangat bersyukur kali ini.
"Haduh, mana di bangunin nya pas lagi enak-enak nya.." Gumam Zen sambil menggelengkan kepala nya, permainan Ica dalam mimpi terus membayang.
"Kenapa planga plongo gitu sih Dad? Kesambet setan air ya?" Tanya Ica sambil meraba dahi Zen.
"Apa sih By? Enggak kok, kamu ngapain masih pake bathrobe?"
"Emang nya kenapa kalo pake bathrobe habis mandi? Salah ya Dad?"
"Enggak sih, cuma ya kenapa masih pake bathrobe setelah satu jam mandi, gak ada baju ya?"
"Enak aja, baju Ica banyak kan Daddy yang beliin." Jawab Ica.
"Ya terus?"
"Males ganti baju, pengen tidur." Ica merebahkan tubuh nya di ranjang dengan nyaman, membiarkan Zen masuk ke dalam ruang ganti dan berpakaian dulu.
Setelah memastikan Zen masuk ke ruang ganti, Ica buru-buru membuka bathrobe nya dan menyisir rambut nya, tak lupa memoleskan lipstick berwarna merah muda.
"Pengen liat ekspresi Daddy kalau aku pake baju ginian, di terkam gak ya? Tapi gapapa deh di terkam, enak ini.." Gumam Ica sambil cengengesan.
Pikiran nya sedikit demi sedikit menjadi seperti Zen yang mesoom, karena sudah banyak terkontaminasi.
Ceklek..
Pintu ruang ganti terbuka, Ica pura-pura sedang minum air putih dari meja nakas dengan posisi duduk, hingga pakaian mini nan tipis itu begitu mengekspos tubuh nya.
Zen melotot melihat penampilan Ica, dia bahkan beberapa kali mengucek mata nya dan menggelengkan kepala nya, takut saja kalau ini mimpi lagi.
"Lho, sampai kapan Daddy mau berdiri disitu? Gak pegel Dad?"
"Ngapain pake baju gitu By? Mau menggoda Daddy?" Tanya Zen to the point, bahkan senjata nya mulai aktif.
"Gerah Dad.." Jawab Ica santai, dia sudah merencanakan semua nya dengan matang.
"Kalau gak mau ngasih jatah, jangan pake baju mini gitu By, kamu tau iman Daddy tak sekuat itu melihat godaan seperti dirimu."
"Kenapa ngelarang? Toh ini baju Ica yang beli kok, ya pakai uang Daddy sih.." Jawab Ica masih santai, tanpa menyadari kalau posisi Zen sudah sangat dekat dengan nya.
"Oke kalau begitu, terima akibat nya." Zen menarik tangan Ica, hingga gadis itu terduduk di pangkuan nya.
__ADS_1
"Apa ini Dad?"
"Jangan sok polos sayang, kamu sudah sering Daddy polosin. Jadi ayo kita bermain,"
"Enggak ahh, Daddy gagal move on.." Ejek Ica membuat Zen mengeratkan pelukan nya di pinggang ramping nya.
"Kalau begitu, buat Daddy lupa semua masa lalu Daddy, kamu bisa?"
"Tentu saja, Ica kan yang selalu memuaskan Daddy sekarang."
"Baiklah, sekarang puaskan Daddy. Kamu yang pegang kendali, Daddy yang menikmati. Deal?"
"Oke, aku akan memberikan pelayanan yang terbaik." Ica benar-benar melakukan hal seperti di dalam mimpi itu, serasa deja vu tapi ini lah yang dia mau.
Benar saja, Zen terus mengerang nikmat sepanjang permainan Ica, membuat gadis merasa di atas awan karena berhasil membuat Zen terus meracau menyebut nama nya.
"Baby..." Zen mengerang saat dia meraih pelepasan nya dengan Ica yang masih menduduki senjata Daddy nya.
Meski sudah menyemburkan lahar panas, senjata Zen tetap berdiri tegak. Itu artinya Ica harus bekerja keras menidurkan adik kecil Daddy nya.
"Masih belum By, masih belum.." Ucap Zen dengan nafas yang tersengal.
"Aku tau, karena senjata Daddy masih menegang di dalam." Jawab Ica.
"Kamu lelah sayang?" Ica mengangguk manja.
Zen membalikan posisi, hingga gadis itu berada di bawah kungkungan pria gagah itu.
Ica membelai wajah tampan Zen, mengecup nya sekilas, lalu melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh Zen.
"Daddy..." Rengek Ica saat pria itu tengah menggigiti puncak buah kenyal nya.
"Kenapa By?"
"Sakit, jangan di gigit napa?" Ketus Ica, membuat Zen tersenyum jahil.
Zen kembali melanjutkan aksi nya, meski beberapa kali Ica meminta berhenti, tapi Zen takkan berhenti sebelum dia puas.
....
Pagi hari nya, Zen sudah bersiap dengan jas hitam nya. Ica masih belum bangun, dia kelelahan setelah bertarung semalaman, Zen benar-benar membuat nya tak tidur, Ica baru tidur pukul 3 pagi.
Zen membelai lembut wajah Ica, hingga gadis itu merasa terganggu dan terbangun dari tidur nya.
"Pagi Baby.."
"Emmm, pagi Dad.." Jawab Ica dengan suara serak khas bangun tidur nya.
"Tak mau mengantar Daddy ke bandara?"
"Daddy benar-benar akan pergi?" Tanya Ica.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi sayang, ini pekerjaan yang tak bisa di tunda lagi."
"Huhh, baiklah Ica mandi dulu.." Jawab Ica lesu, gadis itu pergi ke kamar mandi dengan malas. Seluruh tubuh nya terasa sakit, terutama daerah inti nya.
....
Mobil melaju membelah jalanan padat ibukota dengan di supiri salah satu anak buah kepercayaan Zen.
Sedari tadi, Ica terus menggelayut manja di lengan Zen. Dia tak rela pria itu pergi, meski hanya untuk perjalanan bisnis.
"Daddy..." Rengek Ica manja.
"Iya By, kenapa sayang? Jangan manyun-manyun gitu dong.."
"Jangan pergi, Ica gimana kalau Daddy gak ada?"
"Daddy hanya sebentar sayang, jangan khawatir. Kita bisa melakukan panggilan video kan?"
"Iya, tapi rasanya beda.."
"Ayolah sayang jangan begini, kalau bisa di wakilkan pasti sudah Daddy lakukan."
Ica tak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukan nya pada Zen.
"Ica pasti merindukan pelukan Daddy.." Gumam Ica, membuat Zen menyunggingkan senyum samar nya sambil mengusap puncak kepala sang gadis.
Hingga tak terasa, disinilah ketiga orang itu berada. Tempat pesawat lepas landas, Ica terus menggenggam tangan Daddy nya.
"Baby, Daddy pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik, kuliah dengan baik, jangan telat makan ya. Daddy pasti cepat kembali setelah semua nya selesai," Ucap Zen menangkup kedua sisi wajah gadis nya.
Ica mengangguk pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Daddy mohon jangan menangis sayang, ini hanya sebentar." Zen meraih Ica kedalam pelukan nya, membuat Ica menduselkan wajah nya di dada bidang Zen.
"Mari tuan, pesawat akan segera take off."
Zen melerai pelukan nya, tapi Ica langsung menarik dasi Zen dan mencium bibir nya, ciuman mesra sebagai perpisahan. Ica tak peduli meski ini di tempat umum dan orang-orang melihat nya.
"Hati-hati di jalan dan segera kabari kalau sudah sampai, jangan buat Ica khawatir ya Dad."
"Iya sayang, Daddy pergi dulu ya.." Zen mengecup singkat kening Ica.
Pria itu pergi meninggalkan Ica di ikuti Bimo di belakang nya.
"Mari pulang Nona,"
Ica pun mengekor di belakang anak buah Zen, meski sesekali menengok ke belakang untuk memastikan Zen sudah pergi.
....
🌷🌷🌷
__ADS_1
cepet pulang ya Dad😊