
Zen keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan acara bersih-bersih nya, meski sebenarnya dia nyaman dengan bau tubuh gadis nya yang bersatu dalam keringat, tapi mau bagaimana lagi, gadis nya menyuruh mandi.
"By.." Panggil Zen, padahal dia tau ada Rosa yang sedang duduk di berhadapan dengan gadis nya.
"Iya Dad, kenapa?" Tanya Ica semringah, dia langsung bangkit dari sofa dan menggandeng mesra lengan Zen.
"Enggak, Daddy pikir kamu kemana." Jawab Zen sambil mengelus lembut puncak kepala sang gadis.
"Ica disini Dad, lagi nemenin si kecoa terbang yang ngebet pengen ketemu Daddy." Ucap Ica dengan menekan kata 'kecoa terbang', membuat wanita yang di kode kesal bukan main.
"Ahh Daddy lupa ada tamu ya, sudah lama?" Tanya Zen basa basi.
"Ambilkan jus buat Daddy ya, sayang."
"Baik Dad.." Ica pun pergi ke dapur, Zen mengubah mimik wajah nya. Jika saat menatap Ica binar mata nya menyiratkan rasa cinta, berbeda dengan cara Zen menatap wanita di depan nya, yang sayang nya itu adalah mantan kekasih nya yang menghilang beberapa tahun silam.
"Mau apa lagi kesini, Ros?"
"Zen, aku bisa menjelaskan semua nya. Kenapa aku pergi setelah sembuh dari perawatan bekas kecelakaan, aku punya alasan untuk itu Zen!"
"Kalau untuk membahas sesuatu yang tak penting, lebih baik kau pergi saja. Jangan membuang waktu ku, Ros!"
"Zen ini masih belum terlambat kan? Kau masih mencintai aku kan? Jadi ayo kita mulai semua nya dari awal." Tawar Rosa dengan ekspresi penuh keyakinan.
Zen terkekeh geli mendengar ucapan wanita tak tau malu di depan nya, menurut nya sangat lucu jika mau memulai dari awal tapi dia yang memutuskan pergi tanpa alasan, dengan kedok kecelakaan.
"Sudah sangat terlambat, Ros. Hati ku sudah milik wanita lain sekarang, aku sangat mencintai nya, bahkan apa yang tidak aku dapatkan darimu dari suatu hubungan itu aku dapatkan dari wanita ku yang sekarang!" Tegas Zen setelah selesai dengan kekehan nya. Pria itu kembali menatap tajam wanita itu.
"Tapi Zen, beri aku satu kesempatan untuk merebut hati mu lagi. Aku janji akan lebih mementingkan hubungan kita."
"Tak ada kesempatan lagi, kalau kau memang berniat memperbaiki semua nya, kenapa menghilang begitu saja selama 3 tahun ini? Kau tau aku sangat menderita hah? Kau tau apa?" Bentak Zen, emosi nya tiba-tiba meledak jika mengingat bagaimana hidup nya setelah wanita itu di nyatakan tewas waktu kecelakaan.
"A-aku, Zen dengar kan aku dulu!"
"Silahkan bicara, aku dengarkan!" Balas Zen tak kalah tegas.
__ADS_1
"Zen, setelah kecelakaan aku pergi ke singapura untuk pengobatan dan.."
"Berselingkuh dengan pria bernama Alberto Guinine." Celetuk Zen membuat wanita itu pias seketika.
"Kau salah paham Zen, tidak seperti itu."
"Aku? Salah paham? Kau tak ingat siapa lelaki di depan mu? Anak buah ku bertebaran satu dunia, jadi jangan mencoba berbohong di depan ku, aku tau semua nya!"
"Alberto hanya pria yang menemani aku selama berobat."
"Jadi intinya dia teman mu, Ros?" Rosa menganggukan kepala nya dengan cepat, berharap Zen masih memiliki celah untuk dia berdrama.
"Iya, hanya teman tak lebih."
"Apa bersama teman kau bisa melakukan nya juga? Teman tapi kok mau di masukin, Ros?" pertanyaan sekaligus sindiran yang di layangkan Zen untuk wanita tak tau malu itu.
"Aku tak melakukan nya Zen!"
"Kau pikir aku asal bicara, aku punya bukti."
Cetas..
Mata wanita itu membulat sempurna, dia segera memungut satu persatu foto-foto kecil yang Zen lempar.
"Zen.."
"Apa lagi Ros? Apa bukti itu belum cukup untuk membuka keborokan mu selama ini? Aku memang buta karena tak sadar kalau kau adalah wanita licik."
"Aku tak pernah melakukan hubungan apapun dengan pria ini, percayalah. Semua ini pasti sudah di rekayasa."
"Siapa orang yang begitu kurang pekerjaan hingga membuat poto-poto palsu ini, kau berfikir anak buah ku berkhianat, begitu?"
"Bisa saja kan Zen, tak ada yang tau bagaimana hati manusia."
"Tapi maaf, aku lebih percaya anak buah ku daripada wanita pembohong seperti kau."
__ADS_1
"Zen.."
"Cukup Ros, aku muak melihat dirimu. Pergilah dan jangan ganggu aku lagi."
"Zen kau tak bisa begini."
"Kenapa tak bisa? kau saja bisa mencampakan aku dan pergi bersenang-senang dengan pria lain, kenapa aku tidak? Aku menyesal pernah menangisi kepergian mu."
"Dan aku berharap saat ini kau benar-benar mati." Sinis Zen membuat air mata Rosa luruh juga, pria yang dulu selalu memperlakukan nya dengan lembut, menatap nya dengan penuh cinta, kini telah berubah.
"Lupakan aku Rosa, kita tak bisa bersama lagi. Aku tau semua nya, termasuk alasan mu kembali setelah 3 tahun menghilang, jadi tak ada kesempatan apapun untuk mu."
"Aku lelah, sebaiknya kau pergi."
Zen pergi dari depan Rosa dan melangkah menapaki anak tangga menuju kamar nya.
"Lho Daddy kemana? Katanya minta jus." Tanya Ica, gadis itu baru saja selesai membuat jus spesial untuk Zen, tapi saat dia kembali sosok pria itu sudah tak ada di tempat.
"Aku permisi." Rosa pergi dengan kepala yang tertunduk dalam.
"Sebenarnya ada apa? Daddy pergi, terus si kecoa terbang itu juga nampak merana."
"Tapi aku suka melihat si kecoa terbang itu merana seperti itu, puas sekali rasanya!" Ica bersorak kegirangan, ini lah yang di sebut tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Ehh, ini poto-poto apa ya?" Gumam Ica, baru saja dia akan ke kamar tapi ujung mata nya melirik setumpuk poto kecil yang tergeletak di meja.
Ica mengambil salah satu poto itu, mata nya membulat sempurna begitu melihat apa yang ada di dalam poto itu.
Rosa sedang melakukan hubungan dengan pria yang berbeda, Ica tak tau siapa nama-nama nya, tapi jelas pria itu berbeda.
"Ihhhh..." Ica bergidik ngeri saat melihat poto-poto kelewat vulgar itu.
"Kelakuan si kecoa, ehh lebih tepat nya ulat bulu kayaknya, gatel soalnya."
...
__ADS_1
π·π·π·
Zen udah tau semua nya!π