Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 69


__ADS_3

Ica masuk ke dalam kamar Zen, gadis itu melihat Zen yang sedang berdiri di balkon.


"Dad.." Ica melingkarkan tangan nya di perut sixpack Daddy nya, Zen tersenyum dan mengusap pelan tangan itu.


"Iya sayang,"


"Daddy baik-baik saja?"


"Daddy baik sayang, kenapa?"


"Emmm, tidak Dad. Tadi Ica liat poto-poto aneh di meja." Jawab Ica, membuat Zen berbalik dan menangkup kedua sisi wajah gadis nya.


"Kamu melihat nya sayang?" Ica menganggukan kepala nya.


"Poto nya bikin sakit mata, Dad. Mana cowok nya beda-beda lagi."


"Dulu, Daddy di butakan yang nama nya cinta hingga tak menyadari kalau penghianatan itu sudah berlangsung lama." Jelas Zen.


"Lalu, sekarang Daddy mau apa?"


"Mau apa? Daddy mau kamu By."


"Kan barusan udah Dad, lutut Ica masih lemes kalau harus main lagi." Tolak Ica dengan lembut.


"Baiklah, kamu mau kemana hari ini?"


"Istirahat aja, besok Ica kuliah, terus latihan nyanyi buat lomba."


"Ada hadiah nya sayang?" Tanya Zen sambil membelai wajah cantik Ica.


"Dikit sih, kalau buat Daddy gak ada apa-apanya."


"Berapa sayang?"


"15 juta Dad, itu pun kalo juara satu." Jawab Ica.


"Kalau kamu mau ikut yaudah, tapi awas kalo sampe sakit gara-gara kecapean, Daddy gak akan biarin kamu ikut lomba itu, biar Daddy yang membayar mu 15 juta."


"Iya iya Daddy, Ica pasti jaga kesehatan kok. Jangan terlalu khawatir ya Dad." Ica berjinjit untuk menggapai bibir Zen lalu mencium nya mesra, dengan angin sore hari yang berhembus menambah suasana romantis yang tercipta di antara kedua nya.


Sepasang anak manusia itu masih menikmati ciuman nya, kepala kedua nya miring kanan miring kiri seperti di dalam drama.


Tanpa mereka sadari ada petugas kebersihan yang sedang bertugas membersihkan kaca jendela, dia melongo sesaat melihat adegan yang seharusnya tak pernah dia lihat, membuat iri saja.


"Andai saja bini ikut ke kota, mungkin gak bakal gini." Rutuk nya, lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya.


....

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, Rosa sedang mengamuk hingga membuat Alberto mengernyitkan dahi nya saking heran nya, padahal tadi wanita itu terlihat baik-baik saja.


"Tenang tenang sayang, ada apa?"


"Semua hancur, Albert. Tak ada lagi kesempatan, Zen punya semua bukti perselingkuhan kita!" Adu Rosa pada lelaki itu dengan berderai air mata.


Setelah memutuskan kembali ke Indonesia, mereka tinggal bersama di apartemen.


"Lalu? Sudah kepalang basah, Ros. Kau sudah di buang, kalau saja dulu kau tak melakukan acting pura-pura mati demi melakukan abor*i, mungkin semua nya takkan berantakan seperti ini Rosa!"


"Kau lupa siapa yang membuat ku hamil hah? Itu kau, aku dan Zen tidak berhubungan, kalau pun berhubungan Zen selalu mengeluarkan nya di luar, tidak seperti dirimu, tanam benih sembarangan, giliran di minta tanggung jawab kamu malah dengan enteng nya bilang, gugurin aja aku gak butuh anak!" Sindir Rosa.


"Lalu apa yang membuat mu bertahan dengan ku Ros? Hanya karena milik ku besar kan?"


"Entahlah kenapa aku bisa bertahan dengan pria se brengsek dirimu, Albert!" Rosa memijat kepala nya yang terasa berdenyut.


Albert datang dengan segelas teh hangat dan meletakan nya di depan Rosa.


"Minum teh nya Ros, kau perlu mendinginkan otak mu yang kepanasan itu."


"Bukan kepanasan lagi, tapi kebakaran. Aku liat leher gadis itu penuh kissmark tadi, aku cemburu."


"Sudahlah, berhenti mengejar orang yang sudah tak mengharapkan mu lagi, Ros. Masih banyak lelaki yang mau dengan mu, lelaki di dunia ini bukan hanya Zen!"


"Entahlah, hati ku masih bersama Zen." Jawab Rosa lirih.


"Diam lah Albert, jangan mengganggu ku. Aku pusing!" Bentak Rosa, lalu pergi ke kamar dengan membanting pintu nya kuat.


Albert menggelengkan kepala nya, dia sudah lama mencintai Rosa, bahkan dia rela menjadi simpanan wanita itu, tapi sampai sekarang wanita itu tetap tak menganggap hubungan nya serius, dia hanya menganggap ini hanya hubungan timbal balik, simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan, tidak lebih.


....


Sedangkan di bar, Hani kedatangan tamu yang dia sendiri tak berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi.


"Hai, selamat malam."


"Malam tuan." Jawab Hani dengan wajah yang memerah, setiap membayang wajah pria itu selalu mengingatkan nya pada malam itu, mesoom memang, tapi ya bagaimana lagi.


"Bisa menemani ku malam ini?"


"Saya sedang bekerja tuan," Jawab Hani, dia gugup setengah mati.


"Aku bisa meng izinkan mu, pemilik bar ini teman ku. Bagaimana, bisa kah?"


"S-saya.."


"Aku tidak suka penolakan sebenarnya."

__ADS_1


"Lalu kenapa bertanya, secara langsung aku tidak punya alasan untuk menolak kalau begitu." Ketus Hani, membuat pria itu terkekeh.


Secara tiba-tiba, pria itu menarik tangan Hani dan membawa nya keluar bar dengan mudah nya.


"Tuan, kenapa memaksa?"


"Karena saya menginginkan mu, itu saja!"


"Kenapa harus saya?"


"Entahlah, aku pun tak tau kenapa aku memilih mu lagi. Tapi sepertinya aku ketagihan milik mu yang sempit menggigit itu." Pria itu berbisik di akhir kata nya, membuat wajah Hani memerah seperti tomat.


Pria itu membukakan pintu untuk Hani, setelah memastikan gadis itu sudah duduk dengan nyaman, baru lah pria itu memutari mobil dan masuk juga ke dalam nya.


"Bagaimana kalau di mobil saja?"


"H-hah? Anda sudah gila, saya tak mau! Sempit." Jawab Hani ketus.


"Sensasi baru."


"Kalau gak punya duit buat nyewa hotel, losmen aja ada yang cuma buat beberapa jam, daripada di mobil." Sinis Hani, membuat pria itu tertawa.


"Omong-omong, siapa nama mu Nona manis?"


"Hani."


"Hah?"


"H-A-N-I." Hani mengeja nama nya sendiri agar pria itu mendengar nya.


"Honey."


"Nama ku Hani, bukan Honey!"


"Kan baca nya sama aja," Kekeuh pria itu membuat Hani sebal dan memutar mata nya jengah.


Setelah perdebatan kecil di antara kedua orang itu, akhirnya mobil berhenti di kawasan hotel berbintang lima, tempat yang sama saat mereka melakukan nya pertama kali.


Hani mengusap tengkuk nya yang terasa merinding, pria itu akan terlihat menakutkan saat bernafsuu.


"Selamatkan aku, semoga dia cepat keluar." Doa Hani dalam hati, mengingat saat pertama kali nya dia di hajar habis-habisan oleh pria yang berjalan di depan nya.


"Ngapain juga ngikut kesini, merinding banget." Keluh Hani, bulu-bulu halus di tubuh nya tiba-tiba berdiri saat pria itu sudah mendapat kunci dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamar.


....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Hayoloh Hani🤭🤭


__ADS_2