Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 156


__ADS_3

Mei duduk canggung di kursi belakang, dia menggenggam tangan nya yang basah karena keringat. Perasaan nya berdebar tak karuan, belum lagi rasa takut yang sedari tadi menyelimuti hati nya. Dia sudah bertemu dengan pria yang menculik dan menyekap nya berbulan-bulan di ruangan bawah tanah, tanpa pencahayaan, dan makanan yang layak.


Tadi, Meisya begitu shock saat melihat sosok Brian. Tampan, tapi sangat berbeda dengan pria yang selalu datang ke ruangan penyekapan nya itu, tapi suara nya benar-benar sama, bahkan seringaian nya pun sama.


"Dimana rumah anda, Nona?"


"Belok kanan Pak." Jawab Meisya pelan.


"Bisakah Nona pindah ke bangku depan?"


"H-ahh, untuk apa Pak?" Tanya Meisya.


"Hanya untuk mempermudah menunjukkan jalan." Jawab nya, lalu mobil pun berhenti. Meisya turun dan duduk kembali di bangku depan, di samping anak buah Zen yang sedang mengemudi.


Sesekali, Meisya curi-curi pandang ke arah pria itu. Dari samping pun pria itu cukup tampan untuk seorang bodyguard, hanya saja tubuh nya terlalu menakutkan untuk Meisya. Otot-otot nya terlalu menonjol, seperti binaragawan.


"Ada apa Nona?" Tanya nya, membuat Meisya terhenyak, wajah nya memerah karena ketahuan menatap pria itu.


"Ti-tidak Pak."


"Saya masih muda, Nona. Panggil saya kakak saja, atau abang."


"Baik kak.." Jawab Meisya, dia memalingkan wajah nya ke arah jendela. Akan lebih malu kalau pria itu sampai melihat wajah nya yang memerah.


"Nama saya Arian, Nona siapa?"


"Meisya."


"Hubungan Nona dengan Nyonya muda, kakak adik?" Tanya Arian.


"Eemmm, adik tiri. Ibu saya menikah dengan ayah nya Ica." Jawab Meisya.


"Begitu ya, maaf kalau saya lancang."


"Tak apa-apa."


"Di pertigaan itu belok kiri, Kak." Meisya menunjukkan jalan menuju rumah kontrakan nya, lebih tepat nya kontrakan Azwar.


Setelah beberapa menit, akhirnya mobil yang di kemudikan Arian berhenti di sebuah rumah kecil nan kumuh yang Meisya sebut sebagai rumah.


"Nona mengontrak disini?"


"Kak Azwar, saya hanya menumpang disini. Emm, mau mampir dulu? Minum teh atau kopi?" Tanya Meisya.


"Tak usah Nona, saya harus segera kembali. Ada banyak tugas yang harus saya kerjakan di rumah Tuan muda." Arian menolak tawaran Meisya dengan lembut.


"Kalau begitu terimakasih kasih sudah mengantar saya."


"Sama-sama Nona." Jawab nya, Meisya turun dan menyaksikan mobil itu menjauh dari rumah nya.


....


Ica sedang duduk, masih dalam acara pesta kecil-kecilan untuk menyambut kehamilan nya. Hani, Risya dan Sintia sedang mengobrol, tapi mood Ica tiba-tiba saja berubah.


"Bumil kenapa?" Tanya Azwar.

__ADS_1


"Gak tau kak, aku merasa bersalah sama Kak Mei."


"Sudahlah, lagi pula itu bukan kesalahan mu dan yang di katakan teman-teman mu itu benar, mungkin dia masih berusaha beradaptasi dengan dunia baru nya, biarkan saja agar dia berubah." Jelas Azwar, dia mengusap lembut rambut adik nya.


"Jalan tak selalu mulus Ca, kadang kala ada kubangan di tengah jalan, ada juga tikungan tajam, ini lah cobaan untuk berubah menjadi lebih baik. Ini masih belum seberapa, Ca."


"Iya kak," Jawab Ica memaksakan senyum nya.


"Jangan tersenyum kalau terpaksa Ca, nikmati pesta mu Dek. Suami mu sudah menyiapkan ini dengan susah payah."


"Iya kak, tentu saja." Jawab Ica, Azwar hanya tersenyum. Lalu pergi ke perkumpulan para pria bucin, siapa lagi kalau bukan Zen, Bimo, Brian dan dirinya sendiri.


"Istri ku kenapa bang?" Tanya Zen, dia bersiap bangkit dari duduk nya.


"Hanya sedikit perubahan mood, dia merasa tak enak karena Meisya di pojokan oleh teman-temannya, itu saja."


"Ohh baiklah, hanya masalah kecil."


"Iya, tapi sekarang dia sudah membaik. Lihat saja, bumil itu sedang makan." Azwar menunjuk adik nya yang sedang makan dengan lahap.


"Dari dulu, Istriku sangat suka makan. Bahkan di pertemuan pertama, dia langsung makan banyak tanpa rasa malu. Tapi aku menyukai nya, dia terlihat apa adanya." Ucap Zen, dia masih ingat bagaimana cara Ica makan saat itu.


"Adik ku memang begitu Zen, dia tak suka berpura-pura."


"Dulu, aku pikir dia gadis barbar karena dia kerja di bar kan. Tapi setelah aku melihat nya lebih lama, ternyata dia gadis polos. Bahkan aku pria pertama yang menyentuh nya, dari itu aku tau kalau Ica gadis yang baik." Jelas Zen.


"Sialan kau Zen, menyentuh adik ku bahkan sebelum menikah."


"Hubungan ku dengan Ica di awali dengan sebuah kesepakatan, Aku akan membantu nya lepas dari ibu tirinya itu, dan dia bersedia menjadi partner ranjang ku." Jelas Zen santai.


"Huhh, baiklah."


"Aku juga yang pertama kali menyentuh Risya." Ucap Brian tak mau kalah.


"Kau bocil sudah merasakan surga dunia?" Tanya Zen dengan tatapan menyelidik.


"Aku sudah cukup dewasa untuk menikmati hidup ku Bang, aku sudah 23 tahun."


"Jadi, bagaimana rasa nya pertama kali memasukan burung mu Brian?" Tanya Bimo iseng.


"Enak lah, hangat dan sempit." Jawab Brian, membuat ketiga pria itu kompak tertawa.


"Nape ketawa? Perasaan gak lucu, fakta nya kan enak cuma susah masuk nya."


"Iya susah masuk nya, kan lubang nya kecil Bri." Ucap Zen sambil terkekeh.


"Terus cewek Lo gimana Bri? Cewek gue dulu nangis, gigit, nyakar punggung gue." Ucap Bimo dengan bahasa gaul nya.


"Ya nangis lah, dia meronta pengen udahan. Tapi gue bilang, kalo sakit gak mungkin Ica sama Hani ketagihan. Jadi, yaudah di lanjutin deh, lama-lama desaah juga."


"Sialan Lo, pake nama cewek gue."


"Kurang ajar memang si gulali ini, masa bini gue di jadiin perumpamaan." Gerutu Zen, merasa tak terima.


"Bodo amat, yang jelas gue pengen meledak waktu itu."

__ADS_1


"Tahan lama gak Lo, Bri?" Tanya Zen.


"Lumayan lah bang, satu jam tanpa meledak gue mampu."


"Cemen Lo, gue dong 2 jam. Alami tanpa obat-obatan!" Bangga Zen.


"Buseett, 2 jam? Lu mau rusak adek gue ya Zen?"


"Ya itu sebelum Ica hamil bang, sekarang satu jam aja udah kasian liat nya. Lagian Ica tuh suka, kalo udah sekali meledak dia bakal minta ronde kedua." Jawab Zen.


"Hani juga doyan, tapi gue gak nyampe 2 jam sih, paling lama satu jam setengah."


"Kalau Lu bang? Udah unboxing?" Tanya Brian.


"Udah, baru 2 kali." Jawab Azwar sambil memakan kue.


"Terus?" Tanya ketiga pria itu kompak, masalahnya Azwar terlihat kalem, mereka tak menyangka kalau Azwar juga sudah unboxing.


"Terus apanya? Ya, enak lah."


"Dia nangis gak?" Tanya Brian.


"Enggak, yang ada cuma desaah." Jawab Azwar masih terlihat santai.


"Kak Sintia udah gak fresh ya?"


"Korban pelecehan, itu juga gara-gara gue tinggal." Kali ini wajah Azwar berubah sendu.


"Jadi?"


"Gue pengen nikahin dia, supaya bisa jaga dia." Jawab Azwar.


"Gentle banget Lu bang, Si Bimo aja yang udah berapa ratus kali hajar Si Hani gak ada niatan kawin." Celetuk Zen menyindir asisten nya itu.


"Bukan gak ada, tapi belom. Kan dirimu sendiri yang motong bonus, jadi nya gagal lamaran."


"Hahaha, terus bonus selama ini Lu kemanain?" Tanya Zen.


"Ada lah, di tabung. Tapi kartu nya sama Hani, ya masa minta uang sama cewek, kan gak lucu bung." Jawab Bimo.


"Iya juga sih, nanti deh gue kasih bonus lagi. Kalo Lu udah selesai lembur."


"Makasih, dua kali lipat ya?"


"Heh, Lu jangan maruk ya! Udah syukur mau di kasih, malah minta double. Gue timpuk Lu ya."


"Ampun Bos besar.."


"Lebih tepat nya sih bos bucin, ya kan bang?" Ucap Brian kompor.


"Diam lah kau Bri, nanti bonus ku raib lagi."


.....


🌷🌷🌷

__ADS_1


perkumpulan cogan, cecan🤣🤣


Maaf kemaren malem gak up lagi, author nya capek. Keteteran daily di lapak sebelah🤣🤭


__ADS_2