
"Sayang.." Panggil Brian, dia bersiap akan pergi keluar, meski penampilan nya seadanya tapi itu sama sekali tak mengurangi ketampanan nya.
"Iya Sayang, lho kamu mau kemana? Udah cakep, rapi, wangi lagi." Tanya Risya dengan pujian juga tentunya.
"Aku keluar sebentar ketemu sama Tuan Zen, ada Bimo juga, boleh ya? Gak lama kok." Jawab Brian seadanya.
"Aku gak boleh ikut ya?"
"Kamu di rumah aja ya? Belajar buat kuliah besok, nanti pulangnya mau di bawain apa?" Tanya Brian.
"Bakso rudal pedes Yang, jangan lupa kuah nya di pisah."
"Siap sayang, aku pergi dulu ya. Kunci pintu, aku gak lama kok." Brian mengusap lembut puncak kepala Risya, lalu mengecup keningnya dengan mesra.
"Iya, emang kamu jangan lama. Ntar aku ngambek kamu susah dapet jatah,"
"Kalo udah sama jatah aku bisa apa selain menurut, yaudah aku pergi dulu sayang." Brian memeluk Risya singkat dan keluar dari pintu utama.
"Jaga rumah ini dengan ketat, kalau Risya tergores sedikit saja rasakan akibatnya!" Perintah Brian pada seorang pria berbadan tegap dengan otot-otot yang menonjol membuat pakaian nya terlihat kekecilan.
"Baik tuan."
"Kalau kalian kecolongan, ku pastikan kalian tinggal nama, camkan itu baik-baik!" Tegas Brian, lalu melenggang keluar dari rumah besar Risya, tanpa setahu perempuan itu, dia meminta pada Zen agar menjaga Risya dari jauh, kejadian tadi dia juga sudah tau sebenarnya, tapi dia bertingkah seolah dia tak tau apa-apa.
Singkatnya, Brian celingukan mencari keberadaan Zen dan Bimo. Ternyata mereka duduk di dekat jendela dengan tiga cangkir kopi yang menemani mereka.
"Sorry telat Bang." Ucap Brian lalu duduk di samping Bimo.
"Oke, Gapapa. Jadi langsung ke intinya aha, masalah apa?"
__ADS_1
"Tunggu napa Bang, gue minum dulu haus." Pinta Brian sambil cengengesan, membuat Zen memutar matanya jengah, menghadapi sikap tengil Brian memang harus ekstra sabar.
Zen pun membiarkan Brian menyeruput kopi yang sudah sengaja dia pesankan tadi.
"Oke, gini Bang. Chloe buat ulah lagi, dia bahkan nampar cewek gue, pipinya lebam tau gak." Ucap Bimo, raut wajah nya berubah menjadi serius.
"Apa-apaan? Terus gimana?"
"Dia ngatain Risya itu pelakor, mana ngomong nya teriak-teriak, buat satu kampus heboh. Selain sakit kena tampar, mental Risya pasti down juga Bang, gimana nggak coba, di katain pelakor sama cewek yang dia gak kenal di kampus, yang otomatis semua mahasiswa bakal tau, image dia pasti jelek di mata orang lain." Jelas Brian panjang lebar.
"Terus, tujuan Lo ngajakin kita ketemuan apa?"
"Curhat aja sih, minta solusi gue bang. Pusing sendiri gue mikirnya, mana Risya malah nyuruh gue balik, ya jelas gue kagak mau balik ke rumah itu lagi, kalau gak ada bibi." Jawab Brian. Zen dan Bimo kompak manggut-manggut.
"Gue cinta sama Risya, Bang. Makanya gue berani ngambil langkah besar dalam hidup gue demi dia, tapi gue juga gak mau dia terluka gara-gara gue Bang. Apa gue emang harus balik ke rumah aja terus nerima perjodohan itu? Tapi gue gak bisa!" Zen menatap Brian dengan tatapan yang entah apa artinya, dia merasa kasihan pada pemuda ini. Posisi nya memang cukup sulit, disisi lain dia sangat mencintai Risya, tapi di sisi yang lainnya lagi dia tak mau Risya menjadi korban atas keputusan nya.
"Kita bakal turun tangan kok, Bri. Lu gak usah khawatir, Lu mau tuh cewek di apain?" Tanya Zen.
"Malam ini juga, jalangg itu akan ada di markas mu Brian."
"Thanks Bang, tapi untuk sementara ini jangan kasih tau Risya kalau gue minjem anak buah Lo buat ngawasin dia." Pinta Brian.
"Serah Lo dah, jadi selesai kan? Gue pengen balik, capek."
"Balik aja sono, Bang. Tapi jangan lupa, ini kopi di bayar dulu, gue gak bawa duid. Adanya cuma buat beli bakso rudal pesenan ayang." Ucap Brian sambil cengengesan.
"Hadeuhhh, ini cowok mintanya gratisan mulu. Jangan-jangan Lu titisan cewek ya?"
"Enak aja, gue cowok tulen dari lahir Bang!" Ketus Brian tak terima dengan ucapan Zen.
__ADS_1
"Ya abisnya Lu demen banget gratisan, biasanya yang demen gratisan itu cewek." cetus Bimo, ikut nimbrung. Mungkin merasakan juga yang seperti Zen rasakan.
"Yaudah kalau mau pulang sana aja, gue bayar kopi gue ajah." Jawab Brian lesu, seperti tidak terima tapi mau bagaimana lagi, tak mungkin memaksa minta di bayarin, kan malu juga ya.
"Gue yang bayar kok Bri, santai aja. Tenangin dulu diri Lu, fokus kerja aja buat nafkahin Risya, atau nggak kalian nikah aja biar status kalian jelas!" Saran Zen.
"Kenapa gue kagak kepikiran ya?"
"Makanya, fokus nabung, kerja yang rajin tar gue kasih bonus mingguan sama bonus bulanan, kalo kinerja Lu bagus." Saran Zen, membuat wajah Brian berbinar. Benar juga saran Zen, kenapa dia gak kepikiran untuk menikahi Risya?
"Nikah sederhana aja yang penting status kalian jelas, jadi Risya gak bakal ragu sama statusnya, dia juga bakal perjuangin Lo, soalnya Lo kan udah berstatus suaminya, jadi dia punya hak."
"Iya bang Bim, gue ngerti."
"Tapi, nikahnya nanti setelah gue aja ya? Gue ngebet pen kawin nih, keburu perut Hani tambah gede." Jawab Bimo.
"Takut ke langkahin ya bang? Santai aja, tabungan gue juga belom cukup."
"Gue bisa bantu, setelah Bimo menikah, kau juga harus segera menikah." Cetus Zen membuat Brian terperangah.
"Sekarang, yang penting Lu berjuang dulu, usaha dulu, tunjukiin ke Risya kalau Lu beneran serius sama dia."
"Iya bang." Jawab Brian.
'Tunggu pembalasan ku Chloe, lihat saja akan ku buat kau menyesal telah mengenal Brian.'
......
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1