
Zen mabuk berat hingga tak sadarkan diri, tapi bibir nya terus meracau menyebut nama Ica. Hati Ica menghangat, apa itu artinya Zen sudah bisa menggantikan nama Rosa di hatinya?
Ica membaringkan tubuh Zen di sofa, di ruangan ini tak ada kasur, hanya ada sofa mewah nan empuk, meja kerja dan beberapa lemari berisi map penting perusahaan.
Zen memang sengaja tak meletakan kasur di ruangan ini, dia suka tergiur untuk tidur dan mengabaikan pekerjaan nya, itu alasan kenapa di ruangan ini tak ada ranjang. Lagi pun siapa yang akan tidur di ruang kerja? Kalau pun Zen mengurung diri semalaman di ruangan itu, dia tak tidur, dia pasti bekerja lembur.
Tak terduga, tangan Zen malah menarik tubuh Ica dan membuat gadis itu terjatuh tepat di dada bidang milik Zen.
"Daddy.."
"Ca, Daddy mencintai mu, jangan tinggalkan Daddy.." Zen kembali meracau, dari tadi hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut nya.
Ica yang terbiasa mencium aroma alkohol pun nampak biasa saja, meski dia tak pernah meminum minuman seperti itu, tapi dia gadis pekerja bar dulu.
Ica mengusap pelan rahang tegas milik Zen, dia tersenyum, tiba-tiba saja dia teringat saat rahang itu menggesek di area inti nya saat kepala pria itu tenggelam disana untuk pemanasan.
"Icaa, mesoom sekali kau ini. Gara-gara Daddy, aku jadi begini, sial."
Zen memang pandai membuat nya bergairahh karena sentuhan-sentuhan nya selalu tepat di titik sensitif Ica.
"Duhh kok berdenyut gini sih?" Gumam Ica, wajah nya memerah seperti kepiting. Apa yang akan pria itu pikirkan nanti jika tau dia membayangkan hal yang mesoom? Pasti dia merasa menang dan besar kepala.
Tapi, lagi-lagi tangan kekar Zen menarik Ica cukup kuat hingga membuat nya menelungkup di atas tubuh Zen.
Zen melingkarkan tangan nya di pinggang Ica, memeluk nya erat hingga membuat Ica sesak.
Ica diam saja, meski sebenarnya dia tak nyaman karena sesuatu, tapi mau bagaimana lagi, diam saja daripada Zen marah.
....
Pagi hari nya, Zen terbangun dan bangkit dari sofa, pria itu menggelengkan kepala nya mengusir pusing. Dia mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruangan yang nampak sangat tak asing.
"Ahh ya, aku masih di ruang kerja. Semalaman aku tidur disini?" Zen memijat kening nya yang masih terasa begitu pusing.
"Aku kebanyakan minum, bagaimana kalau Ica tau aku minum ya?" Gumam Zen.
"Kalau aku tau memang nya kenapa Dad?" Ica datang dengan membawa segelas air lemon hangat untuk Zen.
__ADS_1
"Baby.."
"Ya Dad, ada apa? Kenapa minum sebanyak itu, ada masalah?" Tanya Ica lembut.
"Gak marah?"
"Marah kenapa Dad?"
"Karena Daddy minum."
"Enggak, pasti ada alasan nya kan Dad? Cerita sama Ica, ada apa?"
"Lagi pengen aja By, gak ada apa-apa kok." Bohong Zen, tapi tentu nya Ica tak semudah itu untuk percaya.
"Daddy bohong? Daddy tak pandai berbohong, lihat telinga Daddy." Zen mengusap telinga nya yang terasa memanas, jika dia berbohong telinga nya akan memerah dan Ica tau hal itu.
"Apa ini tentang Rosa lagi?" Tebak Ica, tepat sasaran.
Zen diam, Ica mengerti kalau tebakan nya memang benar, Rosa ternyata masih mempunyai posisi kuat saat ini.
"Ica gak tau apa yang buat Daddy begini, aku tak peduli juga, tapi tolong jangan merusak diri sendiri dengan cara seperti ini, Dad."
"Tidak Dad! Itu hanya akan menambah masalah,"
"Maaf By.."
"Tak usah minta maaf padaku, lagian aku siapa nya Daddy?" Tanya Ica, ini sudah kesekian kali nya Ica menanyakan status nya pada Zen, tapi Zen masih belum bisa memberikan posisi yang jelas untuk Ica.
"Diminum lemon nya biar seger, Ica mandi dulu. Ica juga masak sarapan buat Daddy, di makan ya. Ica buat nya dengan cinta." Ica pergi keluar ruangan, meninggalkan Zen yang masih diam merenungkan semua nya.
"Kenapa sulit sekali melupakan wanita itu? Ayolah Zen! Kau sudah punya gadis sebaik Ica, jangan sia-sia kan dia Zen!" Tegas Zen pada diri nya sendiri.
Zen keluar dari ruang kerja nya, lalu pergi ke ruang makan tapi Ica belum datang, kemana gadis nya pergi? Bukan kah tadi dia hanya izin untuk mandi?
Tapi tak lama, gadis yang di tunggu pun datang juga. Tapi penampilan nya membuat mata Zen melotot.
"Pagi Dad.." Sapa Ica lalu duduk berhadapan dengan Zen.
__ADS_1
"Kenapa pakai baju seperti itu pagi-pagi? Mau kemana?"
"Ica mau main ke rumah Risya." Jawab Ica santai.
"Pake baju begini?"
"Memang nya kenapa?" Tanya Ica, dia memang sengaja memakai pakaian kurang bahan untuk membuktikan kalau Zen sangat posesif menjaga nya.
"Terlalu terbuka, kamu tidak boleh pergi kemana-mana!" Tegas Zen membuat Ica tersenyum samar.
"Lho, Daddy kenapa sih? Cuma kebuka dikit Dad."
"Itu belahan dada kamu keliatan, sengaja mau pamer, hmm?"
"Ya gak gitu Dad, cuma dikit doang kali."
"Ganti yang lain, kalau gak ganti gak boleh pergi." Putus Zen membuat Ica memberengut.
"Daddy nyebelin!" Ketus Ica. Seperti biasa, jika kesal Ica akan makan banyak, termasuk saat ini.
Zen tersenyum saat melihat gadis nya makan sambil menatap nya tajam.
"Lebih baik makan yang banyak, dari pada keluar rumah umbar tubuh kamu, By."
"Ica gak niat ngumbar tubuh kok, Ica cuma main ke rumah Risya. Lagian kalo gak boleh di pake, kenapa ada di dalem lemari?"
"Daddy gak pernah beliin kamu baju tanpa lengan gitu, By."
Ya, karena Ica yang membeli nya sendiri Dad, demi membuat Daddy cemburu!
"Alasan!"
....
π·π·π·
__ADS_1
gimana gak marah Daddy mu, Ca?π£π£