
Di penjara, seorang wanita paruh baya tengah duduk terdiam dengan pandangan kosong lurus ke depan. Dia Sinta, ibu tiri dari Ica dan ibu kandung Azwar dan Meisya. Dia sering meracau sendiri, tertawa lalu tiba-tiba menangis meraung-raung. Seperti wanita itu mengalami depresi, sudah satu bulan dia di penjara tapi belum ada satu pun anaknya yang menjenguk nya di kerangka besi ini.
Hari ini, sipir yang berjaga menyampaikan kalau ada seseorang yang ingin menemui nya, wanita itu terlonjak saking terkejutnya. setelah satu bulan di penjara, baru kali ini ada yang datang ingin mengunjungi nya.
Sipir itu membawa Sinta, dia mengenakan pakaian penjara dengan kedua tangan yang di borgol, Sinta duduk di sebuah ruangan yang terhalang kaca. Tak lama, datang seorang laki-laki dan perempuan dengan tangan bergandengan mesra.
Dialah Meisya dan Arian. Mereka datang berkunjung untuk melihat keadaan Sinta, ibu kandung yang sudah tega menusuk anak nya sendiri.
"Meii.."
"Ibu, ibu apa kabar?" Tanya Meisya, dia duduk berhadapan dengan ibunya, sedangkan Arian berdiri tegap di belakang nya dengan wajah berpaling ke sisi lain.
"Ibu baik-baik saja, bagaimana dengan mu Nak?"
"Baru satu bulan di penjara sudah rabun, bisa di lihat sendiri Meisya baik-baik saja. Kalau saja penanganan nya di rumah sakit terlambat sedetik saja, di pastikan Meisya takkan bisa datang kesini, atau mungkin hanya tinggal nama. Ibu macam apa yang tega menyakiti anak kandung nya sendiri?" celetuk Arian membuat Meisya menepuk pelan pinggang pria itu.
"Maafin Ibu, Mei."
"Mei udah maafin Ibu kok, gapapa." Jawab Meisya.
__ADS_1
"Bisakah kau membebaskan ibu dari sini?" Bisik Sinta, tujuan nya agar Arian tak mendengar nya, tapi telinga Arian sangat tajam dia bisa mendengar bisik-bisik itu dengan jelas. Tapi dia memilih berpura-pura tak tahu, dan tetap memasang wajah datar super datar nya.
"Maaf Bu, tapi Meisya tak berhak atas semua ini. Tuan Zen yang memenjarakan ibu, jadi Meisya tak bisa membantu ibu keluar dari sini."
"Apa? Coba bujuk pria itu agar membebaskan ibu, disini sempit, pengap, kotor, ibu tak bisa." Ucapnya sedikit memaksa.
"Sekali lagi maaf Bu, ini kuasa Tuan Zen, Mei gak bisa nolong Ibu."
"Kalau begitu suruh pria itu membujuk Zen agar bisa membebaskan Ibu dari sini." Sinta terus memaksa Meisya, di pikiran nya dia hanya ingin bebas menikmati hidup, tapi api dendam di hatinya masih berkobar.
"Memang nya kau siapa? Seenaknya menyuruh ku, berani bayar berapa?" Tanya Arian membuat Sinta bungkam. Ternyata selain berwajah datar, Arian juga bermulut pedas.
.
"Ibu mertua? Restu? Aku tak butuh restu darimu, dengan atau tidak restu darimu aku akan tetap bersama Meisya. Seorang ibu harusnya melindungi anak nya, bukan malah melukai nya. Cihhh, kau tak layak di sebut Ibu!" Cibir Arian membuat Sinta mengepalkan tangan nya.
"Lagipun, kau berada disini itukan karena perbuatan mu sendiri, jadi tanggung jawabkan saja sendiri, tak perlu meminta tolong pada siapapun! Ingat, setiap perbuatan pasti ada balasan, termasuk kejahatan yang sudah kau perbuat. Harusnya kau punya malu sebelum meminta bantuan dari Meisya atau dariku!"
"Arian benar Bu, ibu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan Ibu. Renungkan semua nya, dan berubahlah."
__ADS_1
"Kau tak menganggapku sebagai ibumu? Aku hanya meminta kau bicara pada Zen untuk melepaskan aku dari sini, itung-itung bayaran untuk aku mengurus mu dari kecil, mengandung mu selama 9 bulan, melahirkan mu. Itu semua tak gratis, Meisya!"
"Sayang, aku mulai muak. Sebaiknya kita pulang, bicara dengan wanita bermuka tebal seperti dia tak baik untuk kesehatan mu." Arian memegang pundak Meisya, mengajak nya pulang. Tak ada guna nya bicara dengan wanita semacam Sinta.
"Baiklah, Bu aku pulang dulu. Arian harus bekerja sebentar lagi, nanti kak Azwar yang akan kesini."
"Tak perlu, buat apa? Kalian anak-anak yang tak berguna!" Ucap Sinta, lalu pergi kembali ke sel nya dengan amarah yang meletup-letup.
Meisya menatap punggung ibunya dengan sendu, dia kira ibunya akan berubah setelah di penjara, tapi ternyata tidak sama sekali.
"Sayang, ayo kita pulang." Meisya mengangguk dan menggamit lengan Arian dengan mesra.
"Jangan dengarkan ucapan ibumu Sayang, kau berharga bagiku, dan aku mencintaimu!" Meisya tersenyum samar lalu menganggukan kepala nya. Arian merasa gemas, dia mengacak rambut Meisya saking gemas nya.
"Ihhh kamu suka banget berantakin rambut aku."
"Habisnya gemes, kalau gak mau di acak-acak rambutnya, jangan ngegemesin dong Sayang." Ucap Arian di iringi kekehan.
......
__ADS_1
π·π·π·
yang nanya Meisya sama keadaan ibu nya, author up ya.π