Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 163


__ADS_3

Hari ini, semua orang tengah sibuk karena besok adalah hari pernikahan Azwar dan Sintia. Semua orang ikut andil mengambil masing-masing pekerjaan, hanya beberapa saja yang nampak santai, termasuk Ica yang di larang keras oleh Zen untuk sekedar bantu-bantu.


Zen benar-benar menepati janji nya, dia menyewa cathering mahal untuk jamuan tamu. Meski Azwar menolaknya, tapi tekad Zen sudah bulat. Pria itu juga menyewa gedung untuk pernikahan sederhana Azwar, meski nanti dia juga akan melakukan resepsi di tempat ini, 2 minggu lagi.


Ica hanya duduk sambil sesekali menjawab sapaan orang-orang yang dia kenal, tak lupa dengan cemilan kue coklat buatan Bi Arin.


"Pak, itunya kurang ke kiri sedikit." Tunjuk Ica pada hiasan bunga yang nampak sedikit miring.


"Saya akan membetulkan nya, Nyonya." Ica hanya tersenyum ramah dan kembali asik dengan cemilan nya.


"Heii Dek, anteng banget kalo udah ngemil." Sapa Azwar yang sedari tadi sibuk sendiri hingga lupa menyapa sang adik.


"Enak soalnya, btw nanti pemberkatan nya jam berapa sih?"


"Jam 4 sore, kenapa?" Tanya Azwar.


"Gak ada, tapi Ica udah kangen sama kak Sintia."


"Dia lagi di pingit, lagi luluran di rumah sama Meisya. Meski keliatan gak akur, tapi kelamaan mereka akrab kok."


"Iya deh." Jawab Ica, dia juga melihat Risya yang baru datang sendirian, tanpa Brian entah kemana pria itu pergi.


"Kesini Syaa.." Panggil Ica, membuat Risya mendekat dan duduk bersisian dengan Ica.


"Hai Ca."


"Sendirian? Kemana si gulali?" Tanya Ica.


"Balek ke rumah nya Ca, tapi dia gak ada ngabarin, mungkin lagi sibuk kali ya.."


"Bisa jadi sih, kan dia udah sebulanan gak balik." Jawab Ica.


"Gue kangen Ca, tapi pesan yang tadi pagi aja masih centang satu."


"Lagi tidur kali, istirahat."


"Semoga aja dia baik-baik aja, terus cepet balik lagi. Kangen gue sama sifat mesumm nya, Ca." Celetuk Risya membuat Ica mendelik.


"Si gulali kan emang omes Sya."


"Iya, dia nyebelin banget. Tapi kalo lagi gak ada orang nya tuh gue kangen banget." Ucap Risya pelan.


"Udahlah gak usah sedih Lo, bentar lagi Hani kesini bawa seblak. Makan yang kenyang, tar sedih lagi."


"Okey, btw kak Sintia nya gak kesini Ca?" Tanya Risya sambil membuka ponsel nya yang berkedip notifikasi pesan masuk, dia sangat berharap kalau itu pesan dari Brian.


"Lagi di pingit lahh, di temenin Kak Meii."

__ADS_1


"Tumben tuh orang bisa deket ama manusia, biasa nya juga bergaul nya sama s*tan." Cetus Risya tanpa ekspresi alias datar.


"Haduh Sya, dia udah tinggal sama orang baik sekarang. Setan nya udah minggat,"


"Semoga aja dia beneran berubah sekarang, kalo liat Hani sama kakak Lo itu kayaknya dia punya dendam pribadi ya sama Meisya."


"Gak tau Sya, dia ilfeel banget sama kak Meii. Tapi gak tau kenapa, kalau cuma gak suka karena dia jahatin gue, selama gue gak apa-apa kan ya gak masalah ya Sya? Gue aja udah maafin dia."


"Namanya juga sahabat Ca, dia pasti gak suka liat sahabat nya di perlakukan gak baik." ucap Risya, dia begitu fokus melihat poto-poto yang seseorang kirim.


"Liat apasih? Kayaknya penting banget dehh.."


"Lu percaya gak ini Brian?" Tanya Risya, dia memperlihatkan deretan poto-poto di ponsel nya. Ica mengambil ponsel itu dan melihat nya secara jelas.


"Keliatan iya, tapi kan gak mungkin Sya. Dia pacar Lo kan?"


"Yaiya, Brian pacar gue. Kan Lo tau sendiri, gue malah udah ngasih itu ke Brian, gak mungkin dia selingkuhin gue kan, Ca?" Tanya Risya pelan.


"Bentar.." Ica memanggil seorang anak buah Zen.


"Pak Arian." Orang yang di panggil pun langsung mendekat.


"Iya Nona.."


"Hacker kan? Bisa tolong di lihat ini poto asli atau editan."


"Baik pak.." Arian pun mencatat nomor ponsel dan Ica mengirim poto-poto itu ke nomor pria itu.


"Saya akan mengerjakan nya sekarang, Nona tinggal menunggu. Hasilnya sebelum jam 4 sore, Nona."


"Saya tunggu pak." Arian menganggukkan kepala nya dan segera pergi entah kemana.


"Siapa pria itu Ca? Badan nya nyeremin."


"Anak buah Daddy semua badan nya emang gitu, Sya. Lihat aja sendiri." Risya celingukan, ternyata memang benar. Orang yang berlalu lalang menggunakan seragam serba hitam memang mempunyai badan yang kekar dan otot-otot yang menonjol membuat seragam itu terlihat kekecilan.


"Hallo bestie.." Sapa Hani yang baru datang dengan menenteng kresek berisi seblak.


"Nah dateng juga, gue udah laper."


"Ini punya Lo ya, cabe nya cuma satu sendok. Soalnya kalo kebanyakan nanti tahuan Daddy Lo, gue bisa abis."


"Oke, yuk makan."


"Btw muka lu kusut amat, kenapa?" Tanya Hani pada Risya.


"Dia habis di kirimin poto-poto Brian lagi gandengan tangan sama cewek laen, tapi gue lagi mastiin itu asli atau cuma editan." Ica yang menjawab, karena Risya memilih diam dan mulai makan.

__ADS_1


"Mana coba, gue liat." Risya memberikan ponsel nya dan memperlihatkan poto itu pada Hani. Mata nya langsung membulat saat melihat betapa mesra nya poto-poto itu, pantas saja Risya kelihatan murung.


"Gila sih ini, Ca. Kalau gue pasti langsung timpuk nih cowok, berani banget."


"Kita semua gak tau, ini asli atau cuma editan orang yang mau rusak hubungan Risya sama Brian, semua kemungkinan bisa saja terjadi Han. Jangan berburuk sangka dulu." Peringat Ica.


"Iya juga sih Ca, tapi gue sesak aja lihat poto nya."


"Makan dulu aja, gue udah nyuruh Anak buah Daddy untuk menyelidiki poto-poto itu."


Mereka pun makan dengan lahap, membuat Zen yang sedang beberes langsung mendekat untuk memastikan Ica tak makan makanan yang terlalu pedas.


"Bby.." Panggil Zen.


"Iya Daddy, Ica lagi makan." Zen merebut sendok dari tangan sang istri dan mencoba kuah makanan itu.


"Bagus, tak terlalu pedas. Ingat, Daddy akan sangat marah kalau kamu makan yang terlalu pedas, kamu harus ingat dedek bayi di perut kamu. Kalau kamu sakit.."


"Iya Daddy, kalau aku sakit Dedek nya juga sakit nanti." Jawab Ica memotong perkataan suaminya.


"Baiklah, Daddy mau membantu lagi, makan yang banyak ya." Zen mengusap pucuk kepala sang istri dan mengecup kening nya, lalu pergi.


"So sweet banget njirt, jadi pengen punya suami."


"Suami gue emang manis, tapi ya kadang-kadang gue gak suka, dia terlalu posesif." Jawab Ica.


"Itu tanda nya dia sayang banget sama Lo, Ca."


"Iya sih, tapi ya kadang dia terlalu berlebihan jaga gue gaess.."


"Gue malah suka di posesifin gitu," Cetus Hani.


"Gue juga, tapi Brian gak terlalu sih. Tapi bukan berarti dia bisa selingkuh kan ya?"


"Sabar Sya, selama bukti belum kuat kita gak bisa negatif thingking sama pacar Lo sendiri."


"Tapi gue beneran takut kalo Brian selingkuh, terus masa depan gue gimana?"


"Jangan sedih Sya, udah diem. Nanti kan bisa di selesaikan secara baik-baik dengan kepala dingin kalo Brian nya balik ke rumah Lo, Sya."


Risya mengangguk pelan, dia tak tau harus bagaimana sekarang. Percaya pada Brian atau pada poto-poto dari nomor misterius itu yang entah siapa?


.....


🌷🌷🌷🌷


Brian😪😪😪

__ADS_1



__ADS_2