Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 87


__ADS_3

Di apartemen, Hani yang belum terbiasa dengan suasana baru tempat tinggal nya merasa takut karena Bimo belum pulang juga, padahal pria itu bilang dia akan pulang lebih cepat.


"Kok sepi gini ya? Mana laper lagi, disini gak ada mie instan, mana gak ada kompor lagi." Gerutu Hani, terpaksa lah dia minum air putih saja sampai kembung.


Tak lama, pintu terbuka menampilkan wajah lelah Bimo.


"Kok pulang nya telat?" Tanya Hani langsung. Tanpa basa-basi.


"Macet parah, ada kecelakaan di perempatan." Jawab Bimo, pria itu mendudukan tubuh nya di sofa, menyandarkan punggung nya.


Hani mendekat dan berinisiatif membuka sepatu dan kaos kaki yang di pakai Bimo dengan perlahan, karena mata nya tertutup jadi Hani kira dia tidur, padahal tidak sama sekali.


"Kebiasaan laki-laki kayaknya, kalo capek pasti langsung tidur tanpa membuka alat tempur dulu." Gumam Hani sambil membuka sepatu Bimo, tentu nya Bimo mendengar nya dengan jelas.


Selesai membuka sepatu nya, Hani menyimpan sepatu itu di tempat nya, lalu ke dapur mengambil segelas air putih.


"Minum dulu.." Hani meletakan air nya di meja.


"Sudah makan?" Tanya Bimo, masih dengan mata yang tertutup.


"Belum,"


"Kok belum? Kan ada sayuran di kulkas, kenapa gak masak?"


"Lagian aneh sih, di apartemen mewah gini kok gak ada kompor." Cetus Hani membuat Bimo seketika membuka kedua mata nya.


"Kamu bilang gak ada kompor?"


"Memang gak ada kan?"


"Ada sayang, di dapur ada kompor."


"Yang mana?" Tanya Hani, dia sudah memutari seluruh apartemen dari tadi siang hingga malam, tapi tak menemukan kompor di manapun.


Bimo bangkit dari duduk nya dan menggenggam tangan Hani, membawa nya ke dapur.


"Ini apa hmm?" Tanya Bimo sambil menunjuk sebuah tembok berwarna hitam mengkilat dengan motif bulatan-bulatan sebesar piring.


"Mana aku tau, aku baru liat ada tembok mengkilat gini. Di lap nya pake tissu basah ya?"


"Sayang, ini kompor."


"Masa? Kok gak ada pemantik nya?" Tanya Hani.


"Gak ada dong, ini kompor listrik sayang bukan kompor gas." Jelas Bimo.


"Terus cara pake nya gimana? Apa bener bisa mateng makanan nya."


Bimo pun menunjukan cara menggunakan kompor listrik itu dengan memasak spaghetti sebagai percobaan, meski jarang memasak bukan berarti tak bisa kan? Itu lah Bimo, dia bisa memasak tapi rasa malas lebih sering mendominasi, jadi dia lebih banyak membeli makanan jadi, lebih praktis.


"Yok makan.." Ajak Bimo setelah dua piring spaghetti tersaji di meja makan.


"Enak gak?" Tanya Hani meragukan hasil masakan Bimo.

__ADS_1


"Makanya cobain dulu, kalau gak di coba mana tau enak atau nggak."


Hani menyuapkan sesendok spaghetti, dia mengunyah nya perlahan, mata nya terpejam menikmati sensasi rasa nya. Pas di lidah, enak.


"Gimana? Enak?"


"Lumayan lah, gak buruk." Jawab Hani, padahal spaghetti nya sangat enak.


Bimo menggelengkan kepala nya pelan, lalu tersenyum simpul melihat tingkah gadis nya.


....


Pagi hari tiba, matahari mulai memperlihatkan kehadiran nya, merubah malam menjadi pagi yang indah nan sejuk.


Ica terbangun, dia tak melihat Zen di mana pun. Bahkan tempat pria itu tertidur pun sudah rapih.


"Kemana Daddy?"


Ica buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci muka nya, sedikit merapikan rambut nya dan pergi ke luar kamar.


Dia melihat Zen sedang menikmati sarapan di meja makan dengan tenang. Ica mendekat dan duduk di samping Zen, tapi pria itu seperti tak terganggu dengan kehadiran nya.


"Dad, kenapa gak bangunin Ica?"


"Buat apa?"


"Ya gak apa-apa sih, cuma gak biasa nya aja. Ica kan bisa bantu Daddy bersiap."


"Aku bisa melakukan nya sendiri meski tanpa bantuan mu."


"Bicara saja, tapi jangan membuat mood ku memburuk."


"Pria yang kemarin itu kakak Ica, Dad. Kak Azwar."


"Terus?" Tanya Zen seolah tak peduli, meski dalam hati pria itu merasa bersalah karena terlalu mengikuti kemarahan nya.


"Daddy salah paham, kak Azwar baru pulang dari luar kota setelah lulus kuliah Dad. Jadi wajar Ica meluk dia, dia yang selama ini baik sama Ica Dad." Jelas Ica, bertambah besar saja rasa bersalah Zen pada Ica karena sudah berprasangka yang tidak-tidak pada gadis nya.


"Aku selesai, aku pergi ke kantor dulu. Terserah kau mau kuliah atau tidak."


Zen pergi di ikuti Bimo sang asisten setia, pria itu sempat melirik Nona muda nya yang memaksakan senyum nya saat dia melirik tadi.


"Tuan, apa ini tidak berlebihan? Nona Ica sudah menjelaskan semua nya, menurut saya jangan terlalu lama mendiamkan nya."


"Lalu?"


"Apa tuan tak memerhatikan ekspresi sendu Nona Ica? Jangan terlalu keras tuan, Nona Ica gadis yang lembut."


"Aku masih cemburu Bim, mau dia kakak nya Ica atau bukan, dia tetap pria kan? Jadi aku wajar cemburu kan Bim?"


"Cemburu wajar saja tuan, tapi jangan berlebihan."


"Jadi, menurutmu aku berlebihan?"

__ADS_1


"Maaf tuan, tapi menurut saya Iya." Jawab Bimo lirih, membuat Zen menghentikan langkah nya.


Bimo yang menunduk tak memperhatikan jalan secara tidak sengaja menabrak punggung Zen, hampir saja terjatuh kalau dia tak buru-buru menyeimbangkan tubuh nya.


"Kita pergi Bim, ada rapat penting hari ini." Zen masuk ke dalam mobil, di ikuti Bimo di kursi kemudi.


Ica menatap kepergian Zen dengan sendu, dia menangis tersedu-sedu, dia sakit saat pria itu mengabaikan nya.


"Dad, kenapa Daddy marah? Ica gak tau kalau meluk kakak sendiri saja bisa membuat Daddy semarah ini." Gumam Ica, air mata nya luruh membasahi wajah cantik nya. Dia bahkan melupakan sarapan nya karena mood nya hancur sehancur hancur nya.


....


Sore hari, Zen pulang dengan langkah lebar nya memasuki mansion.


"Sore tuan.."


"Ya Bi, Dimana Ica?"


"A-anu tuan.."


"Katakan yang jelas, Bi."


"Nona muda tak turun sejak tadi pagi, bahkan dia belum sarapan atau makan siang," Jawab Bi Arin dengan nada suara yang bergetar, karena takut akan kemarahan tuan muda nya.


"Kau sudah mencoba mengantarkan nya?"


"Sudah tuan, tapi pintu nya terkunci." Jawab Bi Arin, membuat Zen cemas dan tanpa pikir panjang segera berlari menaiki tangga menuju kamar nya.


Beruntung dia memiliki kunci cadangan, jadi dia bisa masuk ke dalam kamar itu. Zen membuka pintu, pemandangan yang menyesakan dada langsung tersaji di depan mata.


Gadis nya tergeletak tak sadarkan diri di lantai, mata nya sembab dengan bekas air mata yang belum mengering di ujung mata nya.


"Baby.." Panggil Zen sambil menepuk pelan wajah gadis nya, tapi tak ada respon.


Zen panik dan memangku gadis nya ke kasur, lalu menelpon dokter pribadi nya dan menyuruh nya datang secepat kilat.


Benar saja, dokter itu datang hanya dalam hitungan menit. Dia memeriksa Ica dengan teliti dan hati-hati, mengingat dia adalah gadis pujaan tuan muda.


"Nona muda hanya kelelahan tuan, mungkin ada pikiran yang membuat nya kurang tidur?"


"Sa-ya tak tau dok, hanya saja kami memang sempat ada masalah kemarin." Jawab Zen.


"Sebaiknya di hindari dulu ya, saya hanya akan meresepkan vitamin saja." Zen menganggukan kepala nya, dan dokter itu pun pergi setelah selesai dengan tugas nya.


Zen duduk di sisi ranjang, mengusap wajah cantik sang gadis dengan lembut, rasa bersalah nya semakin bertambah besar. Gadis nya pasti menangis seharian ini, dia di butakan oleh api cemburu hingga mengabaikan penjelasan gadis nya.


"Maaf Baby, aku terlalu mencintaimu, jadi aku takut kau berhianat juga. Maaf By, aku menyesal."


....


🌷🌷🌷


Cemburu boleh aja Dad, tapi jangan berlebihan ya, kasian neng Ica nya😪

__ADS_1



-Istrinya Jungkook-


__ADS_2