
Ica menatap Zen dengan kesal, pria itu berani sekali mencium nya di depan umum, tentu saja mereka menjadi pusat perhatian, hingga membuat Ica menahan malu setengah mati. Tapi pria itu nampak tenang, seperti tak terjadi apapun.
"Mau kemana lagi By?" Tanya Zen dengan senyum manis nya, tapi entah mengapa senyuman Zen terlihat sangat menyebalkan di mata Ica.
"Pulang." Jawab Ica ketus.
"Enggak, kamu gak punya skincare? Kita beli." Zen menarik tangan gadis nya, membawa nya ke toko kosmetik yang terkenal dengan harga nya.
"Ihh Dad, Ica gak mau. Ica gak suka pake gituan, pake pelembab aja itu udah lebih dari cukup." Tolak Ica, dia bukan tife gadis yang menggilai skincare atau make up.
"Biar kamu makin cantik sayang, kalau kamu cantik Daddy makin cinta."
"Emang nya Daddy cinta sama Ica?" Tanya Ica, Zen gelagapan sendiri. Benar, dia memang mencintai Ica, tapi dia punya rencana sendiri untuk mengungkapkan nya, ehh dia malah keceplosan.
"Dad.." Desak Ica, karena pria itu diam tak menjawab.
"Apa sayang?"
"Jawab pertanyaan Ica tadi."
"Yang mana By?" Tanya Zen pura-pura lupa.
"Jangan pura-pura lupa Dad, apa Daddy sudah mencintai aku?"
"I-itu, eemmm.." Zen ketar ketir sendiri, dia salah tingkah sampai membuat Ica tertawa.
"Tak usah di jawab Dad, Ica sudah tau jawaban Daddy dengan melihat tingkah Daddy. Kalau beli skincare memang bisa buat Daddy mencintai Ica, ayoo beli Dad.."
Ica menarik tangan Zen masuk ke dalam toko itu, dia pun berkonsultasi dengan tentang skincare apa yang harus dia beli.
__ADS_1
"Punya keluhan apa Nona?"
"Gak ada kak," Jawab Ica jujur.
"Kalau tidak ada keluhan, sebaiknya Nona memakai paket glow saja, kulit Nona sudah bagus."
"Apa ini akan cocok di kulit saya kak? Apa tidak akan menimbulkan bercak-bercak merah, atau break out parah?"
"Skincare ini sudah di uji terlebih dahulu Nona, 100% aman, meskipun kulit Nona sensitif."
"Bungkus saja dua paket lengkap." Celetuk Zen, sedari tadi dia hanya mendengarkan gadis nya berkonsultasi dengan penjaga toko yang memang paham tentang skincare yang dia jual.
"Baik tuan, silahkan urus administrasi nya terlebih dahulu."
"Bisa pake blackcard?" Tanya Zen.
"Bisa tuan, silahkan ke admin."
"Itu siapa Non?"
"Memang nya kenapa? Apa karena dia tampan?" Tanya Ica ngegas.
"Maaf Non, hanya ingin tau."
"Dia daddy saya, puas?" Tanya Ica ketus.
"Waah masih muda sekali, bisa saya minta nomor nya Nona?"
"Cepatlah bungkus skincare saya, jadi karyawan jangan suka genit kak, nanti pembeli nya kabur." Ketus Ica lalu pergi setelah mendapat skincare nya.
__ADS_1
"Baby.." Panggil Zen, tapi Ica seolah tak mendengar dan tetap berjalan meninggalkan Zen di belakang nya.
"Kamu kenapa sayang? Kok kelihatan kesal begitu, Daddy salah apa?" Tanya Zen sambil menggenggam tangan gadis nya.
"Penjaga toko tadi naksir sama Daddy, pake minta nomor telepon segala. Ica kan cemburu.."
"Cemburu?" Tanya Zen dengan senyuman jahil nya, kali ini Ica yang salah tingkah.
"E-nggak tuh, Ica cuman gak suka aja. Lagian kalau Ica kesel tuh suka sembarangan ngomong, udah ahh Ica mau makan laper."
Zen tersenyum puas, dia tau gadis nya memang cemburu, tapi dia menyembunyikan nya. Sama seperti dirinya yang mulai mencintai Ica.
"Dad, Ica ke toilet bentar ya. Kebelet.." Pamit Ica.
"Jangan lama ya sayang, kita makan setelah nya pulang."
Ica mengangguk cepat dan pergi ke toilet karena desakan sesuatu di bawah sana yang terasa sudah di ujung.
Gadis itu masuk ke dalam salah satu bilik toilet, tanpa dia sadar ada seseorang yang mengikuti nya.
"Zen, kau Zen kan?" Panggil seseorang, suara nya terdengar sangat familiar, tapi dia lupa siapa pemilik suara itu.
"Ya, siapa kau..." Zen membulatkan kedua mata nya saat melihat siapa yang berdiri di depan nya.
"Rosa?"
....
🌷🌷🌷
__ADS_1
jangan kabur ya, ada konflik😁😂