Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 222


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu, selama itu hubungan Ica dan Meisya menjadi lebih dekat, Zen juga tak keberatan sama sekali, selama perempuan itu tak menyakiti istrinya dia akan bersikap biasa juga, tapi sekali saja perempuan itu membuat kesalahan dan jika terbukti melakukan sebuah kejahatan lagi, maka Zen akan segera bertindak tegas. 


Hari ini, giliran Bimo yang sedang di Landa kepanikan. Pasalnya, tadi pagi istrinya mengeluhkan sakit di bawah perutnya, tapi masih hilang timbul dan Hani juga tak kenapa-kenapa jadi Bimo pergi bekerja karena ada pekerjaan yang sangat penting di kantor. 


Tapi siang hari, istrinya itu kembali menghubungi nya, dia mengatakan kalau perut nya semakin sakit dan sudah keluar lendir yang bercampur darah, tentu saja Bimo panik bukan main, dia segera meluncur pulang ke apartemen dan membawa sang istri ke rumah sakit. Saat ini Hani sedang di periksa pembukaan nya oleh dokter. 


"Sayang.." panggil Hani lirih, dia lemas karena seharian menahan sakit dan dokter masih mengatakan baru pembukaan enam, masih ada 4 pembukaan lagi. 


"Kamu pasti kuat, Sayang."


"Sa-kit.." Keluh nya membuat Bimo langsung menggenggam tangan sang istri dengan erat, menyalurkan sedikit kekuatan, meski rasanya ini tak berguna, tak membantu apa-apa, rasa sakit di perutnya masih sangat terasa. 


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Ica datang setelah Zen memberitahu nya kalau Hani akan segera melahirkan. Risya dan Meisya juga datang, ketiga nya langsung mendekat dan memberi semangat pada Hani yang sudah sangat terlihat kesakitan. 


"Kamu pasti bisa Han, kamu wanita kuat." Ucap Risya, Meisya mengusap lembut kepala Hani yang sebagian anak rambutnya sudah basah terkena keringat. 


"Aku bawain air gula merah biar kamu lebih bertenaga, soalnya waktu aku lahiran Bibi Arin juga ngasih ini." Hani meminum air gula merah itu dengan di bantu Meisya.


"Udah pembukaan berapa?"


"Masih enam, Nona." Jawab Bimo, Ica menatap wajah Hani. 


"Ayo, aku bantu berjalan ya. Apa masih kuat untuk berjalan-jalan pelan? Ini akan membantu untuk mempercepat pembukaan nya." Hani mengangguk dan berusaha duduk, dan berjalan pelan di temani oleh tiga sahabatnya, saat perut nya terasa mulas, dia akan berhenti dan berpegangan pada mereka. Sungguh, inilah rasanya punya sahabat yang sesungguhnya, selalu ada disaat suka maupun duka, bahkan disaat seperti ini mereka datang menolong. Bahkan Risya sedang mengandung juga saat ini, usia nya sudah 7 bulan sekarang. 


"Sshhh…" Hani mendesis saat perut nya semakin sakit, Ica langsung keluar dan memanggil dokter. Tak lama, dia sudah kembali di ikuti satu dokter perempuan dan dua orang suster dengan pakaian steril dan alat-alat kesehatan di dalam troli. 


"Pembukaan nya sudah lengkap, sudah bisa melahirkan sekarang."

__ADS_1


"Ahhh syukurlah, semangat ya kamu pasti bisa." Ucap Ica, lalu ketiga nya keluar karena proses melahirkan akan segera di mulai karena pembukaan nya sudah lengkap. 


Bimo kembali mendekat dan memegang tangan sang istri, dia mencium kening perempuan itu setiap detik, saat Hani mengeden dia ikut merasakan rasa sakit karena Hani menggenggam tangan nya dengan kuat, hingga meninggalkan bekas baret, bahkan beberapa luka itu mengeluarkan darah, tapi itu jelas tak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan Hani saat ini. 


Risya, Meisya dan Ica duduk dengan rasa khawatir di ruang tunggu. Mereka merasa sangat khawatir, karena sudah hampir 1 jam tapi belum terdengar suara tangis bayi. 


Zen datang bersama Brian, pria itu memalingkan wajahnya saat melihat Meisya ada disana, seperti nya pria itu belum bisa memaafkan wanita itu. 


"Bagaimana Mom, sudah lahir?" Tanya Zen.


"Belum Dad, sudah satu jam sejak dokter masuk, tapi belum terdengar apapun." Jawab Ica. 


Tapi tak lama, terdengar suara tangis bayi yang bersahutan, semuanya mengusap dada nya lega. 


"Aaahh syukurlah." Ucap Ica kompakan dengan Risya dan Meisya. 


"Nona Hani sudah melahirkan anak kembar laki-laki, bayi nya sehat dan sempurna tanpa kekurangan satu apapun." 


"Baiklah, terima kasih sus." Ucap Ica, suster itu kembali masuk untuk melakukan sesi setelah melahirkan, yaitu menjahit bekas robekan jalan lahir. 



Pagi harinya, Hani terbangun dia celingukan mencari suaminya. Tapi tak lama pria itu datang dengan dua stroler yang di dorong masuk ke dalam ruangan itu. 


"Mas, anak kita?" 


"Tentu saja, Sayang. Ini putra kita," jawab Bimo dengan senyum manis yang terkembang indah di bibirnya. 

__ADS_1


"Aku ingin melihatnya." Pinta Hani, suster memberikan salah satu bayi itu ke pangkuan Hani, dan satunya lagi di gendong oleh Bimo. Bayi-bayi tampan yang sangat menggemaskan dengan kulit kemerahan, hidung mancung, bulu mata nya lebat, alis nya tebal dengan bibir mungil kemerahan. Tangan nya yang mungil itu mengepal lucu dan saat Hani memegang nya, seperti paham bayi itu langsung menggenggam tangan ibunya. 


Hani tersenyum gemas, bayi itu sangat menggemaskan. Kalau saja bisa, dia ingin menggigit pipi cabi nya itu, tapi jelas itu tak di perbolehkan. 


"Siapa nama mereka, Mas?" 


"Aarash dan Aarish, Sayang." Jawab Bimo, Hani tersenyum lalu mengangguk. 


"Aarash yang mana?" 


"Yang kamu gendong itu Aarash, dia lahir duluan jadi di kakaknya, dan ini Aarish."


"Bedain nya gimana ya, mirip banget." Ucap Hani nyeleneh. 


"Sayang, Aarash punya tahi lalat di bawah bibir, sedangkan Aarish tahi lalat nya di lengan kanan." 


"Aaah iya, hehe." Hani cengengesan mendengar jawaban suami nya yang seperti nya sudah sangat gemas padanya. 


"Aarash Astra Sanjaya, Aarish Astra Sanjaya. Aarash berarti sinar matahari pertama, Aarish seseorang yang di hargai." 


"Selain nama nya bagus dan mudah di ucapkan, ternyata makna nya juga dalam." 


"Tentu saja, sama seperti Tuan Zen, aku juga memikirkan nama anak ku dengan baik." Jawab Bimo dengan senyum kebanggaan. 


...,..


🌷🌷🌷

__ADS_1


tinggal 2 couple lagi😪


__ADS_2