Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 201


__ADS_3

Soraya masih terdiam dengan tatapan mata yang menatap Zen.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Kau marah? Aku rasa kau tak berhak memutuskan, disana aku pemilik perusahaan, jadi aku berhak mempertahankan pegawai terbaik ku."


"Tapi Tuan, bisakah membantu saya? Gadis bernama Risya itu sudah membuat putra saya membangkang perintah saya." Jawab Soraya, membuat Zen tertawa.


"Apa aku tak salah dengar? Bagaimana cara kau mendidik putra mu, itulah yang akan di ingat anakmu sampai dewasa, lalu apa yang kau ajarkan padanya? Tak ada, karena kau sibuk mengejar berondong di luar negeri kan?"


Jedarr..


Soraya terkejut, ternyata Zen benar-benar tahu semua tentang dirinya dan sang putra, Brian.


"Kenapa? Bahkan aku tahu siapa gigoloo mu saat ini, Anton."


Makin terhenyak saja Soraya di buat nya, pernyataan Zen membuat nya beberapa kali kena mental.


"Apalagi ya? Aahhh, Jo menceraikan mu karena kau berselingkuh dengan berondong itu kan?" Zen menyeringai saat melihat wajah Soraya yang mendadak pias. Ya, ucapan Zen sangat tepat sasaran.


"Jadi, Nyonya mau apa lagi? Masih punya muka untuk datang ke rumah saya dan meminta memecat putra anda sendiri?"


"Jangan konyol, aku bisa saja membuat mu miskin dalam satu kedipan mata!" Tegas Zen membuat wajah Soraya makin pias seperti tak punya darah.


"Jangan lakukan itu Tuan."


"Kalau begitu, jangan berani-berani nya mengganggu Brian dan Risya atau kau tau akibatnya, ingat aku memegang kartu As mu di tanganku, kalau kau melakukan hal fatal, ku pastikan besok rumah dan semua hartamu di sita." Ancam Zen membuat Soraya bergidik, seperti nya dia datang ke rumah ini adalah keputusan yang sangat salah. Bukan nya dapat bantuan, Dia malah di ancam dan ternyata Zen bukan orang yang bodohh hingga bisa dia manfaatkan.


"Restui hubungan mereka dan minta maaf, anak buah ku akan selalu mengikuti 24 jam dalam seminggu, jadi aku akan tau apa saja yang kau perbuat."

__ADS_1


"B-baik Tuan.."


"Pergi dari rumahku, jangan berani lagi menginjakkan kaki kotormu itu di rumah ku!" Tegas Zen, membuat Soraya langsung pergi dengan terburu-buru bahkan tanpa berpamitan.


Bersamaan dengan itu, Ica menuruni tangga dengan pelan, Zen yang melihat itu langsung mendekat dan menuntun sang istri.


"Kemana tamu nya, Dad?" Tanya Ica.


"Sudah aku usir, lagian minta hal yang gila Bby."


"Emang apa Dad?"


"Emaknya si Brian minta Daddy buat pecat dia dari kantor, kan gila Bby. Ada ya orang semacam ibunya Brian, egois!"


"Kasian Brian ya Dad, keputusan nya buat meninggalkan rumah itu udah tepat." Ucap Ica lalu duduk di kursi dengan berbagai macam makanan yang terlihat menggugah selera.


"Mirip Dad, udahlah Ica laper nih." Ica mulai acara sarapan sekaligus makan siang nya, disebut sarapan tapi sudah terlewat jauh, tapi belum waktunya makan siang juga.


"Makan yang banyak sayang." Zen tersenyum saat melihat Ica makan dengan lahap, syukurlah selera makan nya masih sama, tak berkurang sedikitpun.


Berbeda dengan situasi di sebuah apartemen, seperti biasa sang pria sedang membujuk istri nya itu untuk makan.


"Makan dong Sayang."


"Gak mau Yang, males ngunyah." Jawab Hani, tetap kekeh dengan jawaban nya.


"Minum susu, atau jus aja ya? Kan gak perlu di kunyah, cuma tinggal di minum." Bujuk Bimo, tapi sang istri lagi-lagi menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


"Mual."


"Ayolah Sayang, pikirin juga pertumbuhan anak kita. Mereka masih dalam masa pertumbuhan, kalau kamu nya susah makan gimana mereka tumbuh sehat?"


"Dedek mau jalan-jalan aja ya?" Jawab Hani malah mengajak suami nya itu jalan-jalan.


"Boleh, tapi harus jajan, deal ya?"


"Oke deal."


"Yaudah, ganti pakaian nya. Aku mau makan ini dulu, sayang kalau di buang." Ucap Bimo, padahal dia baru saja makan satu piring nasi dengan ayam goreng, tapi dia makan lagi sekarang. Hani memang hobi masak, tapi susah makan, ada-ada saja memang bawaan ibu hamil.


Tak lama, Hani datang mendekat dengan setelah berganti pakaian.


"Masih makan? Kok kayak enak ya liat kamu makan."


"Mau Sayang? Masakan kamu selalu enak kok." Jawab Bimo, dia mendekatkan sesendok nasi dan ayam goreng juga sayur. Hani dengan ragu menerima suapan itu, dan malah dia mengambil alih piring dari tangan Bimo dan memakan nya dengan lahap.


"Gak jadi jalan-jalan deh, beliin sosis bakar aja." Celetuk Hani membuat Bimo menganga. Apa ini? Tadi istrinya sendiri yang mengusulkan jalan-jalan tapi sekarang? Benar-benar ya mood ibu hamil itu tak bisa di tebak.


.....


🌷🌷🌷


Sabar ya Abang Bim, namanya juga bumil🤭🤭


__ADS_1


__ADS_2