Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 113


__ADS_3

Zen merebahkan tubuh gadis nya di ranjang dengan perlahan, dia mulai melucuti pakaian nya sendiri dengan sedikit bantuan dari Ica.


"Dad, kenapa Ica gak pernah lihat Daddy olahraga, tapi badan Daddy bagus."


"Sudahlah, itu bukan hal yang pantas di bahas dalam situasi begini, By. Ayo, lucuti pakaian mu." Ica berdiri dan mulai membuka satu persatu kancing blouse nya.


Beruntung saja dia memakai blouse dan rok pendek di bawah lutut, jadi tak terlalu sulit untuk membuka nya.


"Daddy.." Ica memekik saat tiba-tiba dia di jatuhkan ke atas ranjang oleh Zen.


"Daddy gak tahan, By. Tubuh mu terlalu menggoda untuk di lewatkan begitu saja." Bisik Zen sensual, membuat Ica tersipu.


"Sabar aja Dad, Ica kan gak bakalan kabur. Soalnya.."


"Kamu juga doyan kan? Bagus kalau kamu suka." Zen tau benar apa yang ada di dalam pikiran gadis nya.


Zen menindih Ica, tubuh polos mereka bersentuhan lembut, membuat bulu-bulu halus merinding seketika.


"Dad.."


"Kenapa sayang? Merinding?" Ica mengangguk manja, lalu menutup wajah nya dengan kedua tangan.


"Selalu saja merinding, padahal kita sudah sering melakukan nya?"


"Ica gak tau Dad, lihat nih bulu-bulu Ica berdiri gini." Ica menunjukan bulu halus di tangan nya yang memang berdiri, hanya karena kulit mereka saling bersentuhan.


Zen menatap wajah kemerahan Ica, gadis itu berkali lipat cantik nya jika sedang tersipu, menurut Zen.


Zen mengecup kedua pipi, kening dan terakhir bibir mungil Ica yang kemerahan karena liptint.


"Daddy mencintai kamu By."


"Ica juga." Jawab Ica, dia melingkarkan tangan nya di leher Zen. Lalu kembali berciuman mesra, memulai permainan panas yang sebentar lagi akan mereka lakukan.


Kaki Ica bergerak tak karuan saat terong ungu milik Daddy nya terasa menggesek di atas inti nya yang di hiasi rerumputan segar.


Zen melepaskan ciuman nya, kali ini leher putih Ica adalah sasaran nya, dia melayangkan ciuman basah hingga meninggalkan bekas kemerahan yang berjejer rapi dari leher hingga ke dada nya.


"Dad.."


"Yes baby?"


"Jangan terlalu banyak membuat tanda, malu kalau kelihatan orang lain." Peringat Ica, tapi Zen memang keras kepala, hingga ucapan Gadis nya sendiri dia anggap angin lalu.


Zen menenggelamkan kepala nya di inti gadis nya, membuat Ica memekik nikmat saat lidah pria itu mengobok-obok lubang sempit nya.


"Daddy.." Ica mengerang panjang saat dia meraih pelepasan pertama nya hanya karena permainan lidah pria itu di inti nya.


Zen menelan habis cairan itu dengan rakus nya, bahkan merasa tak cukup hingga dia mencari cairan memabukan itu ke pusat nya langsung.


Tubuh Ica mengejang menikmati denyut terakhir pelepasan nya, sedangkan Zen masih di sibukan dengan menelan cairan sisa pelepasan gadis nya.


"Cukup Dad, aku merasa malu karena cairan ku tertelan."


"Kenapa sayang? Ini enak,"


"Tidak seharusnya Dad, bagaimana kalau gantian?" Tawar Ica, sejauh ini Ica tak pernah melakukan orall sexx.


"Kamu yakin? Muntah gak nih?" Tanya Zen, dia ingat saat pertama kali gadis nya di jejeli dengan senjata laras panjang nya.


"Kita coba saja." Ica bangkit dan kini giliran Zen yang berbaring pasrah.

__ADS_1


Ica mulai menjilat ujung terong ungu itu dengan lembut dan dalam sekali kulumaan dia mampu memasukan semua nya.


Zen menjambak kecil rambut Ica, mata nya terpejam saat gadis itu memulai gerakan maju mundur nya, dan hebat nya lagi Ica melakukan nya tanpa sedikit pun menyentuh gigi.


"Cukup By, Daddy akan meledak sekarang juga jika kau tak berhenti." Zen menarik senjata nya dari mulut sang gadis secara paksa.


"Baru juga berapa detik Dad."


Tanpa bicara, Zen menarik Ica ke atas pangkuan nya dan memulai sesi penyatuan.


.....


Di apartemen, Hani yang masih merasa sedikit trauma di kurung oleh Bimo sebagai hukuman. Tujuan nya agar Hani tau kalau dunia tak selamanya baik, sebagai contoh nya saja manager yang selama ini terlihat baik ternyata punya niat jahat yang terselubung.


Bimo pulang untuk makan siang, sudah 3 hari ini dia selalu pulang untuk makan siang bersama sang gadis. Bimo benar-benar tak mengizinkan Hani keluar apartemen, kemana pun dan siapa pun.


Bimo membuka pintu, dia melihat gadis nya sedang duduk dengan sepiring buah di pangkuan nya, syukurlah setidak nya mood untuk ngemil nya sudah kembali.


"Honey.."


"Sudah pulang yang? Aku udah masakin ayam cabe ijo buat kamu." Hani menyambut kedatangan Bimo dengan wajah berbinar. Dia memeluk pria nya dengan erat.


"Wahh pasti enak banget tuh, mau dong. Laper nih.." Hani melepaskan pelukan nya dan menarik pelan tangan Bimo ke meja makan.


Hani melayani Bimo seperti biasa, membuat Bimo merasa seperti di istimewa kan.


"Yang, nanti malem main yuk? Udah 3 hari ini aku gak kemana-mana, bosen."


"Boleh, tapi harus sama aku. Setuju?"


"Boleh yang, rencana nya kan memang mau double date gitu."


"Hah? Sama siapa Honey?"


"Ya boleh-boleh aja sih, aku gak masalah." Jawab Bimo sambil makan, jujur saja masakan Hani selalu enak.


Setelah obrolan singkat itu, tak ada yang memulai pembicaraan lagi, kedua nya fokus makan.


"Honey.."


"Iya sayang, kenapa?"


"Kamu suka apa? Nanti aku bawain." Tanya Bimo.


"Kebetulan lagi pengen martabak telor, yang." Jawab Hani tanpa basa basi.


"Aku juga punya telor ini, mau?" Goda Bimo.


"Itu mah nanti aja."


"Dimakan tapi ya?" Pinta Bimo.


"Telor yang mana?"


"Telor di martabak sama ini yang nempel sama burung."


"Ohhh boleh deh, tapi tergantung sogokan juga."


"Iya iya,"


"Belum mau berangkat? Waktu makan siang udah habis yang."

__ADS_1


"Masih kangen tapi kerjaan udah nunggu di kantor," Keluh Bimo, pria itu sedang mengganggu aktivitas Hani yang sedang mencuci piring bekas makan mereka.


"Yaudah pergi dulu sana, nanti di marahin bos."


"Bentar lagi honey, nanti malem jam berapa?" Tanya Bimo.


"Jam 8 aja Yang,"


"Oke, aku pergi kerja lagi ya? Jangan kemana-mana, awas kalo kabur."


"Aku gak bakalan kabur kok, tenang aja."


Bimo mengecup singkat bibir gadis nya lalu melepaskan pelukan nya, dia pergi dari apartemen dengan senyuman yang merekah.


.....


Di luar sana, Mei sedang meratapi nasib nya. Sudah 10 hari dia disini, tanpa bisa tidur atau makan sepuasnya seperti biasa.


"Kenapa pria itu tak membunuh ku saja, daripada menyiksa ku seperti ini."


"Lambat laun aku akan mati juga kan?" Gumam Meisya.


Terdengar suara derap langkah kaki mendekat ke arah nya, Meisya sudah bisa menebak kalau itu adalah pria yang biasa. Dia memang datang setiap 2 hari sekali.


"Hebat Mei, kau masih bisa hidup sejauh ini." Benar saja, pria itu datang dengan bertepuk tangan.


"Lepaskan aku, tolong.."


"Mengemis? Ohh ini yang aku tunggu."


"Jadi bagaimana keputusan mu? Tinggalkan Elang atau mati perlahan disini?" Tanya Pria itu.


"Sekedar informasi, saat ini Elang sudah bangkrut dan di tendang dari perusahaan, sebenarnya pun kalau kau mau bertahan dengan nya, saat ini tak menjadi masalah."


"Lalu kenapa kau tak melepaskan aku? Biarkan aku hidup bebas!" Pekik Meisya.


"Karena kau yang membuat bibi ku sakit keras hingga saat ini, kau tak menyadari nya?"


"Itu bukan salah ku, bibi mu saja yang penyakitan." Ketus Meisya.


"Berani mengatai bibi ku? Mau ku robek bibir mu itu?"


"Ti-tidak, maafkan aku!"


"Jadi kau berjanji akan meninggalkan pria breng*ek itu?"


"Ya aku berjanji, lagi pun dia sudah jatuh miskin, tak ada guna nya aku bertahan sekarang."


"Bagus lah, kau bisa pergi sekarang juga."


"Sekarang? Apa kau tak bisa memberiku makan dulu? Aku lapar, sudah dua hari ini aku tak makan."


"Itu derita mu dan bukan urusan ku, jadi tunggu apalagi? Pergi atau mau mati disini?"


"A-aku pergi saja." Wanita itu buru-buru lari keluar gedung itu, memang tali pengikat nya sudah di buka oleh anak buah pria itu.


Pria itu menyeringai jahat, dia berhasil menghancurkan Elang dan Meisya secara bersamaan. Dia puas dengan kinerja nya sendiri, ide untuk menculik Meisya adalah yang terbaik.


....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Masih ada vote nganggur? Sumbangin ke sini yuk🤭


__ADS_2