
Sebulan sudah berlalu, waktu bergulir tak dapat di hentikan. Hari ini, Zen mengantar Ica ke kampus, hanya sampai di gerbang karena permintaan Ica.
"Kenapa cuma sampai gerbang By?" Tanya Zen, di kursi kemudi ada asisten Bimo yang seperti biasa akan menjadi kambing conge.
"Daddy mau jantung mahasiswi lain meloncat keluar gitu? Udah jangan macem-macem, nanti mereka bakal teriak-teriak kalau liat Daddy."
"Ohh begitu ya, alasan yang logis. Kalau begitu keluar lah, Daddy juga haru ke kantor ada meeting dengan klien." Jawab Zen, tapi dirinya sendiri masih memeluk erat tubuh Ica.
"Mau keluar gimana kalau Daddy peluk Ica terus, lepasin dulu." Pinta Ica.
"Daddy lepasin, tapi kasih Daddy morning kiss dulu."
"Ihh kan tadi udah di rumah, Dad. Cepatlah nanti dosen nya keburu masuk kelas." Ica meronta di dalam pelukan Zen, tapi tak semudah itu Zen melepaskan gadis nya sebelum keinginan nya terpenuhi.
"Makin cepat kamu cium Daddy, makin cepat juga kamu bisa keluar sayang."
"Ica gak ngerti yang gimana isi otak Daddy, mesoom terus!" Ketus Ica, kalau sudah begini mau tak mau dia harus mencium Zen, daripada telat masuk kelas.
Ica menangkup wajah Zen dengan gemas, lalu mulai mendekatkan wajah nya, dia mencium seluruh wajah Zen, tapi saat dia mencium bibir Zen, pria itu menggunakan tangan nya untuk menekan tengkuk gadis nya, hingga ciuman mesra pun tak dapat di hindari.
Decapan nikmat begitu terdengar di dalam mobil, membuat Bimo segera memakai headset dan memutar lagu dengan volume keras, agar tak mendengar suara-suara laknat itu.
Setelah selesai, Zen pun melepaskan Ica. Gadis itu memanyunkan bibir nya, lengkap dengan pipi yang menggembung.
"Itu bibir kenapa By? Mau di makan lagi?" Goda Zen, membuat Ica mendelik sebal.
"Ica kuliah dulu Dad, hati-hati di jalan dan jangan genit-genit sama wanita lain." Peringat Ica.
"Iya sayang ku, semangat kuliah nya ya, jangan genit-genit juga sama cowok di kampus."
"Mana ada Ica genit, gak tuh! Udah ahh, Ica keluar dulu nanti gak masuk-masuk, bye Daddy." Ucap Ica lalu melambaikan tangan nya saat mobil pria itu mulai menjauh.
"Darrr..."
"Apaan?" Tanya Ica santai, membuat Risya yang tujuan nya mengagetkan sahabat nya itu tercengang.
"Gak kaget?"
"Enggak tuh, memang nya kenapa?"
"Ayo ke kelas, dosen pembimbing sebentar lagi masuk kan?" Tanya Ica, dia pun menggandeng tangan Risya, mereka pun berjalan bersama ke kelas.
Sesekali mereka bercanda ria membuat Ica tertawa lepas, jarang-jarang dia bisa tertawa sebebas ini dan ini hanya dia rasakan ketika bersama Risya atau Zen.
....
Ica duduk di samping Risya, seperti biasa. Tapi kali ini di samping nya ada seorang pria berambut pink, padahal biasa nya meja itu di duduki oleh mahasiswi perempuan, tapi hari ini pria itu berganti posisi sepertinya.
__ADS_1
"Hai Ca.." Sapanya.
"Hai, ada apa? Gak usah natap dengan senyuman gitu, gue gak terpengaruh." Ketus Ica, tak heran Ica memang terlihat ketus jika pada pria, hanya pada perempuan saja dia ramah.
Ica juga terkesan sangat menjaga jarak, sesuai peringatan Daddy nya, dia tak mau membuat pria itu marah besar pada nya.
"Biasa aja kali, gue kan cuma nyapa.."
"Senyum Lo buat gue mual, tau gak?" Ica mendelik dan memalingkan wajah nya. Tak lama dosen pembimbing pun masuk dan kelas di mulai.
....
Ica dan Risya duduk di kantin, hari ini memang hanya satu materi, tapi perut Ica yang memang selalu lapar jadi dia memilih makan dulu sebelum pulang.
Risya sudah terbiasa melihat porsi makan Ica yang banyak, jadi dia tak terkejut malah terkesan acuh. Tapi bagi pria itu, porsi makan sebanyak itu membuat nya sangat terkejut.
"Kecil-kecil makan nya banyak!" Celetuk nya sambil duduk di samping Ica dengan membawa segelas besar jus mangga.
"Makanya jangan suka sama gue, gue makan nya banyak, bisa rugi bandar Lo nanti." Jawab Ica santai, dia memulai makan nya dengan tenang tanpa menghiraukan keberadaan pria itu.
"Ca, jangan pedes-pedes nanti Daddy Lo marah."
"Lagi pengen Sya, biasa nya juga gak pernah makan pedes." Jawab Ica.
"Pengen dong ketemu papa mertua."
"Gue? Lo gak inget nama gue Ca? Kita temen sekelas lho."
"Bodo, ngapain gue nginget nama Lo, kagak penting banget!" Jawab Ica datar.
"Gue Brian, salam kenal."
"Ohhh.." Ica hanya menjawab nya singkat, jujur saja dia malas jika berurusan dengan pria.
"Dia makan nya emang segitu ya?" Tanya Brian pada Risya, yang tadi hanya menyimak sambil makan.
"Lo belum tau aja kalau dia lagi kesel, makan nya bisa bermangkok-mangkok bakso atau mie ayam." Jawab Risya, membuat Ica mengacungkan jempol nya.
"Gapapa deh rugi kalau dapet nya cewek secantik kamu, Ca."
"Apaan? Di bilangin kok ngeyel." Sindir Ica, dia baru menghabiskan 3 mangkok bakso dan di depan nya masih ada dua mangkok mie ayam.
"Gak baik lho cewek makan nya banyak."
"Idih, emang nya Lo siapa pake ngatur-ngatur gue segala. Daddy aja gak pernah ngelarang gue mau makan sebanyak apapun!"
"Ya gak gitu Ca, tapi masa cewek cantik makan nya bar-bar gini."
__ADS_1
"Lah terus? Berarti selama ini, Lo cuma lihat cewek cantik yang makan nya dikit? Terus makanan sehat gitu? Sorry, itu bukan gue!"
Ponsel Ica berdering di dalam tas nya, dia bahkan tak menyadari nya karena sibuk makan.
"Ponsel mu bunyi Ca.." Ucap Risya, membuat Ica memeriksa ponsel nya.
Ica menggeser ikon hijau dan suara Zen pun terdengar.
"By, sudah selesai kuliah? Ke kantor Daddy ya?"
"Ica udah selesai kelas Dad, tapi lagi makan. Kalo udah selesai makan, Ica langsung ke kantor." Jawab Ica.
"Yaudah sayang, makan yang banyak ya."
"Oke Daddy, Ica emang makan nya banyak." Jawab Ica dengan senyuman manis nya, membuat hati Brian berdebar tak karuan.
Ica meletakan kembali ponsel nya, lalu melanjutkan acara makan siang nya.
"Siapa Ca?"
"Daddy nyuruh ke kantor."
"Lah terus ini makanan nya gimana?" Tanya Brian.
"Gue makan kamprett, ya kali gue pergi sebelum kenyang." Jawab Ica membuat Risya terkekeh.
"Galak banget Ca.."
"Dia nyebelin Sya, habis ini mau kemana?" Tanya Ica pada Risya.
"Pulang aja sih, terus mau senam nanti sore."
"Semangat yang bestie, kamu pasti bisa."
"Semangat.." Jawab Risya, dia menyemangati dirinya sendiri.
Brian diam menyimak sambil menyaksikan Ica yang makan dengan lahap.
"Benar-benar gadis yang berbeda, semakin ketus sikap mu semakin aku menginginkan mu Ica." Batin Brian, pria itu tersenyum simpul saat menatap Ica, yang bahkan gadis itu tak menyadari kalau Brian tengah menatap nya.
....
๐ท๐ท๐ท
Gimana gak naksir coba, cantikk bangett๐๐๐
__ADS_1