Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 99


__ADS_3

Zen dan Azwar masih melanjutkan acara makan malam nya dengan tenang, meski sesekali Azwar melirik Zen yang makan dengan lahap.


"Dad, nanti setelah Ica sembuh. Gimana kalau kita double date?" Tanya Ica.


"Double date? Dengan siapa By?" Tanya Zen balik.


"Hani dong, Hani punya sugar daddy juga." Jawab Ica, sambil memakan martabak nya.


"Ohh baiklah, boleh saja. Jadi cepatlah sembuh sayang."


"Yeee makasih Daddy.." Sorak Ica kegirangan.


"Kalau mau cepat sembuh, jangan susah minum obat ya By?"


"Iya deh Dad." Jawab Ica lesu, pria itu harus bersabar extra untuk membujuk gadis nya agar mau makan obat.


"Besok ke kantor ku ya, ini alamat nya." Zen menyodorkan kartu nama dengan alamat kantor nya.


"Azzendra Grew Nicholas, kau pemilik perusahaan AZ company?"


"Tentu, sesuai kartu nama ku." Jawab Zen santai, berbeda dengan Azwar yang seperti shock.


"Pantas saja wajah mu tak asing, aku merasa pernah melihat mu sebelumnya, tapi aku lupa dimana."


"Televisi mungkin." Celetuk Ica yang ikut nimbrung.


"Aaahh iya, kau benar! Aku pernah melihat mu di televisi, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda tuan Zen."


"Diam lah, aku mual mendengar ocehan mu itu. Bersikap saja kalau aku adalah adik ipar mu, tak perlu seformal itu."


"Baiklah."


"Kak, apa kakak sudah ketemu ibu?"


"Belum Ca, kakak fokus nyari kamu sejak kembali kesini." Jawab Azwar.


"Gak pengen ketemu mereka kak?"


"Pengen sih, tapi rasa nya lebih besar ingin bertemu dengan mu dari pada mereka." Jawab Azwar lagi.


"Kapan kau akan pulang? Aku ingin bermanja dengan Ica ku." Tanya Zen datar, membuat Azwar yang sedang minum tersedak hingga terbatuk.


Uhukk.. uhukk..


"Pelan-pelan aja minum nya kali, Bang."


Azwar melirik sinis ke arah Zen, pria itu jauh dari kata cool yang sering di beritakan dalam televisi, pria di depan nya malah cenderung menyebalkan. Apa ini Zen palsu?


....


Di apartemen, Hani sedang menunggu Bimo yang sedang dalam perjalanan pulang, seperti rencana kemarin, Bimo akan mengajak gadis nya berbelanja kebutuhan dapur.


Hani mundar mandir seperti setrikaan, entah kenapa dia merasa gugup, padahal dia sudah sering bersama dengan Bimo, bahkan bukan sekedar bersama, tapi tidur bersama juga.


Dia kembali memoles lipstick merah muda di bibir mungil nya.


"Apa aku sudah terlihat lebih baik? Aahhh jerawat ini sangat mengganggu." Keluh Hani, dia merasa kurang percaya diri karena ada jerawat di dahi nya.


Tak lama, Bimo datang dengan wajah datar nya. Dia ingin mengintrogasi gadis nya terlebih dulu sebelum pergi berbelanja.


"Honey.." panggil Bimo, membuat Hani yang sedang di landa kegugupan pun segera mendekat ke asal suara.


"Iya.." Jawab Hani, lalu duduk di samping Bimo.


"Kamu tadi darimana?" Tanya Bimo dengan tatapan menyelidik.


"Pas kamu udah berangkat, aku ke rumah sakit, sampe jam 4, terus pulang."

__ADS_1


"Ngapain? Jengukin siapa? Pacar?" Tanya Bimo ketus.


"Temen kok, dia baru aja ketemu habis di culik." Jelas Hani.


"Kok kayak kebetulan ya? Nona muda juga baru ketemu, di culik juga?" Batin Bimo bersuara.


"Laki-laki atau perempuan."


"Perempuan, memang nya kenapa?"


"Nggak, tadi aku lihat kamu ke rumah sakit, terus jalan nya kayak buru-buru."


"Ohh itu? Aku di telponin temen aku, kata nya Daddy nya udah pergi." Jawab Hani.


"Daddy?"


"Iya, di punya sugar daddy." Jawab Hani seadanya.


"Kamu kan juga punya, hmm?"


"Iya punya, jadi belanja gak nih?" Tanya Hani.


"Jadi, Honey."


"Gak mandi dulu?"


"Nanti aja pulang nya, yukk pergi keburu malem." Bimo meraih kunci mobil dan menarik tangan Hani.


"Tunggu dulu, tas aku masih di kamar."


"Isi tas mu itu apa sih?" Tanya Bimo.


"Cuma ponsel sama dompet."


"Dompet mu isi nya ktp doang kan? Udah lah gak usah di bawa."


"Iya iya Honey, aku isi pake kartu aja ya."


"Eehhh gak usah deh, ayo pergi."


"Aku mampu Honey."


"Iya nanti aja sayang, ayo belanja dulu."


Bimo mematung saat mendengar panggilan sayang yang keluar dari mulut gadis nya.


"Kok malah bengong sih? Ini jadi belanja atau nggak sih yang?"


"Sekali lagi dong?"


"Apa nya?"


"Panggil aku sayang." Pinta Bimo, membuat Hani memerah, karena dia memanggil Bimo sayang tanpa sadar.


"I-itu tak di sengaja."


"Aku menginginkan nya, panggil aku sayang ya?"


"Huhh baiklah sayang."


"Nahh kan kedengeran nya enak, ayoo pergi." Bimo menggandeng mesra tangan Hani, membawa nya keluar dari apartemen.


"Kita belanja dimana?"


"Sayang nya ketinggalan." Bimo mengingatkan, membuat Hani mendengus.


"Kita belanja dimana sayang?"

__ADS_1


"Di supermarket yang deket perempatan aja, Honey." Jawab Bimo.


Hani hanya membulatkan bibir nya, dan kembali melihat ke arah jendela, pemandangan malam yang cukup membuat mata segar. Lampu berkelap kelip, untung saja tidak macet jadi perjalanan nya hanya memakan waktu beberapa menit saja.


Bimo memutari mobil nya dan membukakan pintu untuk sang gadis dan mengulurkan tangan nya.


Hani menyambut hangat uluran tangan Bimo dan mereka pun masuk ke dalam supermarket dengan tangan yang saling bertaut mesra.


"Mau itu boleh, yang?" Tanya Hani saat masuk ke dalam supermarket, dia melihat stroberi jumbo yang terlihat menggugah selera.


"Boleh, tunggu dulu. Aku ambil troli dulu, jangan hilang ya. Tetap disini sampai aku kembali." Hani menganggukkan kepala nya pertanda mengerti dengan perintah Bimo.


Hani memilih buah stroberi yang tampak manis itu dan tak lama, Bimo datang dengan mendorong troli berukuran cukup besar.


"Sudah milih nya?"


"Bingung.." Keluh Hani, di tangan nya gadis itu memegang dua kotak stroberi.


"Bingung kenapa, Honey?" Tanya Bimo.


"Yang sedang apa yang besar?"


"Terserah kamu saja, tak mau beli yang besar aja? Buah ini gak selalu ada stok nya."


"Memang nya boleh?"


"Boleh, ambil aja yang kamu mau."


"Makasih sayang." Hani tersenyum ceria, lalu mengambil 3 kotak stroberi itu ke dalam troli.


"Beli anggur juga, aku suka anggur."


"Yang merah apa yang hijau?" Tanya Hani.


"Dua-duanya." Jawab Bimo santai. Hani meletakan dua kotak anggur pesanan Bimo juga ke dalam troli.


"Ini buah apa yang? Kok bentuk nya aneh." Tanya Hani saat melihat buah berwarna kehitaman. Bentuk nya seperti apel tapi jelas bukan apel.


"Plum ungu, rasanya asem manis."


"Mau nyoba boleh?"


"Ambil, Honey."


"Beli daging, sayuran sama cemilan buat di rumah nanti."


"Iya sayang." Hani memilah memilih sayur dan daging yang masih segar, tentu nya dengan kualitas yang bagus. Biasalah wanita, padahal semua yang ada di supermarket pasti segar dan bagus kualitas nya, tapi tetap saja di pilih.


"Ini apa yang?" Tunjuk Hani ke arah kemasan berisi olahan seafood.


"Olahan ikan, enak di buat hot pot." Jawab Bimo.


"Di seblak enak gak?"


"Enak Honey, hot pot juga kan semacam seblak."


"Mau, boleh?"


"Ambil aja." Hani mengambil dua bungkus berukuran besar, mumpung yang ngajak belanja nya baik, bisa berabe kalau dia sampai berubah pikiran.


Mereka pun berkeliling membeli semua kebutuhan dapur dan beberapa alat kebersihan untuk kamar mandi juga.


....


🌷🌷🌷


__ADS_1


__ADS_2