Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 53


__ADS_3

Acara sarapan pun di mulai, Zen terus menatap gadis nya yang sedang makan dengan lahap. Bukan bohong jika masakan Bi Arin memang juara, tak pernah mengecewakan, selalu enak apapun menu nya.


Zen juga terlihat lahap memakan tumis pakcoy nya, tapi tatapan mata nya terlalu sering menatap Ica.


"Kenapa sih Dad? Liatin Ica gitu banget, ada yang salah?"


"Daddy suka lihat kamu makan dengan lahap, By." Jawab Zen dengan senyum manis nya.


"Ica memang selalu makan dengan lahap Dad, Ica kan doyan makan."


"Apa kamu makan dengan baik saat Daddy pergi?" Tanya Zen.


"Hari pertama sih Ica gak mood makan Dad, tapi pas Daddy nyuekin Ica, mood makan Ica jadi lebih lahap karena kesal." Jawab Ica santai.


"Ya Daddy juga kesel lihat puser kamu terekspos." Cetus Zen, akhirnya mengutarakan hal yang membuat nya mendiamkan Ica.


"Cuma karena puser Daddy mengabaikan aku seharian?" Tanya Ica, dia tak habis pikir hanya karena dia memakai crop top yang memperlihatkan pusar nya, Zen mendiamkan nya seharian.


"Kamu tau sendiri bagaimana Daddy."


"Ica bosen, main yuk jalan-jalan." Ajak Ica dengan manja.


"Kemana By?"


"Ica pengen makan es krim yang di mall." Jawab Ica, masih dengan nada manja nya.


"Boleh, tapi jangan pakai baju macam-macam ya." Peringat Zen, membuat Ica mengangguk cepat.


"Setelah makan kita pergi, Daddy ke ruang kerja dulu. Kamu lanjutkan makan nya." Zen mengecup puncak kepala gadis nya, lalu pergi ke ruang kerja nya.


Tak lama, Bi Arin datang untuk membersihkan piring kotor bekas tuan nya makan.


"Bibi, Ica minta maaf. Gara-gara Ica ceroboh, Bibi yang kena marah."


"Gapapa Non, gak usah minta maaf." Ucap Bi Arin.


"Ini salah Ica, sekali lagi Ica minta maaf sama Bibi."


"Iya iya Non gapapa." Jawab Bi Arin dengan senyuman khas nya, lesung pipi nya tercetak jelas di pipi kiri nya jika dia tersenyum.


"Ica mau ke mall sama Daddy, bibi mau apa? Sebagai permintaan maaf."

__ADS_1


"Gak usah Non, Bibi gak gak enak sama Tuan."


"Ica lebih ngerasa gak enak sama bibi, soalnya tadi itu kesalahan Ica Bi." Kekeuh Ica. Zen yang baru keluar dari ruang kerja melihat perdebatan kecil itu.


"Ada apa ini?" Tanya Zen membuat Bi Arin menunduk seketika.


"Ini Dad, Ica nanya sama Bibi mau nitip apa? Tadi bibi kan di marahin Daddy, padahal Bibi udah peringatin Ica buat hati-hati."


"Jangan menolak pemberian orang Bi, terima saja."


"T-tapi tuan.."


"Hanya sebuah barang takkan membuat saya miskin, terima saja apapun itu!" Tegas Zen membuat Bi Arin mau tak mau harus menerima apapun yang Ica belikan untuk nya.


"Nah gitu dong Bi, harus sama Daddy aja baru nurut." Celetuk Ica.


...


Ica menggelayut manja di lengan Zen, saat ini mereka tengah berada di mall. Mereka berjalan santai layaknya sepasang kekasih yang sedang kencan.


"Daddy ayo kesana, Ica mau itu.." Tunjuk Ica pada salah satu foodcourt yang menjual es krim.


Ica menarik-narik tangan Zen agar menuruti kemauan nya, dan ya Ica menang. Zen mengikuti nya ke foodcourt yang menjual es krim berbagai rasa.


"Coklat, stroberi, vanilla. Mau yang double choco juga Dad."


"Jangan banyak-banyak Baby, dua saja cukup."


"Daddy pelit."


"Bukan pelit sayang, nanti gigi mu sakit Baby."


"Isshh yaudah, mau rasa greentea sama coklat."


"Lho, tadi katanya mau yang.."


"Diamlah, jangan merusak mood ku Dad. Aku tak bisa makan banyak es krim kan?" Ketus Ica lengkap dengan ekspresi kesal nya.


"Baiklah sayang.." Zen pergi meninggalkan Ica yang duduk di salah satu kursi.


Terlihat antrian begitu panjang, membuat Zen mendengus sebal.

__ADS_1


"Permisi, aku malas mengantri. Bisakah kalian membuka jalan untuk ku?"


"Enak saja, ngantri dong.." Celetuk salah satu pria remaja yang terlihat cungkring tapi nyolot.


"Aku traktir kalian semua, tapi beri jalan untuk ku. Bisa?"


"Bisa tuan, silahkan.." Sorak semua orang dalam antrian, remaja itu terpaksa mengalah, uang dan kekuasaan adalah yang utama saat ini.


Zen tersenyum puas saat melihat tiga mangkuk es krim di tangan nya, dia juga tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengantri.


"Ini es krim nya Nona Nicholas."


"Terimakasih Daddy, tapi kok sebentar?"


"Aku punya uang sayang," Jawab Zen santai, membuat Ica mendengus.


Dia mulai menyendok es krim dan menyuapkan nya dengan lahap, kepala nya bergerak ke kanan, ke kiri, menandakan kalau es krim yang dia makan enak.


"Nyobain punya Daddy dong.." Pinta Ica dengan manja.


"Boleh sayang." Ica menyendok es krim milik Zen dan memakan nya.


"Cobain deh punya Ica," Gadis itu menyodorkan es krim milik nya ke depan Zen.


"Enakan punya Daddy."


"Iya, mau Dad. Tuker ya.." Rengek Ica, sudah di belikan dua mangkuk, ehh gadis nya malah meminta es krim milik nya.


"Boleh sayang, apapun untuk mu." Ica bersorak kegirangan, lalu mulai memakan es krim yang dia pinta dari Zen.


Ica menyelesaikan dua mangkuk es krim dengan cepat, dia bahkan tak menyadari kalau sudut bibir nya terdapat es krim yang meleber.


Zen yang melihat nya, tentu saja pria itu merasa gemas bukan main. Dengan cepat, pria itu menarik dagu gadis nya dan memakan habis es krim yang ada di ujung bibir gadis nya dengan ciuman mesra.


"Daddy, ihh malu di liat orang.." Gerutu Ica, tapi Zen tak peduli, bahkan sangat tidak peduli.


...


🌷🌷🌷


Tau tempat dan keadaan dong Dad🤣

__ADS_1



__ADS_2