Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 186


__ADS_3

Degg..


Hati Ica tiba-tiba saja terasa sakit mendengar ucapan sang kakak, dia lupa kalau akibat tusukan itu Meisya harus kehilangan rahim nya, secara otomatis dia takkan pernah bisa mempunyai anak.


"Kakak.."


"Iya Ca, kakak sudah tau semuanya. Rahim kakak gak ada lagi, kakak wanita yang tak sempurna." Jawab Meisya, dia tersenyum kecut. Akibat ulah ibunya, dia menjadi wanita yang tak bisa melahirkan keturunan, seberat itu kah hukuman atas kejahatan nya dahulu?


"Kakak jangan bicara seperti itu Kak, kakak bisa bermain dengan keponakan kakak, dia ada dua disini."


"Kamu hamil anak kembar Ca?" Ica menganggukan kepalanya.


"Selamat ya Ca, pasti sangat membahagiakan ya bisa hamil anak kembar. Andai saja dulu kakak tak terpengaruh hasutan Ibu, mungkin kakak takkan mendapat karma seberat ini."


"Kakak gak boleh ngomong kayak gitu, jadikan ini semua sebagai pelajaran Kak, untuk menjadi lebih baik lagi. Jangan menyesali semuanya, kakak berhak bahagia juga." Ucap Ica, dia menggenggam tangan sang kakak dan mengusap lembut punggung tangannya.


"Bahagia Ca? Entahlah, kakak tak bisa membayangkan hal itu sekarang. Mengingat kakak wanita yang tak sempurna, apa masih ada yang menginginkan kakak? Mungkin tidak, semua laki-laki pasti akan mengharapkan keturunan dari pernikahan mereka."


"Tuhan pasti sudah menyiapkan hal yang terbaik untuk kakak, di balik ujian berat pasti ada kebahagiaan kak." Ucap Ica. Meisya hanya bisa menganggukan kepalanya dengan senyum yang di paksakan.


"Semoga aja ya Ca, kakak gak bisa berharap lebih sekarang."


"Ica minta maaf ya Kak, gara-gara Ica kakak jadi begini." Ucap Ica, dia merasa bersalah pada Meisya meski sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan nya.


"Kenapa minta maaf Ca? Kakak gapapa kok, gak usah merasa bersalah, kakak tau kedatangan Ibu itu bukan untuk tujuan yang baik. Makanya kakak langsung mendekat saat Ibu naik ke pelaminan, udah jangan nangis ya, ini sudah takdir kakak. Yang penting kamu baik-baik aja." Ucap Meisya, dia mengusap air mata Ica dengan jari nya.


"Ica merasa semua ini terjadi karena Ica, Kak."


"Enggak dong, jangan merasa seperti itu ya. Udah, jangan nangis. Nanti suamimu ngira, kakak jahatin kamu lagi." Celetuk Meisya, membuat Ica terkekeh.

__ADS_1


"Iya kak, suami Ica posesif bener."


"Itu tandanya dia cinta dan sayang sama kamu, Kamu bahagia sama tuan Zen kan? Kakak ikut bahagia kalau kamu bahagia."


"Iya kak, Ica bahagia banget sama Daddy. Ica harap, Kakak juga segera dapat laki-laki yang bisa menerima kakak apa adanya ya." Meisya mengangguk saja sebagai jawaban, dia mulai lelah bicara.


.....


Di belahan bumi lain, sedang terjadi huru-hara. Tepatnya di apartemen Bimo, dimana pria itu sedang melakukan pertarungan panas bersama sang kekasih. Setelah sempat terganggu tadi pagi, Bimo melanjutkan acara menunggangi kuda nya. Tak tanggung-tanggung, dia menyerang Hani di dapur.


"Aaahhh.." Hani mendesaah tertahan saat pria itu menghujam inti nya dari belakang dengan tempo yang cepat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, tapi dia tak peduli dan terus melakukan nya. Hani berdiri setengah berjongkok dengan kedua tangan nya yang memegang sisi meja kompor, dia berpegangan saat Bimo terus menggoyang nya dari belakang.


"Sayang.."


"Ya Honey, kenapa sayang? Sakit?" Tanya Bimo dengan suara beratnya, dia sangat bernafssu saat ini, hingga melupakan kalau Hani sedang mengandung buah hati mereka.


"Enak sayang, tapi jangan terlalu cepat." Pinta Hani, Bimo mengangguk dan memperlambat gerakan nya.


"Tak apa, bergerak lagi." Pinta Hani lagi saat Bimo berhenti bergerak dan mengusap lembut perutnya.


"Sesuai permintaan mu sayang." Jawab Bimo. Dia kembali memacu pinggul nya bergerak maju mundur, mengeluar masukkan benda keras ke dalam lubang hangat nan nikmat.


Bimo melepas penyatuan dan membalik tubuh Hani menjadi berhadapan dengan nya, dia mengangkat sebelah kaki Hani dan menahan nya dengan sebelah tangan. Hani menahan tubuhnya kedua tangan di samping tubuhnya, posisi ini merupakan favorit nya sebelum hamil, dia menyukainya karena senjata Bimo terasa menyodok lubang nya lebih dalam, membuatnya selalu berteriak nikmat dalam posisi ini, tapi entah bagaimana rasanya melakukan penyatuan dengan gaya ini.


Bimo kembali memulai penyatuan, ternyata rasanya masih sama, nikmat dan membuat kedua mata nya terpejam menikmati perbuatan Bimo di tubuhnya.


"Kalau sakit bilang, Sayang." Hani menjawabnya dengan anggukan, dia tak bisa bicara, hanya lenguhann atau desaahan yang keluar dari mulutnya.


Cukup lama penyatuan dengan sebelah kaki itu, Bimo memangku Hani dan membawanya ke ruang tengah, tepatnya di sofa. Pria itu duduk dengan Hani yang masih berada di pangkuan nya, secara langsung dia meminta Hani yang memimpin permainan.

__ADS_1


"Goyang, sayang." Pinta Bimo, Hani segera menuruti keinginan nya dan dia bergerak naik turun dengan perlahan. Dia akui, tubuhnya cukup lemas, dia sudah beberapa kali mencapai klim*ks tapi pria itu masih belum apa-apa.


Bimo mengerang pelan, dia juga menekan pinggang Hani. Pria itu mendongak dengan mata yang tertutup, dia meraih pelepasan nya untuk yang pertama di ronde kedua setelah ronde pertama baru juga masuk sudah di cabut lagi karena suara telpon mengganggu permainan.


Bimo menarik Hani dan memeluk tubuh polos perempuan hamil itu, keduanya berpelukan untuk sesaat dengan senjata pria itu yang masih tertancap di lubang hangat milik Hani.


"Nikmat sekali sayang."


"Kamu masih gak berubah." Ucap Hani, dia mengusap lembut pipi sang pria lalu mengecup nya mesra.


"Apanya sayang?"


"Senjata kamu selalu bisa buat aku merem melek keenakan, tahan lama juga, gede lagi." Puji Hani, membuat pria itu tersenyum nakal.


"Tentu saja, milikku memang besar dan tahan lama." Bangga Bimo, membuat Hani terkekeh karena di setuju dengan ucapan sang pria.


"Aasshhh..."


"Kenapa Honey?" Tanya Bimo panik saat mendengar Hani meringis.


"Dia bangun lagi sayang." Jawab Hani dengan senyuman nakal nya, dia memainkan jari nya di dada Bimo, membuat pria itu kembali bergairah.


"Ronde ketiga, sayang?" Hani dengan senang hati mengiyakan, Bimo bangkit dan membawa Hani di pangkuan nya ke kamar, mereka memulai ronde ketiga. Apa bisa di bilang ronde ketiga? Yang pertama tadi kan gak selesai, terserah lah anggap saja ronde ketiga .


.....


🌷🌷🌷🌷🌷


Hari senin, jangan lupa vote!πŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1



__ADS_2