Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 93


__ADS_3

Setelah beberapa jam menunggu, seorang suster keluar dari ruangan tempat Ica di rawat, Zen langsung berjalan mendekat.


"Bagaimana keadaan kekasih saya, Sus?"


"Nona baik-baik saja tuan, tapi belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius." Zen menghela nafas lega. Tadi dia sudah ketakutan setengah mati kalau Ica kenapa-napa.


"Kenapa di bius padahal tadi Ica sudah tak sadarkan diri?" Tanya Zen polos, seolah dia tak tau apa-apa, padahal kan walau tak sadarkan diri, bukan berarti mati yang tak bisa merasakan sakit kan?


"Luka Nona harus di jahit tuan karena luka nya dalam." Zen ber oh ria, membuat Bimo menahan tawa nya.


Biasa nya Zen cerdas dan bisa berfikir logis, tapi sekarang pria itu seolah melupakan segala nya karena saking bucin nya pada Ica.


"Kenapa kau hmm? Ada yang lucu?" Tanya Zen datar saat melihat Bimo yang mesam mesem.


"Maaf tuan."


"Kalian pulang saja, besok bisa kemari lagi."


"Aku disini saja." Jawab Azwar, membuat Zen memutar mata nya jengah.


"Aku bilang pulang ya pulang sana, aku yang akan menjaga Ica ku."


"Menjaga apa nya? Buktinya Ica bisa terluka." Cetus Azwar, membuat Zen kesal tapi buru-buru Bimo mengeluarkan suara nya.


"Bisa kah anda jangan memancing emosi tuan muda? Berhenti saling menyalahkan, ini bukan 100 persen kesalahan tuan muda, ada kala nya kita lengah dan itu di jadikan kesempatan orang yang memiliki niat jahat, seperti Rosa."


"Jadi, sebaiknya anda pulang saja. Besok datang lah kemari, kau sendiri sudah tau Nona muda ada disini, jadi tinggal datang saja." Ucap Bimo, membuat Azwar kalah telak dan memutuskan untuk pulang.


"Kalian juga pulang, gak baik anak gadis pulang malem." Cetus Zen, dia tau pria yang di sebelah Risya itu Brian, pria berambut biru yang waktu itu mengantar gadis nya pulang.


"Baik calon mertua."


"Siapa yang kau panggil calon mertua hah? Aku tak mau punya menantu berambut gulali."


"Gak usah galak-galak kali Camer, nanti cepet tua."


"Hehh, awas kau ya!"


"Kabur Sya, kabur. Aku gak mau mati muda." Ucap Brian saat melihat Zen sedang membuka sepatu nya dan bersiap melempar nya ke arah Brian, beruntung saja pria itu keburu lari bersama Risya.


"Menyebalkan, memang nya aku terlihat tua? Rasanya tidak, hanya dewasa saja."


"Kalau begitu, saya permisi pulang dulu tuan. Besok saya kesini lagi."


"Pulang saja, bawain baju ganti jangan lupa."


"Baik tuan, selamat malam." Zen hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu masuk ke dalam ruangan Ica.


Zen tersenyum getir saat melihat gadis nya tengah tertidur, kepala nya di perban karena di pukul Rosa memakai kayu hingga membuat kepala Ica berdarah kemarin, kedua pipi nya lebam, tangan nya juga di lilit perban.

__ADS_1


"Baby, ini Daddy sayang. Daddy yang tak bisa menjaga mu dengan baik, bahkan setelah Daddy mengerahkan anak buah Daddy untuk menjaga mu, kamu tetap terluka." Ucap Zen sambil menggenggam tangan Gadis nya, mengecup nya dengan lembut.


"Daddy gak salah kok, Ica begini juga bukan kemauan Daddy. Berhenti menyalahkan diri sendiri, Dad. Ica baik-baik saja." Zen mendongak, dia menyangka gadis nya belum sadar, tapi ternyata gadis nya sudah bangun dan tengah tersenyum manis ke arah nya.


"Baby, kamu sudah bangun sayang? Mana yang sakit?" Tanya Zen.


"Hanya pusing dan ngilu disini Dad." Ica menunjuk lengan nya yang tertutup perban.


"Maaf sayang, Daddy lalai menjaga mu. Sekali lagi maaf, By. Daddy menyesal mengizinkan mu pergi hari itu."


"Sudahlah Dad, jangan menyesali semua yang sudah terjadi." Ucap Ica, membuat Zen tak tahan, tangis nya meledak. Dia merasa gagal menjaga gadis yang begitu dia cintai.


"Tak perlu menangis Daddy tampan ku, aku baik-baik saja, bahkan bisa melayani mu sekarang juga."


"Tidak By, tidak. Daddy takkan pernah meminta jatah sebelum kamu sembuh sepenuhnya."


"Kalau begitu jangan cengeng dong, Daddy jelek kalau nangis. Sini nangis nya disini." Ica merentangkan sebelah tangan nya, meminta Zen memeluk nya.


"Apa takkan sakit sayang?" Gadis nya menggeleng dengan senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah nya, membuat Zen segera menghambur memeluk tubuh gadis nya dengan erat.


"Baby.."


"Iya Dad, kenapa?"


"Dimana saja mereka menyentuh mu sayang?"


"Bukan nya Daddy bisa lihat sendiri?" Tanya Ica.


"Pipi kanan kiri, terus ini sama ini Dad." Jawab Ica sambil menunjuk tempat mereka menyentuh nya.


Zen menatap gadis nya dengan sendu, tangan nya terkepal di balik pinggang gadis nya.


"Aku akan membalas mereka dengan rasa sakit yang berkali lipat!" Batin Zen bicara.


"Jangan melamun Dad, Ica capek, lemes juga. Tidur yuk?"


"Daddy tidur di sofa ya By?"


"Gak boleh, Daddy harus tidur disini sama Ica."


"Baiklah sayang, ayo tidur." Zen membenarkan posisi nya, meletakan kepala gadis itu di dada bidang nya.


"Tidurlah sayang, selamat malam. Aku mencintai mu By, sangat."


"Ica juga cinta sama Daddy."


"Nanti, kalau kamu sudah sembuh kita jalan-jalan ya sayang? Mau?"


"Mau Dad, mau banget." Jawab Ica dengan antusias.

__ADS_1


"Makanya, kamu harus cepet sembuh ya sayang."


"Iya Daddy." Ica menduselkan wajah nya di dada bidang Sang Daddy, merasakan kehangatan yang begitu dia rindukan kemarin. Beruntung saja Zen benar-benar datang dan menemukannya tepat waktu.


...


Di apartemen, Hani baru saja selesai memasak untuk makan malam. Meski pria itu belum mengabari pulang atau tidak, tapi dia sangat berharap kalau Bimo pulang, aneh saja dia tiba-tiba merasa rindu pada pria berlesung pipi itu.


Hani berjingkat kaget saat merasakan sepasang tangan besar meraup pinggang nya dari belakang dengan mesra nya.


"Menu makan malam hari ini apa, Honey?" Bisik Bimo tepat di telinga Hani, membuat gadis itu meremang.


"Kau bisa melihat nya sendiri, hanya ini yang ada di kulkas." Jawab Hani pelan, wajah nya memerah. Setelah beberapa kali penyatuan dan tinggal bersama, Hani merasa pria itu terus bertambah tampan, bahkan hanya menatap nya saja, mampu membuat pipi nya memerah seperti saat ini. Posisi nya begitu dekat, bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas hangat pria itu menyapu ceruk leher nya.


"Besok sore kita belanja ya, bagaimana?"


"Bo-leh, sekalian beli buah ya."


"Tentu, apapun untuk mu." Jawab Bimo, tangan nya nakal merayap ke atas hingga menggapai buah kenyal yang dia rindukan.


Hani tak bisa menahan, karena dia kalah cepat. Jadi dia memilih diam saja menikmati remasann lembut di buah kenyal nya.


"Aku lapar Honey.."


"Tinggal makan, aku udah masak. Ya meski seadanya." Jawab Hani, dia hanya memasak tumis sayur yang di campur udang, ayam goreng lengkuas dan telur ceplok.


"Aku ingin makan yang lain."


"A-apa?"


"Kamu, sudah selesai datang bulan kan?" Tanya Bimo dengan suara berat nya, seminggu sudah dia tak bertamu ke sarang nya.


"Su-sudah, tapi aku gak ada persiapan. Bahkan aku belum mandi." Jawab Hani.


"Tak masalah, kalau pun mandi, kita pasti berkeringat lagi." Bisik Bimo, lalu membawa Hani dalam gendongan nya secara tiba-tiba, membuat Hani memekik karena terkejut.


"Itu makanan nya belum di tutup, nanti di makan kucing."


"Tak ada kucing disini Honey." Bimo mengecup singkat bibir gadis nya, hingga membuat gadis itu bungkam seketika, dia mengalungkan tangan nya di leher kokoh Bimo saat pria itu mulai menaiki tangga.


Malam ini dia akan menuntaskan hasratt yang sudah seminggu ini tak tersalurkan.


....


🌷🌷🌷🌷


Dapet jatah lagi Bimo nya🤭


__ADS_1


senyum nya manis banget bang😪


Kalo agak garing maaf ya, lupa rendem otak semalem🤭


__ADS_2