
Sintia berdiri di depan meja kompor, sesekali tangan nya mengaduk mie di dalam panci yang sedang mendidih. Azwar keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang, lengkap dengan rambut basah nya.
Pria itu sengaja berdiri di belakang Sintia, dengan iseng Azwar meraba pantatt Sintia, membuat perempuan itu terlonjak kaget dan itu suatu kesenangan yang sederhana bagi Azwar.
"Jahil nya kamu gak hilang ya dari dulu." Ketus Sintia.
"Ya maaf sayang, habis nya aku bahagia kita rujuk." Jawab Azwar, kali ini pria itu memeluk Sintia dari belakang dengan mesra.
"Kamu dingin."
"Makanya habis bercintaa itu mandi, bukan cuma di lap doang." Ucap Azwar usil.
"Dingin, gapapa kan ya kalo gak mandi?"
"Ya gapapa sih, aku terserah kamu. Soalnya kamu gak pernah berubah, aroma nya juga."
"Maksudnya?" .
"Aroma tubuh mu masih seperti dulu, membuat nyaman dan menyegarkan." Jawab Azwar.
"Heem, aku rasa tubuh ku dari dulu aroma nya memang seperti ini, hanya saja beda nya aku sudah dua kali di jamah pria yang bukan suami ku."
"Memang nya kenapa? Aku yang akan bertanggung jawab sayang."
"Tapi aku bekas, Azwar!"
"Gak ada yang nama nya bekas, Sintia. Kita bisa saling memperbaiki diri setelah menikah nanti, tak usah khawatir."
Sintia menunduk, ternyata Azwar tak banyak berubah. Sikap dan sifat nya, hanya sekarang pria itu terlihat lebih tampan dan tubuh nya lebih atletis di bandingkan 5 tahun lalu.
"Yang.." Rengek Azwar manja.
"Hmmm, kenapa?"
"Laper, masih lama?"
"Ini sebentar lagi, telor nya belom mateng nanti sakit perut." Ucap Sintia, dari dulu dia tau kalau Azwar paling tak suka makan telur setengah matang, dia akan sakit perut jika tak sengaja memakan nya.
"Makan kamu lagi, boleh?"
"Nggak ahh, ini aja masih ngilu kamu main nya lama."
"Ya habis nya enak sayang." Jawab Azwar.
"Udah, ini udah matang mie nya. Makan sekarang ya? Kamu pake baju dulu, aku pindahin dulu mie nya ke mangkok."
"Oke sayang." Azwar mencuri ciuman di pipi kanan Sintia, lalu berjalan cepat ke arah kamar, tempat pakaian nya tadi dia lempar sembarangan, mungkin sekarang sudah kusut.
"Yangg..." Pekik Azwar dari dalam kamar, membuat Sintia buru-buru mendatangi kamar nya.
"Apa sih?"
"Jangan ketus-ketus dong sayang, ini baju aku udah kusut gini, minjem dong? Kamu kan paling suka pake kaos oversize."
Sintia hanya menggelengkan kepala nya, sifat jahil Azwar ternyata masih ada. Sintia membuka lemari pakaian nya, mencari kaos oversize yang kira nya cocok untuk Azwar.
Pilihan nya jatuh pada kaos berwarna hitam dengan motif abstrak, dia rasa motif itu lebih cocok dari pada gambar yang lain, dia perempuan yang suka kartun kucing lucu berwarna biru, mana mungkin dia meminta Azwar memakai nya kan? Lagi pula, Azwar pun takkan mau memakai nya.
"Ini, cepetan pakai keburu mie nya dingin, nanti bau amis."
Azwar hanya menganggukan kepala nya dan memakai kaos itu dengan cepat, lalu menyusul Sintia ke ruang tamu.
"Wangi yang.."
"Aroma mie instan memang paling enak, ayoo makan."
"Pedes gak?"
"Aku tambahin cabe tadi, coba aja dulu. Kalo kurang pedes, masih ada di belakang." Jawab Sintia, dia sibuk meniup mie di mangkok nya agar cepat dingin. Setelah di hajar oleh Azwar 2 jam, membuat nya cukup lapar. Padahal tadi dia nyemil kue di acara nikahan Ica.
__ADS_1
Mereka pun makan dengan tenang dan lahap, tak ada yang bicara, hanya sesekali suara seruputan yang terdengar.
Setelah selesai dengan acara makan mie instan malam-malam, Sintia dan Azwar memutuskan untuk tidur. Ya, Azwar benar-benar menginap di kontrakan Sintia.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Sintia, saat ini kedua nya sedang berbaring telentang menatap langit-langit kamar, beruntung ranjang nya cukup besar, muat untuk dua orang.
"Kamu mau berjuang bersama ku kan?" Tanya Azwar.
"Kalau aku tak mau, aku takkan mau melakukan itu." Jawab Sintia, perempuan itu tersenyum ke arah Azwar.
"Aku sangat mencintai mu Sintia, sangat."
"Aku juga, cinta ku padamu masih seperti dulu. Mungkin sekarang bertambah besar." Jawab Sintia, pria itu meraih Sintia ke dalam pelukan nya, menyandarkan kepala perempuan cantik itu di dada bidang nya, mengusap rambut panjang Sintia dengan lembut.
"Setelah kita menikah, aku ingin kamu berhenti bekerja dan fokus mengurus ku dan anak-anak kita nanti. Kamu mau?"
"Tentu saja aku mau, kenapa tidak?"
"Baiklah, aku hanya khawatir kamu tidak ingin mengakhiri pekerjaan mu di cafe itu." Ucap Azwar.
"Kalau suami ku yang meminta, aku bisa apa?"
"Ini yang aku suka dari mu Sintia, aku tak sabar ingin meminang mu menjadi istri ku. Satu-satunya wanita yang akan aku cintai seumur hidup."
"Besok kamu bekerja?" Tanya Sintia.
"Masih libur, karena Tuan Zen meliburkan. Memang nya kenapa?"
"Bisa menemani aku seharian kan?"
"Tentu saja, besok aku milik mu. Sekarang kamu tidur ya? Besok kita jalan-jalan cari udara segar, mau?"
"Ihhh mau banget,"
"Tapi motor nya butut? Nanti kalau aku dapet bonus, aku beli motor yang lebih layak ya."
"Baiklah, terserah kamu saja sayang. Tidur yuk? Aku akan memeluk mu semalaman." Sintia menganggukan kepala nya dan mereka pun tertidur lelap dengan saling memeluk berbalutkan selimut tebal, karena hari cukup sejuk karena baru saja turun hujan. Entahlah kota ini lebih sering hujan belakangan ini.
....
Di rumah Risya, Brian sedang bermanja di pangkuan kekasih nya itu, sesekali tangan nya begitu nakal meraih buah kenyal gadis nya, mungkin gemas atau memang doyan.
"Bobok yuk? Ngantuk.." Ajak Risya.
"Gak main dulu? Pengen nih.."
"Besok aja, aku capek." Tolak Risya membuat Brian lemas seketika.
"Udah, gak usah cemberut gitu juga kali. Besok pagi sebelum berangkat kuliah kan bisa?" Bujuk Risya, biasa nya Brian akan bad mood jika tidur tanpa bermain kuda-kudaan dulu.
"Yaudah iya sayang ku," Brian bangkit dari rebahan nya dan berjalan malas menuju kamar di lantai atas.
"Yang.." Panggil Risya, membuat Brian berbalik. Dia melihat Risya merentangkan tangan nya, tentu nya Brian tau kalau kekasih nya itu meinta di gendong.
"Huhh kalau aja aku gak sayang sama kamu, udah aku lempar kamu dari balkon."
"Ihh sadis amat, yaudah aku jalan aja." Ketus Risya.
"Ya kan tadi aku bilang kalo gak sayang, tapi ini kan aku sayang banget sama kamu, jadi aku mau gendong kamu. Yukk naik." Brian berjongkok di depan Risya dan dengan senang hati gadis itu naik ke atas punggung Brian.
Risya tersenyum manis, sesekali dia memberikan kecupan mesra di pipi Brian, membuat Brian semangat berjalan meniti satu persatu anak tangga.
.....
Pagi hari nya, Ica terbangun dengan Zen yang terus memeluk tubuh nya seperti guling. Mungkin kalau sedang tidur Zen lupa kalau dia sedang hamil.
"Gak nyadar apa ini kaki berat banget.." Keluh Ica, dia bersusah payah menyingkirkan kaki Zen dari paha nya. Kebiasaan Zen jika tidur, dia selalu memeluk Ica seperti guling, tak peduli bagaimana posisi tidur mereka di awal, tapi akhirnya pasti begitu.
__ADS_1
"Eeemmm.. Bby.."
"Ya Daddy."
"Sudah bangun istri ku?" Tanya Zen serak, dia bangkit dari rebahan nya lalu kembali memeluk Ica.
"Sudah dong Dad.." Jawab Ica, dia mengusap lembut tangan suami nya yang melingkar di perut nya.
"Dingin ya Bby.."
"Iya Dad, semaleman hujan kayaknya. Kenapa?"
"Kalau aja gak inget kamu lagi hamil, aku pasti akan kembali menikmati tubuh mu."
"Ihhh mesuum mulu, udah ahh Ica mau cuci muka dulu. Terus pulang kan ya?"
"Iya Bby, tapi Daddy lemes banget ini. Pusing, mual." Jawab Zen, memang pagi ini pria itu terlihat agak pucat.
"Masuk angin kali, Dad.."
"Mungkin bisa jadi, tolong dong Bby beliin minyak kayu putih,"
"Ica masih di infus harus ke minimarket gitu, Dad?" Tanya Ica.
"Ada anak buah Daddy yang jaga di luar, suruh saja mereka." Zen kembali berbaring di ranjang, menyelimuti dirinya sendiri hingga kepala.
Ica membuka pintu, dia melihat 3 orang sedang berdiri tegap di sisi kanan dan kiri pintu.
"Eemm, selamat pagi.." Sapa Ica membuat ketiga nya kompak menatap Ica.
"Pagi Nyonya muda."
"Aaa panggil saja aku Ica,"
"Maaf, tapi ini perintah tuan muda." Jawab mereka, kompak.
"Huhh terserah lah kalian mau panggil aku apa, minta tolong boleh?"
"Boleh Nyonya."
"Beliin minyak kayu putih ya, yang besar."
"Baik Nyonya, saya yang akan membelikan nya." Ucap salah satu pria itu, lalu membungkukan setengah badan nya ke arah Ica dan pergi dengan terburu-buru.
Setelah menyuruh membeli minyak kayu putih, Ica pun masuk kembali ke dalam ruangan inap nya, tapi dia heran kemana Zen pergi? Suami nya itu tak ada di ranjang.
"Daddy.." Panggil Ica, dia membuka pintu kamar mandi, karena dari sana terdengar suara air mengalir dan suara seperti orang yang sedang muntah-muntah, meski sayup.
Ica melotot saat melihat Zen sedang muntah-muntah di wastafel, perempuan itu segera memijat tengkuk Zen.
"Sayang, kamu kenapa sihh?"
"Pusing banget Bby.."
"Duhh kok jadi kamu yang sakit sihh?" Ica membopong tubuh tegap Zen kembali ke ranjang, membaringkan pria itu menyelimuti nya.
"Ica panggil dokter dulu ya, Sayang? Sebentar.."
"Nggak, Daddy gapapa kok. Hanya masuk angin biasa." Jawab Zen, tak tau saja kalau sosok Azzendra, pengusaha terkenal dan paling berpengaruh dalam dunia bisnis itu takut jarum suntik, plus takut naik wahana.
Ica menurut dan hanya mengusap rambut Zen, sesekali mengecupi wajah suami nya dengan mesra, maklum lah pengantin baru tapi keburu kadaluarsa sih.
.....
🌷🌷🌷🌷
Ohh iya ada yang punya apk F*zzo? author juga nulis di sana, Judulnya One Night Stand With Secretary, mampir juga gratiss no koin!🔥 disana hot tanpa sensor, di jamin bikin kangen suami terus🤭
__ADS_1
permisi, bumil mo lewat🤭💜