
"Naik itu yuk?" Ajak Brian pada salah satu wahana yang Ica sebut ombak banyu. Di sebut begitu karena cara nya beroperasi di putar oleh beberapa orang dan menimbulkan efek seperti sedang terombang ambing di air.
"Ihh ayoo.."
"By.." Panggil Zen lesu, rasa pusing setelah naik bianglala pun belum hilang sepenuh nya.
"Kenapa Dad?"
"Daddy angkat tangan, jangan ajak Daddy main begituan." Ucap Zen.
"Lho kenapa Dad? Kan seru."
"Kamu naik aja sama temen mu, Daddy tunggu disana ya."
"Ihh Daddy.." Rengek Ica.
"Daddy masih ingin hidup sayang, main nya sama temen kamu dulu ya?" Bujuk Zen, agak sulit memang membujuk gadis keras kepala sejenis Ica.
"Iya tapi kenapa Dad? Kan pasti ada alasan nya." Kekeuh Ica.
"Daddy agak takut ketinggian By." Jawab Zen akhirnya.
"H-ahh? Tapi Daddy kan biasa naik pesawat, kantor Daddy juga tinggi mencakar langit, kok bisa takut ketinggian?" Tanya Ica.
"Daddy gak tau, mungkin lebih tepat nya takut naik wahana By." Jelas Zen membuat Ica menggembungkan kedua pipi nya.
"Yaudah dehh, Ica gak naik itu aja. Mau nemenin ayang disini." Ucap Ica akhirnya, membuat Zen tersenyum penuh kebahagiaan.
"Kita juga enggak kalo Lo gak naik, jajan aja kalo gitu? Gimana? Setidak nya itu gak bakal bikin trauma." Usul Brian.
"Setuju." Sorak kedua gadis itu dengan penuh kemenangan, itu adalah zona nyaman nya.
"Aku yang traktir, ayoo.." Ajak Zen, membuat kedua orang itu bersemangat karena dapat makan gratis.
"Yeeee..." Mereka kembali bersorak kegirangan.
"Spot pertama?" Tanya Risya.
"Itu yang di bakar kayak nya enak, beli itu yuk?" Ajak Ica ke salah satu stand yang menjual sosis bakar jumbo.
"Bang 4 ya, pedes.." Ica memesan langsung.
"4 buat siapa aja Ca?" Tanya Risya, dia lupa seperti nya, kalau sahabat nya itu takkan puas kalau hanya makan satu.
"Gue sama Daddy dong, gue 3 Daddy mah satu aja. Dia hemat, soalnya salah sasaran neraktir kita."
"Ohh gitu, gue dua ya.."
"Pesenin buat gue 2 juga ya, Sya." Celetuk Brian, membuat Risya memberengut, total mereka memesan 8 buah sosis berukuran super jumbo.
Ica tersenyum jahil, saat melihat wajah pucat Daddy nya.
"Dad.." Lirih Ica, membuat Zen menoleh.
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Itu, mirip punya Daddy. Tapi kayaknya punya Daddy lebih gede." Bisik Ica, takut saja kalau kedua teman nya itu mendengar kata-kata nya yang tanpa saringan.
"Punya Daddy super jumbo sayang, jangan lupa tahan lama dan berurat." Balas Zen berbisik juga, kedua nya kompak cengengesan membuat kaum jomblo akut saling melempar pandangan heran dengan tingkah sepasang kekasih itu.
Zen memangku gadis nya duduk karena kebetulan kursi yang tersedia hanya 3 pcs, membuat Ica mau tak mau harus duduk di pangkuan Zen. Lagi-lagi membuat kedua jomblo itu baper parah.
Sosis pesanan mereka pun siap, Ica memakan nya dengan lahap, ini sudah waktu nya makan malam, jadi dia begitu menikmati makan malam nya, begitu juga dengan ketiga orang lain nya.
"Belom kenyang.." Keluh Ica sambil mengelus perut nya.
"Lu makan 3 Ca? Nyebut, gue aja makan dua kenyang banget." Ucap Brian.
"Ya gapapa sih, emang nya kenapa? Daddy aja gak marah."
"Yodah, yang bucin selalu menang." Gumam Brian.
"Mau apa lagi By?" Tawar Zen, yang masih setia memangku gadis nya.
"Gak ada seblak ya disini?"
"Kata siapa? Ada noh disana."
"Kok Lu tau?" Tanya Ica dan Risya barengan.
"Kan gue udah kesini kemaren, nganter adek beli aromanis."
"Punya adek Lo?"
"Punya, cowok." Jawab Brian datar.
Zen menggelengkan kepala nya saat melihat Ica begitu lahap memakan makanan berkuah merah nan pedas itu.
"Pelan-pelan sayang, ampun dah ini anak, makan sampe belepotan gini." Zen mengusap sudut bibir gadis nya dengan tissu.
Kalau saja Brian belum merelakan Ica, pasti dia sudah kebakaran jenggot, tapi karena dia sudah mengikhlaskan Ica, jadi dia bersikap tenang, setenang air mengalir.
Selesai dengan seblak, Ica merengek ingin minum yang seger, dan pilihan nya jatuh pada minuman boba.
Zen dengan senang hati membelikan nya, juga dengan kedua teman nya.
Hingga di ujung saat mereka akan keluar, Ica bersorak kegirangan saat melihat anak ayam yang berwarna-warni.
"Daddy, lihat dehh lucu.."
"Gak ahh, kamu lebih lucu By."
"Iya deh terserahh orang bucin aja." Gerutu Brian sambil memalingkan wajah nya.
Tak sengaja, tatapan mata nya melihat seorang anak kecil yang tengah menangis kejer dan menunjuk ke arah dagangan anak ayam itu.
"Daddy, kita beli ya?"
"Buat apa By? Itu cuma anak ayam biasa yang di kasih cat."
"Ahh masa? Tapi lucu Dad, beliin ya?"
__ADS_1
"Nanti mati By, kalau pun hidup dan gede, warna nya bakalan ilang." Ucap Zen memberi penjelasan, dia bukan nya tak ada uang untuk membeli ayam warna warni itu, tapi untuk apa? Itu kan cuma anak ayam biasa.
"Daddy.." Rengek Ica.
"Ampunn, iya beli sayang beli." Zen merogoh dompet nya.
"Semua ya Dad?"
"Terserah kamu saja." Sahut Zen, Ica kegirangan. Dia memanggil anak yang sedari tadi menangis dengan isyarat tangan nya, menyuruh nya mendekat.
"Mau ayam warna warni? Ambil aja, kakak kasih." Tawar Ica, anak itu tersenyum kesenangan dan mengambil 4 ekor anak ayam berbeda warna.
"Terimakasih kakak cantik."
"Sama-sama anak ganteng, ada temen nya yang lain? Kali aja ada yang mau ayam lagi."
"Ada kak, tunggu sebentar." Anak itu pergi menjauh dan ayam yang dia pilih sedang di masukan ke dalam sangkar.
Tak lama, anak kecil itu membawa dua orang teman nya mendekat.
"Mau anak ayam pelangi? Ambil aja ya." Anak-anak itu pun mengambil masing-masing 4 ekor, Zen tertegun sejenak. Dia menyangka gadis nya membeli hanya untuk nya sendiri, tapi ternyata dia memberikan nya pada anak-anak juga. Dia tersenyum simpul, begitu bangga dengan sifat ramah gadis nya.
"Berapa total nya pak?" Tanya Zen.
"220 ribu pak." Jawab penjual anak ayam pelangi itu.
Zen memberikan 3 lembar uang merah, dan bilang tak usah memberikan kembalian.
"Sudah By? Atau ada yang lain?" Tanya Zen.
"Pulang aja Dad." Jawab Ica, tak lupa dia juga memberikan anak ayam pelangi itu pada Risya yang sedari tadi juga ikut gemas melihat anak ayam berwarna warni itu.
"Yaudah, kita pisah ya. Besok ketemu lagi di kampus." Ucap Risya, mereka pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing.
Zen menemani gadis nya tidur, memeluk nya agar cepat tidur, dan dalam hitungan menit saja gadis itu larut dalam tidur nya, melupakan anak ayam yang sedari tadi dia pandang.
"Gadis ku yang polos, buat apa beli ginian coba? Ampun."
Zen keluar dari kamar dan menutup pintu dengan perlahan dan masuk ke dalam ruang kerja.
Dia membuka ponsel dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana? Beres?"
"......"
"Bagus, besok aku ingin melihat nya ada di ruangan ku, dengan semua bukti yang memberatkan!"
Zen tersenyum smirk, dia tak sabar ingin memberikan hadiah yang takkan terlupakan.
....
🌷🌷🌷
Siapa? Pembunuh orang tua nya atau penghianat yang buat saham Daddy anjlok? atau dua-duanya? coba tebak🤣
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab, like sama komen, kalau berbaik hati ngasih hadiah atau vote pun author menerima dengan lapang dada🤣🤣😂🤭