Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Capter 10 : Kenangan


__ADS_3

Matahari sudah mulai turun, pertanda sudah sore hari. Benar saja, saat aku melihat jam dinding yang terpampang di ruang tamu rumah kakek, waktu sudah menunjukkan pukul 16.30.


Kakek terlihat sedang membaca buku yang sampulnya sudah terlihat tua sambil menikmati secangkir kopi di ruang tamu. "Secercah Cahaya Di Tengah Kegelapan" itulah judul yang tertulis di sampul depan buku yang sedang dibaca kakek. Terlihat ada gambar lilin yang sedang menyala walaupun agak redup. Kakek sepertinya sangat suka membaca. Mungkin ia bisa membaca satu buku hingga berkali-kali.


Sementara itu, Hana terlihat bersama nenek sedang asik menyirami bunga dan tanaman. Baju Hana terlihat sedikit basah terkena air yang seharusnya untuk menyirami tanaman.


Udara di sini terasa masih sangat segar. Pohon-pohon besar dan tua masih terlihat berjejer di samping kanan-kiri jalan di daerah ini. Suara kicauan burung masih terdengar jelas dari rumah kakek. Suara nyanyian yang memecah keheningan alam.


Usia nenek saat ini sekitar 62 tahun, sementara kakek tiga tahun lebih tua dari nenek. Sewaktu muda, kakek adalah seorang guru SD, sementara nenek adalah ibu rumah tangga biasa.


Aku lalu duduk di kursi goyang yang berada di teras. Untuk beberapa saat aku merasa seperti sudah menjadi kakek-kakek. Aku pun melamun sambil melihat pemandangan sekitar yang didominasi pepohonan. Lalu, aku berpikiran untuk jalan-jalan sekitar sini sebentar.


"Bu, aku jalan-jalan sebentar ya?" ucapku pada ibu yang sedang menyapu.


"Oiya tapi jangan lama-lama ya... Udah mau gelap soalnya," jawabnya sambil terus menyapu.


Lalu, aku pun pergi. Aku memakai hoodie untuk mengurangi hawa dingin. Aku juga mengarungkan kepalaku dengan tudung hoodieku.


Sambil memasukkan kedua tanganku pada kantong yang berada di area perut, aku terus melanjutkan perjalanan. Jarak antar rumah di sini masih agak longgar, tidak serapat seperti di daerah rumahku. Pohon-pohon besar yang berjejer di kanan-kiri jalan sedikit menghalangi cahaya matahari yang kini sudah mulai berwarna oranye.


Aku masih ingat dulu waktu kecil, ayahku sering mengajakku berjalan-jalan di sore hari. Terkadang ayah menggendongku di atas bahunya yang kuat. Rasanya, baru kemaren aku melihat ayah tersenyum.


***


Langit yang tadinya bewarna oranye, kini perlahan sudah menjadi gelap. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala, begitupun dengan lampu-lampu rumah. Jalanan yang tadinya cukup ramai, kini mulai sepi. Sepertinya, setiap orang sudah berada di rumah mereka masing-masing untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas.


Waktu dimana kamu mengucapkan "sampai jumpa" dan kemudian berpisah dengan teman-temanmu setelah bermain bersama. Aroma masakan makan malam. Orang-orang baik yang sedang menunggu di rumah. Nyala lampu rumah. Itulah gambaranku tentang senja saat aku masih kecil dulu.


Karena sudah semakin gelap, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah kakek.


***

__ADS_1


"Aku pulang," ucapku sambil membuka pintu depan. Sesaat setelah masuk, aku langsung mencium aroma masakan malam.


"Selamat datang kak," ucap Hana yang kini berada di samping kakek yang terlihat masih membaca buku yang tadi sore dibacanya.


"Dari mana kamu Lang?" tanya kakek yang kini menutup bukunya.


"Habis jalan-jalan kek di sekitar sini," jawabku.


"Ohhh, yasudah cuci tangan dan kakimu dulu sana... Sebentar lagi makan malam," tambahnya.


Aku pun melakukan apa yang kakek katakan. Setelah itu, kami berlima duduk di meja makan. Menu makan malam kali ini adalah tahu tempe goreng dan sayur bening. Rasanya menyenangkan, makan bersama orang-orang baik yang menyayangimu.


Tak banyak obrolan yang terjadi saat makan malam. Setelah selesai makan, aku membantu ibuku untuk membereskan meja makan sekalian membantu mencuci piring.


"Bu dulu waktu ibu SMA ibu ikut ekstrakulikuler apa?" tanyaku yang tiba-tiba teringat angket ekstrakulikuler.


"Eh kenapa memangnya?" ibuku balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku.


"Aku dapat angket ekstrakulikuler kemaren Jumat, aku bingung mau ikut ekstrakulikuler apa."


"Jadi, dulu ibu waktu SMA ikut ekstrakulikuler apa?" tanyaku lagi.


"Dulu ibu ikut ekstrakulikuler melukis," jawab ibuku yang kali ini menjawab pertanyaanku.


"Oh begitu... Kalau ayah, ibu tau?"


"Wah enggak Lang, ayahmu kan waktu SMA masih berada di seberang pulau sana, jadi ibu enggak tau deh."


"Begitu ya," jawabku sambil meneruskan mencuci piring.


***

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Aku memandangi langit dari balkon lantai dua. Terlihat langit begitu cerah hari ini. Bintang-bintang terlihat bertebaran dengan sangat jelas.


"Satu, dua, tiga, empat, lima,...," aku mencoba untuk menghitung bintang yang ku lihat tetapi selalu gagal saat memasuki puluhan. Aku kehilangan jejak bintang mana yang sudah ku hitung dan mana yang belum.


Malam ini bulan terlihat berbentuk sabit. Waktu kecil, aku berpikir bahwa bulan dan matahari tidak berteman baik karena mereka tidak pernah terlihat bersama. Matahari selalu muncul di siang hari, sementara bulan selalu muncul ketika matahari baru saja menghilang.


Dulu waktu kecil, aku juga berpikir bahwa gempa bumi disebabkan oleh raksasa yang sedang berjalan menuruni gunung.


Jika diingat-ingat lagi aku banyak berpikiran aneh ketika aku masih kecil dulu. Aku pun tersenyum sendiri kala mengingat-ingat hal-hal itu.


Setelah puas memandangi langit, aku pun kembali ke kamar. Kalau menginap di rumah kakek, aku pasti tidur bersama Hana dalam satu kamar.


Saat aku masuk, Hana terlihat sudah tertidur pulas. Aku pun memandangi wajahnya yang terlihat sangat pulas. Aku memandangi wajah Hana untuk beberapa saat. Raut wajahnya sekilas terlihat mirip ayah.


***


Rencananya kami akan pulang ke rumah sekitar pukul 09.00 pagi. Kami pun mulai berkemas-kemas setelah bangun. Udara pagi di sini sangatlah dingin. Meskipun begitu, kakek dan nenek terlihat sudah terbiasa dengan dinginnya udara di sini. Mereka tampak tidak mengeluhkannya.


Setelah selesai berkemas-kemas, kami pun mandi bergantian. Hana terlihat sangat kedinginan sesaat setelah keluar dari kamar mandi. Sekarang giliranku untuk mandi.


Benar saja, aku seperti menyentuh es ketika menyentuh air di bak mandi. Sepertinya aku akan membeku, jika sampai mengguyurkan air di bak ini ke tubuhku. Akan tetapi, aku tetap harus mandi. Aku pelan-pelan mengguyurkan air ke tubuhku. Percuma saja, rasanya tetap sangat dingin. Akhirnya aku putuskan untuk langsung mengguyur badanku saja seperti saat mandi biasa. "Lebih cepat lebih baik," begitu pikirku dalam hati.


Setelah selesai mandi, aku sudah ditunggu di meja makan. Aku pun datang paling akhir lalu duduk di sebelah Hana. Menu sarapan pagi ini adalah nasi putih dengan telur dadar ditambah kecap. Hangatnya nasi putih menjadi sangat nikmat dimakan waktu dingin seperti ini.


Setelah selesai sarapan, aku membantu ibuku membereskan meja makan dan sekalian membantu mencuci piring.


***


Akhirnya, tiba waktunya untuk berpamitan. Kami melambaikan tangan sebelum masuk mobil. Lalu, kami perlahan mulai meninggalkan halaman rumah kakek. Kali ini, Hana duduk di belakang bersamaku.


Dari samping aku, memperhatikan mata Hana yang sudah memerah seperti menahan air mata. Sepertinya ia merasa sedih meninggalkan kakek-nenek.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2