Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 117 : Setengah Pertandingan


__ADS_3

"Ya ampun, ya ampun. Baru saja pertandingan dimulai, tapi Taufik, sang striker terbaik seantero dunia langsung mencetak gol yang sangat hebat," timpal komentator 2.


"Haha kak Taufik, lihat sini dong haha," ucap komentator 1 lagi.


Gol dari kak Taufik tadi begitu membuat kami semua terkejut sekaligus kagum. Kami tidak menyangka bahwa kak Taufik akan mencetak gol secepat ini. Dia benar-benar terlihat begitu tajam saat ini.


"Gak papa, gak papa. Ayo kita fokus lagi. Masih ada waktu," ucap Aji sambil menepuk kan kedua tangannya untuk kembali membakar semangat kami.


"Ayooo semangat," timpal Ahsan dengan nada semangat.


Pertandingan pun kembali dilanjutkan. Kali ini buka kembali dimulai dari sisi kami. Baru saja bola kami kuasai, akan tetapi musuh bisa langsung merebut bola. Pola permainan mereka adalah pressing (menekan) tinggi. Pemain depan lawan akan langsung menekan kami yang sedang menguasai bola, sementara yang lain sudah mulai membayang-bayangi pemain yang sedang mencari ruang kosong. Bisa dibilang, level permainan kami sudah sangat jauh berbeda dengan mereka.


Cetasssss. Salah seorang pemain langsung menembak bola ke arah gawang kami. Beruntung, kali ini bola masih sedikit melebar. Bila saja bola tadi mengarah ke gawang, mungkin kami akan kembali kebobolan karena bola tendangan tadi sangatlah cepat.


Kami sungguh tidak bisa berbuat banyak saat ini. Setiap kali kami menguasai bola, mereka pasti langsung menekan hingga mereka kembali mendapatkan bolanya. Bila mereka yang sedang menguasai bola, kami bahkan tidak bisa mengikuti pergerakan mereka yang mengumpankan bola sangat cepat dari kaki ke kaki. Mirip tiki-taka milik Barcelona.


Kemanapun arah bola pergi, di situ pasti ada lawan. Di pertandingan kali ini, seperti tidak ada ruang atau celah kosong yang bisa kami manfaatkan untuk menerobos ke pertahanan lawan. Mereka bermain tanpa celah. Justru kami lah yang menjadi bulan-bulanan lawan.


Mereka dengan leluasa mengobrak-abrik pertahanan kami. Bahkan di pertandingan kali ini Renaldi yang biasanya terlihat tenang dan tidak terlihat selalu bertenaga, kali ni terlihat begitu tegang, dan terlihat sudah berkeringat banyak sekali. Pada dasarnya, kami semua tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti bagi kak Taufik dan teman-temannya. Perbedaan level kali terlihat begitu jauh.


Cit, cit, cit. Bunyi decitan sepatu yang beradu dengan lantai seolah terdengar seperti lantunan lagu yang sangat melelahkan. Entah kenapa, rasanya aku ingin sekali cepat-cepat mengakhiri babak pertama ini. Nafas ku sudah hampir habis.

__ADS_1


Baru di menit 6 babak pertama, aku pun meminta pergantian pemain. Aku masih belum bisa mengimbangi pergerakan lawan yang dengan cepat bergerak ke sana ke mari. Kali ini yang akan menggantikan ku adalah Tomi.


***


Priitttttt. Peluit tanda berakhirnya babak pertama akhirnya berbunyi. Skor sementara adalah 3-0 untuk keunggulan kak Taufik dan teman-temannya. Kak Taufik berhasil mencetak 2 gol di sepanjang babak pertama tadi sebelum keluar di menit-menit akhir pertandingan babak pertama tadi. Sepertinya kak Taufik ingin menyimpan tenaganya untuk pertandingan final nanti. Dengan kata lain, mereka sudah sangat yakin bisa mempertahankan keunggulan mereka saat ini meskipun tanpa kehadiran kak Taufik.


"Mereka mainnya kayak orang gila. Ga ada otak," keluh Ahsan sambil mencoba mengatur pernapasannya.


"Baru kali ini aku melawan lawan yang pada saat bertanding sudah tidak bisa membayangkan lagi bisa mengalahkannya," tambah Aji yang terlihat begitu kelelahan.


"Kau juga bodoh banget Ben. Bisa-bisanya kebobolan 3 gol seperti itu," ucap Ahsan.


"Gimana lagi, tendangannya kenceng banget. Aku bahkan sampe gak bisa bergerak," jawab Ruben.


"Menang atau pun kalah, kita harus menerimanya. Lagi pula kita sudah berjuang dengan semaksimal mungkin. Menang atau kalau itu urusan belakangan. Yang terpenting sekarang kita harus menikmati permainannya dan mencoba mengambil pelajaran dari pertandingan kali ini. Dan jika kita nanti benar-benar kalah, kita masih bisa memperebutkan juara 3. Jadi, nikmati saja yah haha," ucap Aji sambil tersenyum sedikit.


"Apa boleh buat, lagi pula memang sepertinya kita masih belum cukup kuat," ucap Renaldi tiba-tiba yang membuat semua orang disekitarnya langsung melirik ke arahnya. Jarang sekali melihat Renaldi mengucapkan kata-kata seperti itu.


"Hahahaha apa-apaan itu? Ternyata kau bisa ngomong juga yah? Aku kira kau tidak bisa ngomong karena selalu diam saja hahaha," canda Ahsan.


"Aku kira malah Renaldi ini selalu menahan BAB jadi selalu diam dan mukanya juga kelihatan tegang hahaha," canda Ruben.

__ADS_1


"Hahahahaha," kami semua tertawa kali ini.


Tanpa disengaja, suasana kini menjadi lebih baik lagi. Kami pun kini sudah tidak terlalu memikirkan menang atau kalah. Kami hanya perlu memberikan apa yang bisa kami lakukan kali ini.


Pritttt. Peluit tanda dimulainya babak kedua akhirnya dimulai. Pemain dari kedua tim pun kini sudah mulai memasuki lapangan. Dari sisi kami, yang akan mulai bermain adalah Ruben, Aji, Renaldi, Calvin, dan Tomi. Sementara itu, dari sisi musuh, seperti yang sudah aku duga sebelumnya, kak Taufik terlihat tidak bermain dari awal. Sepertinya memang kak Taufik sudah sangat yakin memenangkan pertandingan ini sekaligus untuk menyimpan staminanya untuk partai puncak setelah ini.


Bola kini dimulai dari sisi kami. Aji mengoper bolanya ke arah belakang menuju Renaldi. Kami mencoba untuk bisa mengontrol ritme permainan agar tidak terlalu cepat seperti pada saat babak pertama tadi yang mana membuat permainan dan pertahanan kami menjadi kacau dan menjadi mudah sekali dijebol.


Dengan tidak adanya kak Taufik di atas lapangan, pola permainan lawan terlihat menjadi sedikit pasif dan tidak melakukan pressing se ketat seperti saat kak Taufik bermain. Kami pun perlahan bisa memainkan ritme kami sendiri sekarang.


"Kita lihat, anak-anak dari kelas 10-7 terlihat seperti sudah bisa memainkan pola permainan mereka sendiri," ucap komentator 1.


"Yap benar sekali bung, setelah hampir sepanjang babak pertama tadi mereka dikurung oleh kelas 11 IPA 5. Namun sekarang mereka perlahan-lahan sudah bisa keluar dari tekanan," timpal komentator 2.


"Sepertinya tidak mainnya saudara Taufik cukup berpengaruh sekali yah terhadap permainan dari tim 11 IPA 5," ucap komentator 1.


"Yap lagi-lagi anda benar lagi bung. Kini kelas 11 IPA 5 seakan kehilangan satu kakinya. Iya kita lihat saudara Taufik malah terlihat senyum-senyum di arah sana. Sepertinya saudara Taufik ini cukup pede dengan keunggulan yang mereka raih saat ini," timpal komentator 2 lagi.


"Yap tapi sepertinya mereka harus mulai berhati-hati karena... OOO lihat pemain dari 10-7 berlari dengan kencang dari sisi kiri melewati satu... duaa... bahkan tiga pemain sekarang. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Apakah ia akan menembak? Ooooo ternyata itu hanya tipuan, kini ia hanya tinggal satu lawan satu dengan kiper lawan... Dann... Gollllllll," teriak komentator 1 melihat gol yang Tomi ciptakan barusan itu.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2