
Tak berselang lama, nenek yang tadi mengobrol dengan ku itu turun dari bus. Tak lupa, sebelum ia pergi meninggalkan bus, ia memberikan salam dan senyuman pada ku. Singgung nenek yang sangat ramah. Aku pun membalas senyumannya itu sambil menganggukkan kepala ku.
Bus kembali melanjutkan perjalanan. Kini, kanan kiri jalan sudah di dominasi tambak dan tumbuhan bakau khas daerah pesisir. Bau-bauan khas lautan sudah mulai tercium. Hanya dengan mencium aroma ini, aku sudah bisa membayangkan betapa asinnya air laut itu.
Pada akhirnya, kami sampai dan turun di sebuah halte dekat pantai. Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Matahari pun sudah tidak terlalu menyengat seperti saat siang tadi. Kami dengan semangat langsung menuju ke pantai yang sudah terlihat dari sini. Sebelum itu, kami terlebih dahulu harus melewati "rintangan" terakhir yaitu menyebrang jalan.
Hana langsung berlari menuju pantai sesaat setelah kita selesai menyebrangi jalan. Seolah tak mau kalah, Ruben pun langsung ikut berlari mengikuti Hana menuju bibir pantai yang dipenuhi pasir itu. Walaupun pasirnya tidak terlalu putih, namun kelihatannya sangat lembut.
Suasana pantai di sore hari ini entah kenapa tidak seramai yang aku bayangkan. Padahal, sekarang adalah hari libur, tapi kenapa pengunjung pantai pada hari ini relatif sepi? Entahlah. Sejujurnya, aku lebih suka pantai yang tidak terlalu ramai seperti itu. Aku sangat bersyukur karenanya.
"Oi kakak cepat ke sini," teriak Hana dari kejauhan sambil melambaikan tangannya ke arah sini. Setelah itu, giliran Ruben yang melambaikan tangannya ke arah kami. Entah kenapa Ruben terlihat sangat klop sekali dengan anak kecil. Mungkin memang karakter Ruben yang memang cocok dengan anak kecil.
"Oi lihat Lang teman mu itu, bikin malu saja. Sudah besar begitu masih bertingkah layaknya anak kecil. Memalukan sekali," gerutu Ahsan.
"Hihihi tapi tidak ada salahnya kan menjadi seperti anak kecil tapi jujur pada diri sendiri, dari pada harus bersikap sok dewasa tapi melukai diri sendiri? Hayo mending mana?" timpal Devi tiba-tiba.
"Betul tuh Dev, aku setuju," timpal Celine.
"Oiiiiii," teriak Ruben yang masih setia melambaikan kedua tangannya.
Tiba-tiba, Ahsan langsung berlari menuju ke arah Ruben. Ahsan yang tadi mengkritik perangai Ruben dan mengatakannya seperti anak kecil, kini malah melakukan hal yang sama seperti Ruben yang notabene baru saja ia kritik itu.
__ADS_1
"Hihihihi pada akhirnya Ahsan jujur juga pada dirinya," ucap Devi sesaat setelah Ahsan berlari.
"Wah rasanya udah lama banget aku gak ke pantai. Kau jadi pingin lari-lari juga," ucap Celine yang juga langsung berlari menuju ke hamparan pasir pantai yang luas itu. Sebelum itu, ia telah mencopot sepatunya dan membawanya dengan tangan kanannya. Celine terlihat begitu senang. Lagi-lagi, senyumannya itu sangat membuat hati ku berdebar.
"Kamu gak ikut lari Lang?" tanya Devi.
"Eh? Engga. Kamu sendiri?" tanya ku yang sedikit terkejut Devi berbicara pada ku.
"Bukan itu maksud ku hihihi," jawab Devi yang membuat ku menjadi bingung.
"Bukan itu maksudnya? Lalu apa?" tanya ku.
"Wah kamu ini memang gak peka orangnya yah... Terlebih lagi kamu juga sepertinya kurang peka terhadap diri mu sendiri hihihi," jawab Devi sambil sedikit tersenyum. Jawabannya itu lagi-lagi tambah membuat ku menjadi bingung.
***
Ombak yang datang dan pergi secara damai, membuat sebuah irama yang membuat hati orang yang mendengarnya menjadi tenang. Deruan ombak yang tenang itu, entah kenapa terlihat seperti sedang mengajak orang yang sedang melihatnya untuk menari.
Hana, Ruben, dan Ahsan kini masih saja berlarian di bibir pantai. Terkadang, kaki-kaki mereka yang sedang telanjang itu, didera ombak yang datang itu. Wajah penuh rasa senang dan wajah yang dipenuhi tawa itu, entah kenapa membuat ku menjadi ikut merasakan senang.
Sementara itu, aku, Celine, Devi, dan Fani lebih memilih untuk duduk santai di pinggiran dan agak jauh dari jangkauan ombak sambil menikmati pemandangan senja ini. Kami Inging menyaksikan secara seksama proses matahari terbenam itu yang biasa disebut sun set itu.
__ADS_1
Rasanya sangat nyaman sekali duduk di pinggir pantai, di atas pasir, sambil menikmati indahnya lukisan alam yang terhampar dengan jelas di hadapan ku ini. Semilir angin yang sangat menyejukkan pun ikut menambah suasana menjadi lebih menentramkan lagi. Aku jadi terbayangkan jika aku terlahir jadi anak pesisir, mungkin aku akan berada di sini setiap sorenya.
"Oi Lang... Kau gak mau ikut bareng kami? Ayolah... Sangat asik loh bermain di antara ombak-ombak kecil ini. Jangan bilang kau takut yah?" teriak Ruben dari kejauhan sana.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Ruben barusan. Aku tidak tahu apakah aku bisa berteriak atau tidak, jadi aku putuskan untuk sekedar tersenyum saja padanya.
"Oiya, ngomong-ngomong kalian bertiga berasal dari SMP yang sama yah?" tiba-tiba Devi bertanya pada ku.
"Maksud mu aku, Ruben, sama Ahsan?" tanya ku. Devi lalu langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Engga, kami tidak satu SMP. Kami baru bertemu saat masuk SMA ini. Cuma Ahsan sama Ruben yang berasal dari sekolah yang sama," jawab ku.
"Oh begitu yah. Aku kira kalian berasal dari satu SMP. Soalnya, kalian terlihat akrab banget," ucap Devi lagi.
Dari Celine, Devi, dan Fani, Fani lah yang paling pendiam. Entah kenapa setiap kali Fani bertemu dengan para lelaki, raut wajahnya menjadi agak jutek dan semacamnya. Ia pun terlihat tida terlalu ramah pada ku. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu, atau mungkin Fani membenci laki-laki yah? Entahlah. Dari tadi dia juga jarang sekali ngomong. Melihat Fani yang selalu diam seperti itu, untuk sesaat mengingatkan ku pada Renaldi saja, hahahaha.
Langit kini semakin gelap. Matahari pun sudah setengah badan berada di ujung cakrawala sana. Devi dan Celine lalu memanggil mereka bertiga yang terlihat masih asik bermain di pasir yang basah itu meskipun langit sudah semakin gelap.
Setelah kami berkumpul, kami pun menyempatkan terlebih dahulu untuk melihat tenggelamnya sang mentari hingga benar-benar tenggelam dan menghilang dari ujung cakrawala itu. Langit yang tadinya tampak bercahaya, kini sudah tampak gelap dan sunyi.
Setelah itu, kami memutuskan untuk mencari makan malam terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk pulang. Kami lalu mampir di salah satu warung yang menyediakan berbagai macam masakan dari laut. Entah kenapa, saat aku mulai mencium aroma masakannya, tiba-tiba saja aku menjadi sangat lapar. Padahal, sebelumnya aku bahkan tidak merasakan lapar sama sekali.
__ADS_1
***
Bersambung