Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 72 : Seindah Bunga Sakura


__ADS_3

Setelah itu, aku pun mengikuti Sofia seperti yang Hana tadi katakan. Hana terlihat menikmati saat sedang membonceng Sofia. Sejujurnya, aku merasa sedikit tidak enak Hana membonceng pada Sofia. Aku takut Sofia merasa repot dengan Hal itu.


"Oi kakak jangan melamun, nanti jatuh lohh," ucap Hana sambil menengok ke arah ku.


"Iyaa, siapa juga yang melamun," balas ku agak keras.


Suasana jalan siang ini masih sama ramainya seperti saat kami berangkat tadi pagi. Kami pun berulang kali harus berhenti karena saking macetnya.


Karena sudah terlalu sering terjebak macet, akhirnya Sofia pun terlihat mengambil jalan ke arah gang-gang kecil. Aku yang berada di belakangnya pun mengikutinya.


Kami lalu melewati area padat penduduk, yang mana jalannya tidak terlalu lebar dan banyak sekali terdapat polisi tidur. Meskipun begitu, itu lebih baik dari pada harus terjebak macet di jalan utama, ditambah lagi cuaca yang sangat panas dan terik seperti ini.


***


Akhirnya kami sampai di tempat makan. Ternyata yang Sofia dan Hana tuju adalah warung seblak yang letaknya dekat dengan warung bakso milik ayahnya Sofia. Ini pertama kalinya aku mampir ke sini.


"Gimana kak?" tanya Hana saat aku baru memarkirkan sepeda ku.


"Gimana apanya?" tanya ku agak bingung.


"Maksudnya kalau kita makan seblak gimana?" tanya Hana lagi.


"Tentu saja gak papa. Lagi pula kita kan juga sudah sampai di sini. Kalau kamu ingin bertanya seharusnya sewaktu kita masih di kolam renang tadi hahaha," aku sedikit tertawa.


"Oh oiya ya hehehehe, maaf-maaf. Sebetulnya Hana pingin liat kakak makan seblak," ucap nya lagi.


"Eh kenapa?" tanya ku agak bingung.


"Gak papa, cuma pingin liat aja hehehe," ucap Hana yang lalu langsung berjalan masuk ke dalam warung.


Sofia yang mendengar percakapan kami pun hanya tersenyum dan lalu mengikuti Hana masuk ke dalam warung. Setelah masuk, kami pun lalu langsung duduk di meja yang paling dekat dengan pintu. Kebetulan meja itu masih kosong. Suasana warung ini pun saat ini terbilang ramai. Saat kami baru masuk tadi, hanya tersisa 2 meja saja yang masih kosong. Di saat kami baru duduk, seorang karyawati pun langsung menghampiri kami.


"Selamat datang... Silahkan dipilih-pilih dulu pesanannya..." tucap karyawati penjaga warung yang mengenakan topi dan seragam itu sambil memberikan daftar menu pada kami bertiga. Seragam dan topinya sama-sama bewarna merah.


"Sebentar ya mbak, aku lagi milih-milih dulu," ucap Hana sambil melihat-lihat gambar di buku daftar makanan.

__ADS_1


"Hehehehe iya dek," karyawati itu hanya tersenyum sambil mengiyakan Hana.


Aku dan Sofia pun lalu sama-sama memilih menu makanan yang akan kami beli. Tak butuh waktu lama untuk ku untuk menentukan menu apa yang akan aku beli. Aku memutuskan untuk membeli seblak isi sosis dan telur.


"Seblak isi sosis, telur, satu ya mbak. Sama minumnya es teh soda aja," ucap ku.


"Oh iya kak, ditunggu dulu sebentar yah," jawab karyawati itu sambil mencatat pesanan ku tadi.


Kemudian Sofia memesan seblak isi telur dan ceker ayam, serta memesan satu gelas es jeruk. Kini, satu-satunya yang belum memesan adalah Hana. Hana masih terlihat bimbang melihat-lihat menu yang satu dengan yang lainnya. Ia sepertinya begitu tertarik dengan berbagai macam gambar menu yang tertera di buku daftar menu tersebut.


"Wah... Aku masih bingung nih kak mau persen yang mana. Semuanya kelihatan enak," ucap Hana sambil masih membolak-balik daftar menu tersebut.


"Yasudah kamu pesen aja semuanya hahaha," ucap ku sambil becanda.


"Beneran kak, aku bingunggg... Kalau menurut kak Sofia, yang paling enak yang mana?" kini Hana bergeser sedikit mendekat ke arah Sofia sambil menunjukkan daftar menu tersebut.


"Kalau menurut kak Sofi semuanya terlihat enak kok. Kalau kamu paling suka sosis, telur, daging ayam, atau sayuran?" tanya Sofia pada Hana.


"Mmmm kalau aku paling suka telur sama ayamm..." ucap Hana.


"Wahh boleh tuhhhh... Yaudah mbak aku jadinya pesen seblak yang isinya telur sama daging ayam," ucap Hana dengan semangat.


"Okee dek, kalau minumnya?" tanya Mbak karyawati itu tadi.


"Mmmm... Es teh aja deh, sama kaya kakak," jawab Hana.


"Baik pesenannya di tunggu dulu ya..." ucap karyawati itu tadi yang kemudian perlahan mulai meninggalkan meja kami sambil membawa daftar menu.


"Makasih ya kak udah mau pergi ke kolam renang bersama Hana," ucap Hana tiba-tiba setelah karyawati tadi pergi.


"Iya, bukan masalah besar kok. Lagi pula kakak juga sudah janji kok," ucap ku menanggapi kalimat Hana tadi.


"Makasih juga buat kak Sofi udah mau makan bareng sekarang hehehehe," ucap Hana sambil tersenyum.


"Kakak juga makasih kok tadi di kolam renang jadi ada temennya," kini giliran Sofia yang tersenyum manis.

__ADS_1


"Hehehehe... Oiya ngomong-ngomong kak Sofi sama kakak satu kelas enggak?" tanya Hana pada Sofia.


"Enggak sekelas, cuma kelas kita bertetanggaan hehehe," jawab Sofia yang masih memasang senyuman manisnya itu.


"Bertetanggaan? Apa maksudnya kak?" tanya Hana lagi yang nampak kebingungan.


"Maksudnya itu kelas kakak sama kelasnya kak Sofia itu bersebelahan," jelas ku.


"Oh begituuu... Berarti kakak sama kak Sofia sering ngobrol dong kalo di sekolah?" tanya Hana lagi penasaran.


Aku dan Sofia tiba-tiba saja terdiam. Kami seakan bingung dan ragu untuk menjawab pertanyaan seperti itu dari Hana.


"Ka-kadang-kadang, kami ngobrol kok hehehe," jawab ku dengan terbata-bata.


"I-iya kami kadang-kadang ngobrol bareng kok," Sofia ikut menjawab dengan terbata-bata.


"Wah asik ya kalau begitu hehehe," ucap Hana lagi sambil tersenyum.


"Ya begitulah hihihi," ucap Sofia sambil tersenyum.


"Senyuman kak Sofia manis banget yah, Hana jadi pengen kalo sudah besar jadi kayak kak Sofia hehehehe," ucap Sofia lagi sambil tersenyum.


"Eh, ta-tapi masih tetap manisan kamu kok Hana," ucap Sofia yang terlihat salah tingkah disebut manis oleh Hana. Ia pun berusaha menutupi perasaannya itu dengan tersenyum.


Hana menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Engga kok, Hana tau kok kalau senyumannya kak Sofia itu lebih manis dari padasiapa pun yang pernah Hana temui. Senyuman milik kak Sofia itu ibarat musim semi yang penuh dengan bunga sakura yang sedang bermekaran."


"Kenapa kamu memakai analogi dari Jepang seperti itu Hana?" tanya ku.


"Soalnya ibu sering sekali memperlihatkan pada Hana indahnya bunga Sakura itu. Kata ibu, bunga Sakura baru akan mekar ketika musim semi," jelas Hana.


"Eh benarkah ibu sering mengatakannya?" tanya ku memastikan.


"Iya tentu saja. Aku kan setiap hari selalu pergi ke toko bunga setelah pulang sekolah. Ibu sering sekali menceritakan pada Hana soal cerita tentang bunga atau tentang apa pun itu. Makanya Hana gak pernah bosen kalau sedang berada di toko bunga. Makanya kakak sekali-kali mampir juga di toko bunga. Ibu pasti akan sangat senang," ucap Hana dengan sedikit tersenyum.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2