
Di saat kami akan sampai di museum Kemerdekaan, tiba-tiba saja kami melihat kerumunan yang sedang berada di sekitar museum Kemerdekaan. Setelah kami cari tahu, ternyata kerumunan itu adalah para kru yang sedang membuat film, lengkap dengan aktor dan artisnya.
"Wah lagi buat shooting nih. Berarti gak bisa masuk nih?" keluh Ahsan.
"Coba biar aku tanya dulu sebentar," Aji lalu langsung bergegas menemui salah satu petugas yang sedang berjaga.
Baru pertama kalinya aku melihat kru yang sedang mengambil gambar seperti ini. Namun kalau kita tidak bisa masuk melihat isi museum, aku mungkin akan merasa cukup kecewa.
Tak lama berselang, Aji pun kembali. Ia lalu mengatakan bahwa kita tidak bisa masuk ke area museum, karena semua area di situ sedang digunakan untuk shooting.
Setelah mendengar akan hal itu, aku merasa kecewa. Bahkan, Ahsan dan Ruben pun terlihat kecewa.
"Haaa? Apa-apaan tuh? Wah berarti kita sia-sia dong nih datang ke sini?" gerutu Ahsan.
"Mau bagaimana lagi," ucap Aji.
Di saat kami terlihat kecewa dan semacamnya, Renaldi masih bersikap seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang serius. Dia masih saja diam dan tak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Terus sekarang gimana dong? Apa kita mau langsung pulang setelah sudah jauh-jauh datang ke sini?" tanya Ruben.
"Wah aku sih ga rela kalau kita langsung pulang begitu," ucap Ahsan.
"Lebih baik kita pikirkan saja dulu. Ayo kita cari tempat untuk istirahat sambil memikirkan apa yang akan kita lakukan selanjutnya," ajak Aji.
Kami setuju dengan ajakan Aji untuk mencari tempat untuk istirahat terlebih dahulu. Kami pun lalu mulai berjalan mencari tempat yang bisa kami gunakan untuk istirahat dan berpikir.
Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan tempat yang sepertinya nyaman untuk beristirahat. Sebuah warung kecil yang terbuat dari anyaman bambu, dan tersedia meja serta kursi yang agak panjang. Meskipun warung tradisional, akan tetapi tempatnya sejuk karena dibawah pohon dan juga bersih.
"Silahkan dek, mau pesan apa?" tanya ibu pemilik warung.
Kami pun lalu memesan minuman kami masing-masing. Karena lumayan lapar, kami juga memesan mis instan untuk makanannya.
__ADS_1
"Sial banget kita hari ini. Sudah jauh-jauh datang kesini, tapi malah gak bisa masuk," gerutu Ruben.
"Iya nich, gak asik banget," tambah Ahsan.
"Padahal aku lagi bersemangat banget lo buat liat museumnya," ucap Aji menambahi keluh kesah.
"Mungkin kita bisa ke sini lagi lain waktu," ucap ku mencoba untuk memperbaiki suasana.
"Tapi tetap saja ada bagian di dalam hati ku ini yang tidak bisa menerimanya begitu saja," ucap Ruben lagi.
"Hahahah, kenapa kau malah jadi puitis begitu Ben," ucap Ahsan.
"Kenapa kau baru tahu?" tanya Ruben.
"Ngomong-ngomong setelah ini kita mau langsung pulang atau kemana nih?" tanya Aji.
"Iya yah. Kalau kita langsung pulang rasanya sayang banget sudah jauh-jauh ke sini, tapi kalau tidak langsung pulang kita mau kemana? Lagi pula sekarang sudah hampir jam 5," ucap Ahsan
"Mending kita tanya ibunya aja gimana?" usul Aji.
"Cihhh. Kalau urusan begini saja, pasti aku yang kena," gumam Ruben.
"Sudah lah, kau kan yang paling dekat dengan ibunya. Tinggal berbalik saja lalu tanya," ucap Ahsan lagi.
Ruben pun lalu berbalik ke hadapan ibu penjaga warung kemudian bertanya, "Permisi bu, kalau tempat yang menarik di sekitar sini selain museum Kemerdekaan dimana ya bu? Ada gak?"
Ibu warung yang sedang sibuk memasak mie instan pesanan kami itu pun lalu berhenti sejenak dan berbalik menghadap Ruben. Ibu itu lalu berkata, "Woh kalo tempat yang menarik untuk anak muda seperti kalian lumayan banyak dek."
"Beneran bu? Tempat apa aja tuh? Jauh ga dari sini?" tanya Ruben lagi.
"Kalau yang paling dekat dari sini sih, taman Sunset," ucap Ibu itu lagi sambil sesekali memeriksa rebusan mie instan di belakangnya.
__ADS_1
"Kalau dari sini arahnya kemana bu?" tanya Ruben lagi.
"Dari sini kalian tinggal jalan saja ke arah barat sekitar satu km aja, nanti di sekitar situ akan ada plakat penunjuk arah menuju ke taman Sunset itu," jelas ibu itu yang kini kembali lagi ke depan kompornya untuk memutuskan rebusan mie instan yang sepertinya sudah matang.
"Dari namanya sepertinya menarik, pasti kita bisa lihat sunset dari situ," ucap Ahsan.
"Sepertinya begitu, tidak ada salahnya kita mencoba. Dari pada harus pulang lagi tanpa dapat apa-apa," ucap Aji.
"Wah makasih infonya bu," ucap Ruben.
Setelah itu, pesanan kami pun datang. Dari kelima orang di sini, cuma aku yang memesan mie instan rebus, sementara yang lainnya lebih memilih mie instan goreng. Sementara untuk minumannya aku memilih untuk membeli es teh saja.
***
Setelah selesai memakan makanan pesanan kami tadi, kami langsung bergegas berjalan menuju ke taman Sunset. Saat ini, waktu menunjukkan pukul 17.08. Mungkin kami akan sampai di sana tepat sebelum matahari tenggelam. Untuk itu, kami pun berjalan dengan agak cepat kali ini agar sampai tepat waktu.
Setelah berjalan sekitar 12 menit, kami pun sudah bisa melihat plakat jalan menuju taman Sunset. Di plakat tersebut tertulis taman Sunset sekitar 150 meter lagi dari jalan utama tempat kami berdiri sekarang ini. Kami pun sudah tidak sabar lagi untuk sampai ke sana.
Beruntung, kami sampai tepat waktu ke taman Sunset ini. Taman yang langsung menghadap ke barat tempat matahari tenggelam ini sungguh menakjubkan. Tebing curam dan cukup dalam di hadapan kami, seakan memudahkan kami untuk melihat langsung detik-detik matahari akan tenggelam di balik pegunungan di depan sana.
"Wah keren banget nih, untuk kita tepat waktu hahaha," ucap Aji.
"Kalau ke tempat kaya gini jadi kepikiran Agung hahahaha," ucap Ahsan sambil tertawa.
"Kalau Agung ikut, pasti ia sekarang sudah buat puisi sambil minum kopi hitam pahit hahahaha," tambah Ruben.
Suasana di tempat ini tidak lah terlalu ramai. Mungkin karena letaknya yang berada jauh dari pusat kota masih belum terlalu banyak diketahui oleh masyarakat.
Kini, matahari perlahan-lahan mulai tenggelam. Langit yang bewarna sangat jingga itu, seakan mengucapkan " sampai jumpa esok" kepada sang matahari. Perlahan-lahan langit yang jingga itu pun berubah menjadi gelap. kini, suara serangga sudah mulai terdengar. Beberapa kunang-kunang pun kini mulai terlihat di sekitar area ini.
Meskipun kami tidak bisa mengunjungi museum Kemerdekaan, akan tetapi kami malah menemukan tempat yang sangat indah yang sebelumnya kami tidak tahu. Aku tidak tahu kami ini beruntung atau tidak. Yang jelas, aku sangat bersyukur bisa mengunjungi tempat ini bersama teman-teman ku.
__ADS_1
***
Bersambung