
Suara ketokan pintu pagi ini membangunkan ku. Saat aku membuka mata ku, aku melihat bahwa diluar jendela sana, matahari sudah terbit cukup tinggi. Semalam, aku lupa menutup gorden ku jadi aku langsung bisa melihat keadaan diluar jendela dari kasur.
Suara ketokan itu masih belum berhenti. Dari irama ketikannya, aku bisa menduga bahwa yang ada di balik pintu itu adalah Hana.
"Iyaa, sebentar," ucap ku yang langsung menuju pintu untuk membukanya.
Ceklek. Bunyi kunci pintu yang terbuka. Benar saja, saat aku membuka pintunya, Hana sudah berdiri di depan pintu dengan muka yang agak kecut.
"Ada apa Hana? Kenapa muka Hana kecut sekali?" tanya ku sambil sesekali menguap.
"Kakak habis ngapain sih? Kenapa bangunnya siang banget kayak gini?" ucap Hana masih dengan raut wajah yang jutek.
"Kakak semalem rasanya capek banget. Emang sekarang jam berapa?" tanya ku.
"Jam setengah 9 kakkk," ucap Hana dengan nada yang agak tinggi.
"Eh beneran?" jawab ku.
"Iyalah beneran, masa Hana bohong. Ya sudah kakak sarapan dulu sana," ucap Hana yang lalu turun ke bawah.
Aku tidak langsung turun kebawah untuk sarapan. Aku terlebih dahulu merapikan tempat tidur ku. Setelah itu, aku langsung ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.
***
Setelah selesai sarapan, aku kembali lagi ke kamar ku. Karena sudah cukup lama tidak membaca novel, aku pun berencana untuk menghabiskan waktu dengan membaca novel saja. Lagi pula hari ini aku tidak memiliki janji dengan siapa pun.
Sebelum mulai membaca novel, terlebih dahulu aku sudah membawa "bekal", yaitu secangkir cokelat panas dan beberapa makanan kecil. Hari ini novel yang aku baca adalah sebuah novel fiksi yang berjudul "Kesatria Bulan". Ini adalah novel yang aku baru beli, jadi ini adalah pertama kalinya aku membacanya dari awal.
***
Tanpa terasa, waktu kini sudah menunjukkan pukul 11.30. Sudah hampir 2 jam aku membaca novel ini secara terus-terusan. Entah kenapa, novel yang aku baca ini agak berbeda dari novel-novel yang sudah aku baca sebelumnya. Bahasa yang sederhana, penggambaran yang mudah dipahami, segalanya terasa menarik dan benar-benar baru.
Rasanya begitu sayang jika aku harus cepat-cepat membacanya dan menghabiskan halamannya. Sepertinya aku akan lebih menikmati novel yang sangat menarik ini dengan cara membaca dengan perlahan dan tidak terlalu terburu-buru.
Sudah siang, dan juga sudah masuk jam makan siang. Seperti biasa, ibu dan Hana saat ini sedang berada di toko yang selalu buka setiap hari itu.
Karena uang saku ku sudah habis dan aku lupa untuk meminta pada ibu, aku pun berencana untuk pergi toko bunga untuk meminta uang untuk ku makan siang. Sepertinya ibu juga belum menyiapkan makan siang di rumah.
***
__ADS_1
Sesampainya di toko bunga, aku sedikit terkejut. Salah satu dari pengunjung toko ternyata adalah orang yang aku kenal, yaitu Celine.
"Eh Galang?" ucap Celine saat menyadari kehadiran ku.
"Eh Celine... Lagi beli apa Lin?" tanya ku.
"Ini lagi beli bunga buat di tanam di rumah. Kamu sendiri mau beli bunga?" tanyanya balik.
"Engga, engga. Aku ke sini mau ketemu ibu ku," jawab ku.
"Ibu mu? Ibu mu juga lagi belanja di sini? Yang mana Lang?" tanya nya sambil menoleh ke kanan, kiri, dan belakang.
"Bukan, gimana ya jelasinnya," jawab ku.
"Eh itu kakak bu... kebetulan sekali..." tiba-tiba Hana berlari dari arah selatan jalan sambil membawa sebuah kantong plastik yang cukup besar.
"Jangan lari-lari Hana, nanti jatuh," teriak ibu.
"Engggaa," Hana seakan tidak mengindahkan ucapan ibu barusan dan tetap berlari ke arah ku.
"Wah kebetulan sekali kakak di sini," ucap Hana setelah berada di hadapan ku.
"Habis beli makanan. Kebetulan kakak di sini jadi Hana gak perlu repot-repot nganterin ke rumah hehehe. Hallo kak..." ucap Hana yang juga menyapa Celine yang juga berada di hadapan ku.
"Hallooo... Namanya siapa?" sapa balik Celine.
"Hana kak. Kakak temennya kak Galang yah?" tanya Hana.
"Wah Hana yah. Cantik banget namanya. Iya kakak temennya kak Galang," jawab Celine dengan senyum manis dari wajahnya.
"Wah kakak cantik banget..." ucap Hana polos.
"Eh ada temennya Galang yah?" ucap ibu saat baru sampai di hadapan kami.
"Iya tante hehehe," jawab Celine yang masih memasang senyuman.
"Mau beli bunga apa?" tanya ibu dengan ramah.
"Mau beli bunga matahari tante," jawab Celine.
__ADS_1
"Oh bunga matahari yah, sudah milih?" tanya ibu ku.
"Belum tante. Tadi pas baru dateng tiba-tiba Galang juga dateng. Jadi belum sempet milih deh," jawab Celine.
"Oh begitu ya... Oiya kenalin, tante ini ibunya Galang. Nama kamu tadi siapa?" tanya ibu lagi.
"Celine tante," jawab Celine.
"Oh Celine... Satu kelas sama Galang?" tanya ibu lagi.
"Engga tante. Aku sama Galang beda kelas. Aku sama Galang juga baru kenal pas festival sekolah kemaren, belum lama hehehe," jawab Celine.
"Oh gitu, kemaren juga banyak temennya Galang yang dateng ke sini. Tante seneng kalau Galang banyak temennya. Ya sudah ayo mari biar tante temenin milih bunga mataharinya," ucap ibu.
"Oh iya tante makasih," jawab Celine.
"Kalau begitu aku mau kembali ke rumah dulu ya Lin," ucap ku yang kini sudah menerima kantong plastik yang berisi makanan dari Hana tadi.
"Oh iya lang," ucap Celine yang lalu mengikuti ibu ku untuk mulai memilih bibit bunga matahari.
***
Malam hari sekitar pukul 20.30. Saat ini, langit sedang menangis. Bulan pun sepertinya masih malu untuk menampakkan dirinya bersama bintang. Atau mungkin, bintang yang terlalu egois sehingga tidak mau berbagi tempat dengan bulan? Entahlah.
"Kak, jangan lupa gorden jendelanya nanti di tutup," ucap Hana dari balik pintu kamar ku.
"Iyaa... Ini juga udah di tutup kok," jawab ku.
"Ya sudah..." balas Hana lalu terdengar langkah kakinya yang semakin menjauh dari sini.
Aku sebenarnya juga tidak habis pikir kenapa bisa-bisa aku lupa untuk menutup gorden kamar ku yah? Untung saja, aku sudah mematikan lampu kamar, kalau tidak, seisi ruang kamar ku ini tentu akan menjadi tontonan dari luar. Ya meskipun belum tentu juga ada yang melihatnya karena itu terjadi dari tengah malam hingga pagi hari.
Hujan saat ini turun dengan cukup lebat. Angin juga bertiup cukup kencang. Alam semakin menunjukkan ketidakpastiannya.
Seperti isi hati wanita yang tidak ada yang bisa tahu, datang musim kemarau atau musim hujan pun demikian. Selalu berubah-ubah dan selalu memberikan hal yang tak terduga. Terkadang hal itu berdampak baik untuk mu, terkadang juga sebaliknya. Kita, tidak ada yang pernah tahu dengan pasti akan hal itu.
***
Bersambung.
__ADS_1