
"Oi Lang, mau ikut kami gak?" Ruben memanggil ku dari arah belakang. Seperti biasa, di sampingnya sudah ada Ahsan.
"Memangnya kalian mau pergi kemana?" aku berbalik ke arah mereka.
"Kami mau makan di tempat ayahnya Sofia nih, gimana? Mau ikut?" tanya Ruben lagi yang kini sudah berada persis di samping ku.
Aku berpikir sejenak sebelum memutuskan apakah aku akan ikut atau tidak. Sebenarnya, aku sedang tidak merasa ingin makan sesuatu kaki ini, hanya saja entah kenapa jika aku menolak, rasanya sedikit tidak enak pada mereka berdua.
"Kenapa muka mu serius sekali seperti itu? Seperti sedang ulangan Matematika saja hahahaha," Ruben tertawa melihat raut wajah ku yang serius ini.
"Eh benarkah?" aku tidak menyadari kalau muka ku berubah menjadi serius tadi.
"Jadi... Mau ikut atau tidak?" tanya Ruben lagi.
"Ya sudah, aku ikut aja," aku akhirnya memutuskan untuk ikut bersama mereka.
"Hahaha gitu aja lama banget kau mikirnya. Memangnya ada yang sedang mengganggu pikiran mu?" tanya Ruben sambil merangkul ku.
"Engga... Engga papa... Aku hanya sedikit ragu tadi," jawab ku.
Kami bertiga pun mulai berjalan menuju ke tempat warung bakso milik ayah Sofia. Seperti biasa, Ahsan kali ini harus menuntun sepeda miliknya dan berjalan kaki bersama kami.
"Kira-kira besok kelas kita bakal menang enggak ya?" Ahsan berandai-andai.
"Yaaa tentu saja hahahaha. Aku yakin kita akan menyapu bersih semua cabang olahraga dan menjadi juara umum. Serahkan saja semua urusan pada manager Ruben ini hahaha," Ruben terlihat sangat optimis dan sangat percaya diri.
"Apa-apaan tuch? Yang ada malah nanti semuanya berantakan hahahaha," seperti biasa, Ahsan selalu menentang dengan apa yang Ruben katakan.
"Haaa? Kau tidak percaya pada ku? Kalau begitu biar aku buktikan besok... Mungkin kau akan langsung menyesal setelah melihat hasilnya..." ucap Ruben dengan percaya diri.
"Memangnya kau tahu arti dari manager itu sendiri?" tanya Ahsan sinis.
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu... Aku kan selalu melihat dan mengikuti perkembangan sepak bola luar negri. Yang namanya manager itu pasti orang yang mengatur strategi dari sebuah tim," jelas Ruben.
"Ya kurang lebihnya memang seperti itu, tapi apakah otak mu yang kecil itu sanggup memikirkan strategi untuk kelas kita? Untuk memikirkan diri mu sendiri saja kau masih salah arah, apa lagi ini memikirkan kepentingan orang banyak. Mau dibawa kemana kelas kita haaa?" balas Ahsan.
"Pokoknya lihat saja besokkk," jawab Ruben cuek.
"Lagi pula, siapa juga yang akan mengizinkan mu untuk menjadi manager kelas kita?" tanya Ahsan lagi.
"Tentu saja aku akan bilang pada semuanya besok saat rapat yang kedua. Aku akan membuat mereka mempercayai ku dengan segenap hati mereka," ujar Ruben percaya diri.
"Yang jelas, jika semua orang di kelas kita sudah percaya pada mu, maka aku akan menjadi satu-satunya orang yang tidak akan pernah percaya pada mu hahahaha," Ahsan tertawa lepas.
"Cihhhhh. Sialan kau," timpal Ruben.
Tak terasa, kini kami sudah berada di depan toko bakso milik ayah Sofia. Suasana warung ini saat ini sangatlah sepi. Bahkan tidak ada orang selain kami yang berkunjung. Semua kursi dan meja terlihat kosong tak bertuan. Mungkin karena sekarang waktu orang-orang untuk kembali ke rumah, jadi warung ini sepi. Mungkin nanti setelah gelap akan banyak pelanggan yang akan berkunjung lagi.
"Kau pesan apa Lang?" tanya Ruben.
"Kalau aku mie ayam sama es jeruk Ben," ucap Ahsan tanpa perlu ditanya. Ia pun lalu langsung duduk di sebelah ku sesaat setelah mengatakan hal tersebut.
"Cihhh. Siapa juga yang tanya pada mu," ucap Ruben sinis pada Ahsan.
"Sudah lah, tak perlu mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu. Kau mau pesan kan? Sekalian saja punya ku juga hahaha," Ahsan tertawa.
"Cihhh..." ucap Ruben sambil menatap sinis Ahsan. Ruben pun lalu langsung menuju ke ayah Sofia untuk memesan makanan dan minumannya.
***
Tak berselang lama, salah seorang karyawan warung pun datang dan membawakan makanan pesanan kami yaitu 2 mangkuk bakso, dan 1 mangkuk mie ayam milik Ahsan. Tak ketinggalan 2 gelas es teh untuk ku dan Ruben, serta satu gelas es jeruk untuk Ahsan.
Setelah selesai meletakkan makanan di meja kami, karyawan itu tadi pun langsung bergegas kembali ke belakang. Ruben dan Ahsan yang terlihat sangat lapar langsung mulai "meracik" makanan mereka masing-masing supaya rasanya lebih cetar. Ruben dan Ahsan sama-sama terlihat sedang menuangkan kecap, sambal, dan saos ke dalam mangkuk mereka masing-masing. Ahsan yang memang gemar makan pedas itu, menambahkan sambal dan saos dalam jumlah yang relatif banyak.
__ADS_1
Sementara itu, aku menuangkan semua itu tadi dengan perlahan dan sedikit. Tak ketinggalan, aku selalu menambahkan cukup banyak cuka ke dalam mangkuk bakso ku.
"Oiya, ngomong-ngomong bagaimana kalau kita akhir pekan nanti latihan futsal? Di hari Sabtu atau Minggu?" tanya Ruben sambil meniup-niup bakso yang sedang berada di sendoknya itu.
"Boleh, tapi mau latihan lawan siapa?" tanya Ruben.
"Kalau itu soal gampang. Nanti aku carikan lawan," kini ia menelan bakso yang tadi habis ditiup-tiupnya itu.
"Kau sudah bilang pada yang lainnya belum" tanya Ahsan lagi.
"Belum sih. Nanti setelah selesai makan, aku akan bertanya di grup WA," jawab Ruben yang kini telah menyendok bakso dari mangkuknya lagi.
"puihhhh kok pahit kecut begini es jeruk ku?" ucap Ahsan sambil memasang ekspresi yang tak enak di wajahnya.
"Hahahahahaaha kenapa kau San? Ada yang salah dengan es jeruknya?" Ruben langsung tertawa dengan lepasnya.
"Ini pasti ada hubungannya dengan mu kan? Kau apakan minuman ku ini? Kok rasanya kecut dan pahit begini?" tanya Ahsan menuduh Ruben.
"Aku tidak melakukan apa pun terhadap minuman mu. Coba kau ingat-ingat lagi tadi kau memesan apa?" tanya Ruben balik.
"Tentu saja aku memesan es jeruk," jawab Ahsan cepat.
"Nah itu yang barusan kau minum itu apa?" tanya Ruben lagi.
"Ini es jeruk tapi tidak manis," jawab Ahsan sambil menyodorkan gelas minumannya itu ke hadapan Ruben.
"Tadi kan kau cuma pesan es jeruk kan? Makanya tadi aku bilang ke ayah Sofia kalau es jeruknya itu tidak usah dikasih gula. Kan kau cuma pesan es jeruk jadi ga perlu pake gula kan? Hahahaha," kini terjawab sudah kenapa es jeruk milik Ahsan rasanya masam dan sedikit pahit seperti yang ia ungkapkan tadi.
"Dasar sialan... Tunggu pembalasan ku yah," ucap Ahsan yang lalu pergi menuju ke depan lagi untuk memesan minumannya lagi. Mungkin Ahsan tidak kuat menahan rasa masam dari es jeruk yang tidak dikasih gula itu.
***
__ADS_1
Bersambung